
"Yah satu gelas." Ucap Verrel yang sangat tidak tahan melihat Alvaro dengan bebas nya menengguk minuman itu.
"Iya itu soda untuk mu." Kata Alvaro.
"Ayah satu gelas saja, istri ku sudah hamil yah tidak ada yang perlu di takutkan lagi." Kata Verrel.
"Ya ya ya." Alvaro terpaksa menuruti keinginan Verrel.
Tengah malam mereka berdua baru pulang ke rumah, dan seperti biasa nya Verrel pulang dengan keadaan mabuk. Padahal ia minum hanya sedikit.
"Sudah aku bilang, jangan minum kau tidak tahan dengan Alkohol." Ucap Alvaro.
"Ayah antar kan aku ke kamar, aku ingin meminta jatah istri ku."
"Kau gila tidak boleh, istri mu sedang hamil." Alvaro membawa Verrel ke kamar yang lainnya.
Beberapa hari telah berlalu, Verrel sudah tidak pernah keluar rumah lagi semenjak kejadian kemarin, ia takut orang yang mengikuti nya akan membahayakan istri nya.
Hari ini Dylan akan di jadikan tumbal oleh Vano dan yang lainnya agar orang yang mencelakai Dylan kemarin dapat tertangkap dengan cepat.
"Kalian benar-benar jahat, aku kalian jadikan tumbal jika aku mati bagaimana." Ucap Dylan.
"Tidak papa, aku dapat membuat anak lagi." Kata Vano.
Dylan membawa mobil nya berkeliling di tempat-tempat yang sepi, karena mereka yakin orang itu akan kembali berulah saat Dylan keluar dari rumah.
"Kepala ku." Dylan merasakan sakit di kepala nya, ia menghentikan mobil nya sejenak, perlahan Dylan mengingat saat kejadian dia masuk ke dalam sungai.
"Aku mulai mengingat nya." Ucap Dylan.
"Tapi percuma saja aku mengingat nya, aku tidak tau siapa pelakunya." Dylan kembali melajukan mobil nya.
__ADS_1
"Sttttttt." Dylan menghentikan kembali mobil nya secara mendadak saat beberapa mobil berhenti di depan nya.
"Mampus aku." Ucap Dylan dan langsung memberikan kode pada Alvaro dan yang lainnya agar mendekat.
"Kita berangkat Sekarang." Ucap Vano.
Mereka langsung pergi menyusul Dylan sebelum Dylan mati konyol.
Sementara itu Dylan benar-benar sangat ketakutan bukan hanya satu dua orang yang keluar dari mobil di depan nya, kurang lebih ada 10 orang berjalan mendekati mobil nya.
"Papah lama sekali, aku bisa mati." Ucap Dylan.
"Dylan keluar." Teriak Rico.
"Dylan keluar atau akan ku hancur kan mobil mu." Rico menghancurkan spion mobil Dylan.
"Dia siapa, kenapa dia tau nama ku." Batin Dylan.
Dylan memberanikan diri nya untuk keluar dari mobil, saat kaki nya mulai keluar dari mobil tiba-tiba Vano berteriak agar Dylan kembali masuk.
"Dylan mundur kan mobil mu." Teriak Vano.
Sontak Dylan kembali masuk dan langsung memundurkan mobil nya, Rico dan pasukan nya sangat terkejut melihat rombongan Vano datang.
Tanpa persiapan yang matang Rico dan pasukan nya melawan pasukan dari Vano yang jumlahnya dua kali lipat dari mereka. Vano yang sudah sangat marah pada Rico tanpa pikir panjang langsung mengarahkan tembakan ke arah Rico sampai Rico terpental.
"Papah." Ucap Dylan.
Setelah pasukan Rico kalah telak, mereka semua berjalan mendekati Rico yang tergeletak di jalan.
"Kau yang membuat anak ku kecelakaan." Ucap Vano.
__ADS_1
"Harus nya dia mati dalam kecelakaan itu." Teriak Rico.
Vano yang mendengar itu kembali menembak Rico sampai Rico mati mengenaskan.
"Papah, dia mati." Ucap Dylan.
"Itu hukuman untuk nya, kalian semua bereskan semua mayat ini." Kata Vano.
"Tumben kau seperti ini." Ucap Alvaro.
"Dia sudah kelewatan, aku sudah tidak bisa memaafkan nya lagi." Kata Vano.
Setelah semua selesai mereka kembali pulang ke rumah, Dylan masih seperti orang keheranan melihat papah nya membunuh seseorang tanpa rasa bersalah.
"Kau terluka." Tanya Vano.
"Tidak pah." Jawab Dylan.
"Masuk lah ke dalam kamar mu." Ucap Vano.
Dylan masuk ke dalam kamar nya menghampiri Lia yang sedang berbaring mengusap perut nya.
"Sayang, bagaimana apa kamu sudah tau siapa yang menyebabkan kecelakaan kamu." Tanya Lia.
"Sudah sayang, dia sudah mati. Nama nya siapa ya.. Rico." Jawab Dylan.
"Rico, Rico yang menyebabkan ini semua." Tanya Lia.
"Iya sayang aku tidak mengenal nya, kamu mengenal nya sayang."
"Dia sepupu ku sayang, orang yang suka pada ku." Ucap Lia.
__ADS_1
"Bagus lah dia mati, aku sangat tidak suka ada pria lain yang suka pada istri ku." Kata Dylan