
"Ada apa mas, memanggil saya, apa ini restoran baru milik mas Verrel." Tanya akang sate.
"Bukan pak, ini milik bapak." Jawab Verrel.
"Ah mas jangan bercanda, mana mungkin ini milik saya."
"Benar pak ini milik bapak." Verrel mengambil map yang berisi surat-surat tentang restoran ini dan menyerahkan nya.
"Mas ini milik saya." Ucap akang sate dengan suara yang gemetar.
"Iya pak, saya harap kehidupan bapak lebih baik lagi setelah ada nya restoran ini." Verrel memeluk akang sate itu.
Setelah momen haru dan ucapan terimakasih dari akang tukang sate Verrel dan yang lainnya memilih untuk langsung pulang. Mereka takut makanan yang mereka beli tadi keburu basi.
Sesampainya di rumah mereka langsung masuk ke dalam kamar masing-masing untuk melepaskan lelah sedangkan makanan yang mereka beli tadi mereka berikan pada pelayanan untuk di hidangkan di atas meja makan.
"Aku lelah sayang." Ucap Verrel.
"Kamu pikir kamu saja aku juga lelah, apalagi aku membawa dua anak di perut ku."
"Kamu tau sayang, anak kembar bapak itu tadi, mereka berdua kembar." Ucap Verrel.
"Iya aku tau, mereka kembar dan mereka sama-sama tampan." Kata Akifa.
"Aku ingin anak ku seperti mereka, kembar laki-lali. Aku akan mendidik mereka dengan sangat baik, aku ingin anak kita bisa menjadi aktor.
"Hahaha itu cita-cita kamu yang tidak bisa kamu wujudkan bukan." Tanya Akifa.
__ADS_1
"Kamu tau dari mana, ia aku dulu ingin jadi aktor karena ketampanan ku. Tapi ayah dan kakek tidak setuju dan tidak memperbolehkan nya." Jawab Verrel.
"Kamu setuju anak kita menjadi aktor." Tanya Verrel.
"Aku tau pilihan kamu yang terbaik untuk mereka, asalkan kamu tidak memaksa mereka mengikuti kemauan kamu." Jawab Akifa.
"Aku sayang kamu." Verrel memeluk Akifa dengan erat.
Dylan dan Lia sedang berjalan-jalan dia taman dekat rumah, Lia meminta Dylan berhenti karena ia ingin melihat danau dan naik sampan.
"Aku tidak berani sayang." Ucap Dylan.
"Kamu kalah dengan ku, aku wanita saja berani. Ayo sayang ikut dengan ku naik itu, ayo sayang." Lia memaksa Dylan agar mau ikut naik dengan nya.
"Nanti kalau kita jatuh bagaimana, anak kita nanti kenapa-napa bagaimana."
"Oke kita naik sekarang." Ucap Dylan yang menyerah dan mengikuti kemauan Lia.
Mereka berdua naik sampan kecil yang hanya berisi tiga orang, Mereka berdua dan satu orang untuk mendayung sampan. Dylan yang sangat takut hanya bisa memeluk Lia dari belakang.
"Sayang ayo foto." Ucap Lia.
"Nanti hp ku jatuh sayang, kamu tidak takut."
"Tidak sayang coba kamu lihat samping kita banyak ikan-ikan kecil." Ucap Lia.
"Sayang nanti ada buaya, tangan mu jangan masuk." Kata Dylan.
__ADS_1
"Tidak sayang, mana mungkin ada buaya kamu ada-ada saja."
"Ada buaya di belakang kamu." Ucap Dylan.
"Iya kamu kan buaya darat." Kata Lia.
Lia yang tidak tega melihat Dylan ketakutan memilih untuk menepi, percuma juga ia di atas sampan karena sama sekali tidak dapat menikmati nya, karena Dylan terus menerus memeluk nya dan merengek untuk menepi.
"Sudah sekarang kita pulang saja, aku lapar." Ucap Lia.
"Kamu tidak marah pada ku." Tanya Dylan.
"Aku sedikit marah pada mu, malam ini tidak ada jatah." Jawab Lia.
Alvaro yang baru pulang dari kantor melihat banyak jajanan pasar di meja makan membuat nya sangat senang dan langsung menyantapnya. Walaupun ia tidak tau nama makanan itu dan tidak pernah melihat nya, Alvaro sama sekali tidak mempermasalahkan nya.
"Wah siapa yang beli, siapa yang makan." Ucap Verrel.
"Kau yang membeli nya Verrel." Tanya Alvaro.
"Jadi jika bukan aku siapa lagi, bagaimana yah rasa nya enak bukan."
"Enak sekali, kebetulan ayah sedang lapar." Ucap Alvaro.
"Ayah kenapa dulu waktu kecil ayah tidak pernah membawa ku ke tempat yang berjualan seperti ini, aku sama sekali tidak tau makanan ini."
"Kau pikir kau saja, aku juga tidak tau." Ucap Alvaro.
__ADS_1
Author ingin bertanya untuk konflik selanjutnya, jika kalian tidak ingin konflik cerita Verrel akan tamat karena author hanya menyiapkan satu konflik lagi. Dan akan lanjut ke generasi ke empat.