
"Sayang, ayo kita ketinggalan sarapan." Ucap Akifa.
"Tidak mau, kamu tidak memberikan ku jatah tadi malam." Kata Verrel.
"Sayang, ayo atau malam ini tidak ada jatah lagi." Ancam Akifa.
"Kamu mengancam ku." Verrel berjalan mendekati Akifa dengan wajah yang benar-benar berubah 180 derajat.
"Sayang." Akifa berjalan mundur, ia lupa jika Verrel tidak suka di ancam, di bantah dan lainnya.
"Kamu mengancam ku." Tanya Verrel dengan nada yang menekan.
"Tidak sayang, aku hanya bercanda." Akifa berusaha tersenyum pada Verrel.
"Kamu berani mengancam ku." Verrel terus mendekati Akifa sampai Akifa tidak bisa lagi bergerak ke belakang karena sudah menempel di dinding.
Akifa memejamkan mata nya, saat Verrel sudah tepat berada di depan nya, ia sudah dapat merasakan nafas Verrel yang bergerak di atas kulit nya. Dari leher naik ke atas sampai tepat di depan
hidung nya.
"Maaf sayang." Ucap Akifa.
"Kamu tau apa yang tidak ku suka." Tanya Verrel.
"Iya sayang, maaf kan aku." Jawab Akifa.
"Cup." Verrel mengecup bibir Akifa.
"Ayo sayang kita makan, sudah selesai drama hya." Ucap Verrel.
__ADS_1
"Sayang, kamu." Akifa menutup mulut nya karena Verrel sukses membuat nya ketakutan.
"Aku hanya bercanda, latihan drama man atau aku bisa menjadi seorang aktor." Ucap Verrel.
Verrel tidak menyangka jika Akifa masih sangat takut dengan nya, dan ia tetap akan mempertahankan hal itu. Ia tidak ingin karena sikap nya yang sangat baik pada Akifa membuat Akifa lancang pada nya.
Berbeda dengan pasangan Verrel dan Akifa. Pasangan Dylan dan Lia masih tidur dengan lelap nya. Ntah apa yang merasuki Dylan sampai tangan nya berani berada di atas perut Lia.
"Tangan." Batin Lia saat memegang tangan Dylan berada di atas perutnya.
"Dylan." Lia mencampakkan tangan Dylan.
"Lia." Teriak Dylan.
"Jangan salahkan aku, tangan mu berada di Tas perut ku." Kata Lia.
"Hanya di atas perut mu, jika aku mau aku bisa membuat mu hamil." Ucap Dylan.
"Iya iya maaf." Kata Dylan.
Satu persatu setiap orang di rumah ini memenuhi ruangan makan untuk sarapan pagi seperti biasa nya. Ini hari pertama bagi Lia makan secara bersama dengan keluarga besar Dylan. Ia benar-benar canggung karena ia berpikir diri nya tidak pantas berada di keluarga besar ini. mengingat diri nya berasal dari keluarga kalangan bawa.
"Nikmati saja, tidak akan ada yang memakan mu." Bisik Dylan.
"Bagaimana malam pertama mu." Bisik Verrel.
"Diam Verrel, aku masih marah dengan mu, mita harus bicara setelah ini."
"Ayo Alana, kita berangkat. Hari pertama mu di kantor tidak boleh terlambat." Ucap Adit.
__ADS_1
"Iya pah." Kata Alana.
"Lihat adik mu Verrel, dia sudah mau masuk ke dalam kantor." Ujar Alvaro.
"Ayah, aku masih fokus dengan pencetakan cucu untuk mu, jadi aku tidak bisa masuk ke dalam kantor." Kata Verrel.
"Oww baik lah, ayah kasih waktu 3 bulan, dan kau harus sudah bisa berkembang biak." Ucap Alvaro.
"Baik ya, tunggu saja aku akan segera berkembang biak."
"Jangan meras aneh, mereka berdua memang seperti itu, tidak ada rasa malu." Bisik Dylan.
Setelah sarapan selesai, mereka semua melanjutkan aktifitas mereka masing-masing, begitu juga dengan Lia yang hanya bisa mengikuti kemana pun suami nya pergi, jika di rumah ia tidak tau harus berbuat apa.
"Kita mau kemana Dylan." Tanya Lia.
"Berhenti memanggil nama ku, panggil aku seperti kayak nya kita sepasang suami-istri. Jika keluarga ku mendengar kau memanggil ku dengan sebutan nama itu terdengar sangat tidak sopan." Ucap Dylan.
"Kita mau kemana mas." Tanya Lia.
"Mas, itu cukup baik." Jawab Dylan.
"Oh iya kita akan pergi, ke restoran ku." Kata Dylan.
"Oww, aku akan bekerja di sana? "
"Tidak bodoh, kau istri ku buat apa kau bekerja di sana." Ujar Dylan.
Sementara itu Alana sudah mulai bekerja di tempat kantor Efron grup. Alana masuk ke devisi keuangan sesuai dengan keinginan nya. Ia merahasiakan identitas nya sebagai anggota keluarga Efron, ia tidak ingin orang di sekitar nya takut dengan nya.
__ADS_1
"Aww." Ucap Alana saat tak sengaja menabrak seseorang.
"Punya mata di pakai, kau lihat berkas ku berserakan."