Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 108 S4


__ADS_3

"Rakha kau yang menyetir, aku di belakang saja," ucap Axel.


"Hmmm baiklah, tidak masalah untuk ku. Aku tau pengantin baru memang suka bermesraan," kata Rakha.


"Kau benar-benar ingin memancing ku Rakha," bisik Axel dengan nada yang menekan.


"Sudah ayo Axel, kau mau mengajak ku kemana," tanya Wilda sambil menarik tangan Axel masuk ke dalam mobil.


"Eh pelan-pelan Wilda, aku terlalu tinggi," kata Axel.


"Apa wanita itu tau hubungan ku dengan Axel," batin Laura.


Di jalan suasana terasa sepi, tidak ada yang berbicara karena mereka fokus dengan pikiran mereka masing-masing.


"Jika Wilda tau akau kembali dekat dengan Laura apa dia akan marah dan pergi meninggalkan ku," batin Axel.


"Kenapa masih sakit," ucap Wilda.


"Apa yang sakit," tanya Axel.


"Perut ku, masih terasa cukup sakit," jawab Wilda.


"Kau terlalu jauh dengan ku, sini mendekat lah." Axel menarik Wilda ke dalam pelukan nya. Tangan nya mulai masuk ke dalam perut Wilda dan mengusapnya dengan sangat lembut.


"Bilang saja kau ingin aku peluk," ucap Axel.


"Kau terlalu percaya diri tuan, sudah kalau tidak ikhlas juga tidak papa," kata Wilda.


"Hey hey hey, kau senang sekali merajuk, sudah sini aku akan membuat perut mu tidak akan sakit lagi," ucap Axel.


"Kau tidak dokter jangan sok Axel."


"Kau galak sekali, aku sudah tidak sabar ingin membuat mu menangis sepanjang malam," bisik Axel.


"Kenapa begitu," tanya Wilda.


"Hahaha kata mu, sarang ku tidak sesuai ukuran dengan milik ku," jawab Axel.


"Mereka berdua sudah sangat dekat sekali, apa mereka sudah melakukan nya. Apa Axel akan berpaling dari ku," batin Laura.


Axel melihat wajah Laura yang tampak sangat sedih, ia tau pasti Laura cemburu akan kedekatan nya dengan Wilda.


"Hey jangan pasang wajah seperti itu, nanti aku akan memberikan mu hadiah." Axel mengirimkan pesan pada Laura.


Laura hanya tersenyum pias saat membaca pesan dari Axel. Axel masih memberikan nya harapan tetapi jika di lihat secara nyata harapan itu sudah tidak ada.


"Rakha membawa mereka ke taman kota, tempat yang sangat cocok untuk jalan-jalan dengan pasangan. Di sana ada sebuah danau buatan dan menyediakan beberapa wahana untuk mereka coba.


"Axel aku ingin naik itu," ucap Wilda.


"Kau yakin tidak takut," tanya Axel.


"Tidak yakin si, tapi aku ingin mencoba nya," jawab Wilda.


"Ya sudah kau beli dulu tiket nya, ini dompet ku, aku harus ke toilet terlebih dahulu."


"Jangan Lama-lama," ucap Wilda.


"Iya cerewet," kata Axel.


Axel bukan hanya ingin ke toilet, ia juga pergi mencari Laura yang memisahkan diri dari mereka.


"Laura," Axel berlari mendekati Laura dan membawanya ke tempat yang cukup sepi.


"Kau marah pada ku," tanya Axel.


"Untuk apa aku marah, dia istri mu dan dia berhak atas perhatian mu," jawab Laura.


"Aku harus ke toilet." Laura pergi meninggalkan Axel.


Karena memang ia juga ingin ke toilet Axel berjalan mengikuti Laura.


"Aku mencintaimu." Axel mencium bibir Laura sebelum ia masuk ke dalam toilet pria.


Wilda dan Rakha sudah mendapatkan tiket, mereka berdua hanya tinggal menunggu Axel dan Laura yang terlalu lama pergi.


"Rakha, apa menurut mu mereka berdua berpacaran di belakang ku," tanah Wilda.


"Rasa nya tidak mungkin, Axel tidak akan berani," jawab Axel.


"Bagaimana mereka benar-benar melakukan hal itu, dan sampai ke atas ranjang," ucap Wilda.


"Tunggu kau sudah ada perasaan pada Axel," tanya Rakha.


"Harus ada perasaan pada nya untuk mengkhawatirkan hal itu, aku istri nya wanita mana yang rela membiarkan suami nya tidur dengan wanita lain," jawab Wilda.


"Muda saja, jika kau tidak ingin Axel bermain dengan wanita lain, selalu servis dia dengan baik. Otak Axel penuh dengan ke mesuman jadi kau harus melayani nya dengan baik, jika pelayanan mu kurang baik, aku takut nya dia akan bermain dengan wanita lain. Jangan tertipu dengan sikap manis nya."


"Aku takut," ucap Wilda.


"Jangan takut, memang awal nya akan terasa sangat sakit. Tapi itu hanya untuk sesaat, jika kau masih tidak yakin kau bisa bertanya pada Sakura dan yang lainnya. Mereka kan sudah lama menikah pasti tau bagaimana mengatasi rasa takut itu," kata Rakha.


"Oh iya, saran mu tidak buruk, aku akan bertanya pada mereka." Ntah kenapa rasa nya Wilda sangat takut kehilangan Axel, ia juga tidak akan rela jika Axel pergi mencari kepuasan dengan wanita lain. Di dalam hati nya Axel adalah milik nya berani menyentuh barang nya akan ia hajar habis-habisan.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan," tanya Axel.


"Kau lama sekali, aku sudah tida mood naik bebek itu," jawab Wilda.


"Jangan merajuk lagi, aku buang air besar karena terlalu banyak makan di restoran Rakha," kata Axel.


"Ya sudah sekarang ayo naik," ucap Wilda sambil memeluk Axel dari samping. Ia ingin memberitahu Laura jika Axel adalah milik nya.


"Wanita itu benar-benar sudah tau jika aku masih suka dengan Axel," batin Laura.


"Ayo Laura, kau dengan ku saja," kata Rakha.


"Kenapa tidak, ayo," ucap Laura yang mempunyai rencana tersendiri.


"Seperti nya ada yang berbeda dari mu," tanya Axel.


"Kau pikir saja kenapa aku berbeda," jawab Wilda.


"Kau cemburu dengan Laura," tanya Axel.


"Itu hanya perasaan mu saja," jawab Wilda sambil mengambil handphone nya.


Wilda membuka mode kamera untuk mengabadikan momen indah ini, saat ini ia sedang di tengah danau bersama dengan Axel, mereka berdua sedang naik wahana bebek-bebek an yang sangat menggemaskan.


"Aku juga ingin berfoto,' ucap Axel.


"Mendekat lah." Wilda juga mendekat kan wajahnya ke wajah Axel.


Mereka berdua berfoto dengan berbagai macam gaya. Mata Wilda tidak sengaja melihat ke arah bibir Axel, dengan perlahan bibir nye mulai mendekati bibir Axel yang menurut nya memiliki pesona tersendiri.


Axel sangat terkejut ketika Wilda mulai menyerangnya lebih dulu, bisa di katakan Axel terkejut di campur dengan kemenangan. Agar tetap seimbang Axel memegang kepala Wilda dan mulai membalas istri nya. Ini pertama kali nya mereka berdua saling membalas.


"Wow benar-benar sangat hot, mereka berdua seperti tidak ada tempat," ucap Rakha yang melihat momen itu dari kejauhan.


"Aku juga ingin," ucap Laura tanpa ia sengaja.


"Kau ingin juga," tanya Rakha.


"Apa ciuman mu sebaik Axel," tanya Laura.


"Kau bisa membuktikan nya," jawab Rakha.


"Rakha aku pikir kau orang yang polos, tapi aku tidak mungkin mencium mu. Kau masih suci," kata Laura.


"Laura apa kau pernah melakukan nya dengan Axel," tanya Rakha.


"Berciuman itu hal yang sangat sering kami lakukan," jawab Laura.


"Tidak aku tidak berani, meskipun Axel beberapa kali meminta nya. Aku tidak akan memberikan nya pada siapapun, aku hanya memberikan nya pada suami ku nanti," kata Laura.


"Bagus lah aku suka dengan pola pikir mu," ucap Rakha.


Wilda lebih dulu melepaskan ciuman itu, ia tidak tahan karena sudah benar-benar memerlukan pasukan oksigen. Berbeda dengan Axel yang masih ingat terus melanjutkan nya sampai ia puas.


"Wilda aku suka dengan mu yang seperti ini, memulai nya lebih dulu," ucap Axel.


Wilda berpikir ternyata yang di katakan Rakha benar ada nya, Rakha suka dengan wanita yang lebih agresif dari biasanya.


"Aku malu," ucap Wilda sambil menutup wajah nya.


"Hahaha jangan malu, harus aku akui ciuman mu benar-benar sangat buruk. Tapi kau tentang saja aku akan mengajari mu sampai kau pandai," kata Axel.


"Kau seperti guru saja, tapi tidak ada salahnya," ucap Wilda.


"Tenyata otak mu mesum juga ya, kau ketagihan dengan bibir ku ini," tanya Axel.


"Iya Axel, Ku benar-benar ketagihan, ntah apa yang membuat ku sampai ketagihan seperti ini," batin Wilda.


"Tidak jangan berharap," jawab Wilda.


...***...


Di rumah Kenzi sedang berada di ruang dapur meminum obat pereda sakit perut. Karena perut nya terasa sangat sakit, ia memakan makanan yang terlalu pedas. Istri nya juga sedang tidak ada di rumah, Karla sedang bersama para wanita berbelanja di mall.


"Ini tuan," ucap Sofia.


"Aku tidak asing dengan suara mu," kata Kenzi.


"Kalau saya malah tidak asing dengan anda," ucap Sofia.


"Apa kita pernah bertemu," tanya Kenzi.


"Apa tuan pernah berkunjung ke sebuah panti dan bermain dengan anak perempuan," tanya Sofia.


"Panti, anak perempuan," ucap Kenzi sambil berusaha mengingat masa lalu nya.


"Hmmm ya ya ya, dulu saat aku sedang terpuruk karena kecelakaan Kenzo, kakek sering membawa ku ke panti," kata Kenzi.


"Dan bertemu anak perempuan yang sedang terpuruk juga."


"Anak perempuan, iya aku bertemu dengan nya. Dia sangat baik, aku sempat suka dengan nya, dia juga sama-sama sedang terpuruk seperti ku," kata Kenzi.


"Kau anak perempuan itu," tanya Kenzi.

__ADS_1


"Bianca," ucap Sofia.


"Bianca, ini benar-benar kau." Kenzi langsung memeluk Bianca. Ia tidak menyangka bertemu dengan orang yang mensupport nya di waktu kecil.


"Kau mengganti nama mu," tanya Kenzi.


"Ada hal yang penting membuat ku harus mengganti nama ku, aku cukup terkejut karena kau tubuh dengan sangat cepat," jawab Sofia.


"Hahaha, aku tampan bukan, eh duduk lah dulu," kata Kenzi.


"Selamat atas pernikahan mu, aku turut senang melihat mu bahagia," ucap Sofia.


"Iya Sofia Terima kasih, untuk ucapan ku di masa kecil jangan kau ingat ya, itu hanya ucapan seorang anak kecil," kata Kenzi.


"Hahaha iya kau tenang saja."


"Sofia bagaimana mungkin bisa kau bekerja di rumah ku," tanya Kenzi.


"Orang tua mu yang membawakan ku, mereka percaya pada ku karena kita pernah berteman," jawab Sofia.


"Maaf waktu itu aku pergi menghilang tanpa kabar, aku sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk berkunjung ke panti, kakek juga tidak pernah mengajak ku lagi," ucap Kenzi.


"Kau meminta maaf pada ku, untuk apa, sudah jangan begitu, bertemu dengan mu saja aku sudah sangat senang," kata Sofia.


"Bagaimana dengan mu, apa kau sudah menikah," tanya Kenzi.


"Aku belum menikah, aku tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu," jawab Sofia.


"Ahh aku bisa menjodohkan mu dengan Rakha atau ada beberapa teman ku, kau mau tidak," tanya Kenzi.


"Tidak Kenzi eh tuan, aku tidak ingin memikirkan hal itu, aku masih ingin sendiri," jawab Sofia.


"Hey jangan berkata seperti itu, dan jangan memanggil ku tuan, panggil saja nama ku," kata Kenzi.


Mereka berdua banyak bercerita mengingat masa lalu mereka. Terkadang hal yang tidak pernah kita duga datang menghampiri diri kita.


Kembali ke pasangan Wilda dan Axel, yang sewaktu-waktu beradu bibir jika ada kesempatan. Laura semakin panas melihat kedekatan Wilda dan Axel.


Karena terlalu kesal Laura menarik leher Rakha dan mulai mencium bibir Rakha. Rakha Benar-benar terkejut akan hal itu, ia juga tidak kalah hebat dengan Axel dan mulai membalasnya.


Axel langsung memalingkan wajah nya, ia tidak kuat melihat hal itu dan memilih membawa Wilda pergi menjauh


"Ahkkk sangat sakit sekali," batin Axel.


Hari terus berlalu sore hari telah tiba, mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah setelah membeli berbagai macam barang di mall. Sebelum pulang ke rumah mereka mengantarkan Laura pulang ke rumah.


"Tidak mau mampir Rakha," tanya Laura yang sengaja hanya menawari Rakha saja.


"Tidak Laura, oh iya aku mulai tertarik dengan mu, aku akan mengirim mu pesan setelah ini," jawab Rakha.


"Kau terlalu berterus terang Rakha, banyak saingan mu, cepat lah terkadang orang terdekat mu adalah saingan mu." Laura pergi meninggalkan mereka semua.


"Kau benar-benar tertarik dengan nya Rakha," tanya Axel.


"Tentu tidak, dia jauh dari tipe ku, aku hanya bercanda saja," jawab Rakha.


Sesampainya di rumah mereka langsung kembali masuk ke dalam kamar masing-masing. Rakha menghentikan langkah kaki nya saat melihat seseorang wanita yang cukup mencuri perhatian nya. Karena tubuh nya sudah terasa sangat lengket Rakha memilih untuk mengabaikan wanita itu, ia yakin akan melihat nya lagi.


Axel membawa Wilda ke atas ranjang, jika Wilda sedang tidak datang balan pasti sudah habis dengan nya.


"Kau benar-benar menantang ku," ucap Axel saat Wilda meminta nya untuk melepaskan baju.


Melihat Axel bertelanjang dada membuat tubuh Wilda terasa panas. Mata nya terus melihat bentuk tubuh Axel yang terasa sangat sempurna.


"Hey mesum, setelah semua nya selesai akun akan membuat mu seperti film yang kau tonton," ucap Axel sambil menaikan kepala Wilda agar menatap mata nya.


"Aku akan melakukan apa yang kau minta," kata Axel.


"Kau yakin, kau tidak takut," tanya Axel.


"Aku sangat takut tapi demi kau aku akan melawan rasa takut ku," jawab Wilda.


Ya Wilda aku sangat suka dengan wanita seperti mu, aku akan melakukan nya dengan baik," kata Axel sambil memeluk Wilda karena ia memang belum bisa melakukan nya sekarang.


Wilda memberanikan diri untuk mencium dada bidang Axel yang tepat berada di depan mata nya. Tangan nya dengan nakal mulai berani bergerak kebawah. Wilda melakukan ini karena ia menjalankan apa yang di katakan Rakha tadi.


Tangan Wilda sudah sampai di titik yang ia harapkan, mata nya terbelalak saat memegang Axel junior.


"Batang apa ini," batin Wilda.


"Hahaha jangan terkejut, itu belum bangun sepenuhnya," ucap Axel.


"Axel kau membuat ku sangat takut, ini seperti terong eh tidak terong. Ini seperti tingkat bisbol," ucap Wilda.


"Hahaha sebentar lagi kau akan merasakan nya, tenang saja," ucap Axel sambil menaikan tangan Wilda ke atas, ia takut Wilda semakin ketakutan saat tau ukuran sebenarnya.


"Aku sangat nyaman memeluk mu seperti ini," kata Axel.


"Aku sangat ingin selalu bersama mu, dan tidur dalam pelukan mu seperti ini, aku sangat suka itu Axel," ucap Wilda.


"Kalau begitu berjanji lah jangan tinggal kan aku apapun yang terjadi," kata Axel.


"Berjanji lah jangan membuat ku marah, dan melakukan kesalahan yang besar," ucap Wilda.

__ADS_1


__ADS_2