
"Kita mau kemana pak," tanya Anita.
"Ke salon, aku ingin menghitamkan rambut ku," jawab Vano.
"Oh langsung rupa nya, bapak akan terlihat sangat kece," ucap Anita.
"Itu pasti," kata Vano.
Vano dan Anita masuk ke dalam salon yang terdapat di mall tersebut. Mereka berdua seperti ayah dan anak yang sedang ingin melakukan perawatan.
Sementara itu Rakha mengajak Vivi berbelanja saja. Ia bingung akan melakukan apa kalau sedang berdua saja dengan Vivi. Dari kejauhan mereka berdua melihat seseorang yang tidak asing. Dan ternyata orang itu adalah Monica dan juga Rian.
"Kakak," ucap Vivi.
"Iya itu kakak mu, ayo kita hampiri dia," kata Rakha.
Mereka berdua berjalan mendekati Rian dan Monica yang tidak sadar dengan kedatangan mereka.
"Kakak sedang apa," tanya Vivi.
"Eh kalian berdua di sini juga, sedang apa," tanya Rian.
"Tidak ada hanya jalan-jalam saja, kakak sedang apa?"
"Kalian ingin progam kehamilan," tanya Rakha saat melihat berbagai macam susu di keranjang belanjaan Monica.
"Hahaha iya, Monica sudah tidak sabar memiliki anak," kata Rian.
"Lah aku pulak, bukan nya kamu ya," ucap Monica.
"Jangan malu Rian, sudah tidak papa," ujar Rakha.
Rian teringat jika Rakha sudah memiliki istri, pergi berduaan ke mall adalah sesuatu yang mencurigakan. Apalagi Vivi termasuk wanita yang tidak pernah pacaran, buaya macam Rakha bisa saja merusak nya.
"Sayang kamu lanjut dengan Vivi ya, ada hal penting yang ingin aku bicarakan," kata Rian.
"Iya ayo Vivi." Monica dan Vivi pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa Rian," tanya Rakha.
"Sudah ayo kita duduk sambil minum," jawab Rian.
Rian membawa Rakha ke tempat yang enak untuk mengobrol sambil minum. Rakha sudah yakin Rian ingin mengatakan sesuatu tentang kedekatan nya dengan Vivi.
"Kau sudah punya istri bukan," tanya Rian.
__ADS_1
"Hmmm iya, aku sudah mempunyai istri," jawab Rakha.
"Lalu kenapa kau mendekati adik ku," tanya Rian.
"Maksudnya," tanya Rakha.
"Aku tau kau sedang mendekati Vivi kan, jangan begitu Rakha aku tau kau tampan, banyak uang tapi jangan seperti itu. Aku tidak mau adik ku menjadi yang ke dua," jawab Rian.
"Tunggu dulu, seperti nya kau salah paham, aku tidak pergi berdua dengan Vivi. Ada kakek ku dan Anita juga, mereka berdua ntah pergi kemana tadi. Aku tidak ada niat untuk mendekati adik mu."
"Apa itu benar," tanya Rian.
"Iya benar, mana mungkin aku melakukan itu. Vivi wanita yang sempurna aku tida berani melakukan hal itu," jawab Rakha.
"Apa kau tidak mempunyai perasaan lebih pada. Vivi?"
"Untuk itu aku tida bisa mengelak, aku kagum dengan nya, aku tida tau rasa kagum itu datang sejak kapan. Tapi kau tenang saja dengan rasa kagum itu aku akan menjaganya, aku sudah menganggap Vivi seperti adik ku sendiri," kata Rakha.
"Kau yakin bisa menjaga perasaan mu," tanya Rian.
"Aku yakin, sudah jangan khawatir masalah itu," jawab Rakha.
"Dia adik, wanita pertama yang sangat aku sayangi. Aku tidak mau dia sampai sakit hati karena mu, aku harap perkataan mu bisa aku buktikan," ucap Rian.
Hari semakin malam, Vano sudah selesai mewarnai rambut nya menjadi hitam kembali. Saat berkaca ia merasa jauh lebih muda dari sebelumnya.
Setelah selesai membayar semua nya. Vano mendekati Anita yang sudah tertidur karena kelelahan menunggu. Tanpa pikir panjang Vano menggendong Anita dan membawa nya ke mobil. Saat dalam perjalanan, Anita terbangun karena merasakan guncangan di tubuh nya, ia hampir teriak karena Anita pikir ia sedang melayang.
"Bapak mengejutkan ku," kata Anita.
"Sudah bangun." Vano menuturkan Anita dari gendongan nya.
"Wah bapak sangat tampan, jauh lebih muda," ucap Anita.
"Hahaha kau jadi suka dengan ku," tanya Vano.
"Eh tidak lah, kita mau kemana pak, kenapa hanya kita berdua," jawab Anita.
"Kau masuk saja ke mobil, ini kunci nya aku akan menjemput Rakha dan juga Vivi." Vano menyertakan kunci mobil itu dan pergi meninggalkan Anita.
Vini dan Rakha juga sudah berpisah dengan Rian, mereka mencari Vano yang seperti menghilang tertelan bumi.
"Dimana mereka, apa Anita membawa nya ke hotel," batin Rakha.
"Itu kakek," ucap Vivi.
__ADS_1
"Kakek," teriak Rakha.
"Wow itu kakek atau bukan si, kenapa jauh lebih tampan," ucap Vivi.
"Dia mewarnai rambut nya," kata rakha.
"Oh iya, pantas saja terlihat jauh lebih muda," ucap Vivi.
Sambil tersenyum Vano berjalan mendekati mereka berdua, ia tau mereka berdua sedang mengagumi diri nya.
"Kakek sangat tampan," ucap Rakha.
"Sudah pasti, oh iya Rakha, aku rasa kau harus ray masalah ini, aku kasihan dengan mu," kata Vano.
"Apa itu kek," tanya Rakha.
"Nanti saja, kita pulang dulu," jawab Vano.
Sesampainya di rumah. Vano dan Rakha masuk ke dalam kamar yang sama. Vano sangat muak dengan Alice, ia sudah tidak tahan cucu nya di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita.
"Kenapa kek," tanya Rakha.
"Awal nya aku ingin kau tau sendiri, tapi aku tidak tahan melihat kelakuan istri mu. Maafkan aku telah menganggu privasi istri mu, selama ia pergi ke Belanda aku selalu mengirim orang untuk memantau apa yang ia lakukan."
"Kakek, apa ada bukti," tanya Rakha.
"Kenapa kau malah begitu," tanya Vano.
"Aku hanya bertanya, aku akan bertindak kalau ada bukti," jawab Rakha.
"Banyak sekali." Vano mengambil laptop dan menyambung laptop itu ke handphone nya.
"Foto-foto istri mu dengan pria lain," kata Vano.
"Dia seperti itu kek, tapi hanya seperti itu, aku biasa juga seperti itu dengan wanita lain," ucap Rakha.
"Dia ke hotel dengan seorang pria, aku tidak tau siapa pria itu," kata Vano.
"Itu Stefan sepupu nya," ucap Rakha.
"Oh sepupunya, aku rasa dia sudah mencoba burung kecil sepupu nya." Vano membuka Video saat Alice berhubungan dengan Stefan.
Yang awal nya bisa saja, Rakha berubah emosi seketika. Ini sudah sangat keterlaluan. Hati nya benar-benar di permainkan dengan seseorang yang ia cintai. Ini lah yang Vano takutkan. Rakha menangis karena seseorang wanita yang ia perjuangan, sakit karena wanita seperti itu membuat Vano tidak tega pada Rakha.
Rakha mematikan video itu, ini sama saja menginjak-nginjak harga diri nya. Air mata nya jatuh karena ia tidak menyangka wanita yang ia perjuangkan seperti itu.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, aku tau rasa nya, aku menyembunyikan dari mu karena aku tidak mau kau seperti ini. Aku sudah muak dengan nya, aku terpaksa memberitahu mu, ini bukan satu satu nya video," ucap Vano