
Sore hari nya sesuai dengan apa yang di katakan Rakha mereka berdua pulang lebih awal. Mereka pulang lebih awal karena harus bersiap-siap terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Stefan.
"Sayang kan Sore nya masih cukup lama, kita olahraga dulu yuk," kata Rakha.
"Kamu ada-ada saja mas, sudah sore kok. Mana ada waktu lagi," ucap Vivi.
"Halah bilang saja kamu takut," kata Rakha.
"Hahaha iya si aku cukup takut si. Ya sudah mandi sana, jangan banyak berbicara nanti kita tidak jadi pergi lagi," ucap Vivi.
"Mandi bersama lebih mempersingkat waktu."
"Mana ada seperti itu, kamu nanti nakal aku juga harus menyiapkan keperluan kamu dan keperluan ku sendiri," kata Vivi.
Vano berjalan masuk ke dalam kamar Vano, ia ingin mengajak Rakha ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan anak ya.
"Aku masuk," ucap Vano.
"Iya kek masuk lah," teriak Rakha.
"Kalian sedang sibuk," tanya Vano.
"Tidak kek, kenapa emang nya?"
"Ikut ke rumah sakit yok, kalian bisa memeriksa kesuburan agar bisa cepat hamil," kata Vano.
"Untuk apa kakek ke rumah sakit, aku rasa aku dan Vivi tidak perlu melakukan hal itu."
__ADS_1
"Aku ingin memeriksakan kandungan Anita. semenjak kehamilan nya aku belum pernah memeriksa kan nya," kata Vano.
"Aku si sebenarnya ingin ikut tapi aku sudah ada janji dengan orang lain," ucap Rakha.
"Tadi kata mu tidak sibuk, hadeh ya sudah aku pergi dulu." Vano pergi meninggalkan kamar mereka berdua.
"Aku salut dengan kakek sudah cukup tua masih saja bisa membuat anak, cepat sekali lagi prosesnya," kata Vivi.
"Ya bisa lah sayang, selagi tongkat masih bisa berdiri tidak ada yang aneh," ucap Rakha.
Sebelum Rakha malah membahas ke yang lainnya. Vivi memutuskan masuk ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian mereka.
Alice dan Stefan sudah berada di hotel. Mereka berdua masih santai-satai menunggu waktu untuk bertemu dengan Rakha. Alice masih bingung dengan diri nya, ia seperti wanita yang tidak memiliki tujuan.
"Sebenarnya apa si tujuan ku," kata Alice.
"Iya," kata Alice.
"Aku ingin kamu bahagia, jadi aku ingin membuat Rakha kembali ke dalam pelukan mu," ucap Stefan.
"Tapi kalau Rakha tidak mau bagaimana," tanya Alice.
"Tidak mungkin dia tidak mau, pasti dia berpikir ulang menolak mu. Sudah jangan banyak berpikir aku ada di samping mu kalau dia menolak mu," jawab Stefan.
Waktu yang mereka tunggu sudah tiba Alice dan Stefan langsung pergi ke tempat pertemuan. Berbeda dengan Rakha dan Vivi yang masih bersiap-siap. Rakha ingin membuat Vivi tidak tersaingi dengan kecantikan Alice. Alice memang sangat cantik, ia tidak bisa menolak akan hal
itu. Tetapi ntah kenapa Vivi memiliki sisi kecantikan yang tidak Alice miliki. Dengan demikian Stefan tidak akan menghina dan membandingkan Alice dengan Vivi.
__ADS_1
"Sudah siap sayang," tanya Rakha.
"Sudah," jawab Vivi.
"Sayang aku tidak pernah memakai perhiasan mewah seperti ini, pakaian yang aku gunakan juga terlalu wah," kata Vivi.
"Tidak papa, kamu bisa memakai hak tinggi kan?"
"Bisa sayang, aku kan pendek jadi aku sudah biasa memakai seperti itu."
"Coba ya aku pilihkan. Hmmm seperti nya sepatu seserahan dari ku bagus," kata Rakha.
"Iya aku mau pakai itu, aku merasa bangga dan senang bisa memakainya," ucap Vivi.
Setelah selesai bersiap-siap mereka berdua langsung pergi, Rakha dan Vivi benar-benar pasangan yang sangat bahagia. Keserasian antara mereka berdua membuat orang yang melihat mereka merasakan kebahagiaan yang mereka berdua rasakan.
"Aku sangat senang melihat Rakha yang sekarang" kata Dylan.
"Iya sayang, dia sangat terlihat bahagia, aku yakin Rakha dan Vivi akan seperti kita," ucap Lia.
"Pasangan yang selalu bahagia," kata Dylan.
Sesampainya di sana. Rakha terkejut melihat Alice, ia sangat marah dengan Stefan karena Stefan membawa Alice, padahal Stefan sudah berjanji tidak membawa wanita itu.
"Kita akan bertemu dengan mantan istri mu," tanya Vivi.
"Awal nya hanya pria itu, tapi seperti nya dua menjebak ku," jawab Rakha.
__ADS_1
"Tidak papa, tunjukan pada nya kamu sudah bahagia," ucap Vivi sambil tersenyum pada Rakha.