
Tidak Fiona kau bohong, aku tidak percaya." ucap Adit yang nafsu nya di atas ubun-ubun nya.
"Iya kak, aku serius." teriak Fiona.
Adit menarik nafas nya dengan panjang, Fiona benar-benar membuat mood nya berantakan. Adit kembali mengenakan pakaian nya satu persatu dan memilih untuk langsung tidur di kamar Fiona.
"Aku tidak berani." ucap Fiona yang bergidik ngeri.
Fiona bercermin di kamar mandi, ia melihat bagian dada nya penuh dengan bercak merah dari Adit.
"Aahh apa yang ku lakukan, tubuh ku jadi seperti ini." ucap Fiona.
Fiona terlupa jika pakaian nya tertinggal di ranjang, ia kembali keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana tanpa atasan. Fiona terkejut saat melihat Adit yang tidur di atas ranjang nya.
Fiona kembali mengenakan pakaian nya, dan duduk di samping Adit. Adit yang belum tidur sepenuhnya langsung menarik tangan Fiona dan menindih nya.
"Kau berbohong pada ku kan." tanya Adit.
"Hehehe aku takut kak, milik mu sangat berbeda dari film yang ku tonton." jawab Fiona.
"Owww jadi kau pernah menonton film, ada berapa banyak gaya yang kau tau." tanya Adit.
"Hmmm, berapa ya kak. Aku lupa." jawab Fiona.
"Hari kau aku ampuni, tapi jangan harap saat malam pertama kita." ucap Adit langsung bangkit dari kasur dan berjalan keluar dari kamar.
Alvaro kembali menanamkan benih nya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia bercocok tanam dalam waktu satu minggu ini. Angel merasa milik nya sekarang sedang luka karena tidak di beri jedah istirahat oleh Alvaro.
__ADS_1
"Sakit." ucap Angel.
"Kenapa, sakit." tanya Alvaro yang menghentikan kegiatan nya untuk sementara waktu.
"Aku tidak sanggup." jawab Angel.
"Kenapa sayang, apa aku terlalu kasar." tanya Alvaro.
"Tidak tau, rasa nya perih sekali." jawab Alvaro.
Alvaro menghentikan aksi nya dan langsung menggendong Angel naik kedalam kamar nya, sedangkan Angel sudah beberapa kali meniti kan air mata nya, karena memang benar-benar terasa perih.
"Berbaring lah, aku akan memeriksa nya." ucap Alvaro.
"Tidak ini memalukan." ujar Angel.
Mata Alvaro terbelalak saat melihat milik Angel yang memang terdapat luka, berwarna merah seperti nya karena ia selalu sering bermain tanpa memberikan jeda untuk Angel.
"Maaf, apa kita ke rumah sakit saja." tanya Alvaro.
"Tidak-tidak itu sangat memalukan." jawab Alvaro.
"Ya sudah besok aku akan cairkan salep pereda nyeri." kata Alvaro.
Keesokan hari nya Alvaro dan Angel izin tidak masuk kedalam kampus, karena tubuh Angel terasa hangat dan sepertinya Angel akan demam. Sebelum itu terjadi Alvaro langsung membawa mobil nya ke apotik untuk membeli salep pereda nyeri dan obat demam.
"Mas main nya terlalu kasar ya." ucap pemilik apotik.
__ADS_1
Alvaro hanya diam dan langsung membayar obat yang ia beli, tak lupa Alvaro membeli dua mangkuk bubur untuk nya dan Angel. Sesampainya di rumah Alvaro langsung naik ke dalam kamar nya.
"Sayang bangun lah, makan dulu." ucap Alvaro.
Alvaro membuka selimut yang menyelimuti tubuh Angel, Sedari malam memang Angel tidak memakai pakaian yang lengkap. Alvaro mengoleskan salep yang ia beli ke milik angel.
"Aww perih." ucap Angel.
"Tahan sayang." kata Alvaro.
Alvaro membaca apa yang tidak boleh di lakukan Angel setelah ini, mata nya terbelalak saat ia harus berpuasa selama satu minggu. Mau bagaimana lagi Alvaro harus menerima karena luka ini ia yang membuat nya.
Setelah makan bubur dan meminum obat Angel kembali tidur sedang kan Alvaro keluar kamar untuk menemui Vano yang juga tidak masuk kampus karena tidak ada kelas.
"Van." panggil Alvaro.
"Al, bagaimana dengan Angel apa dia baik baik saja." tanya Vano.
"Dia baik-baik saja van, hanya saja aku terlalu memaksa nya tanpa tau kalau usia nya masih 18 tahun. Masih terlalu mudah untuk monster seperti ku." jawab Alvaro.
"Hahaha kau terlalu bersemangat al." ucap Vano.
"Oh iya van, apa kau sudah tidak marah pada ku lagi." tanya Alvaro.
"Tidak al, aku salah. Tidak seharusnya aku marah pada mu. Untuk menghapus atau tidak nya itu hal mu, aku terlalu takut jika kau melupakan apa yang pernah kita bentuk dulu. Tapi sekarang aku sadar kau tidak mungkin melupakan itu, tato itu hanya lambang tidak berpengaruh apapun dengan geng kita dulu." jawab Vano.
"Terimakasih van, kau sudah mengerti aku. Aku janji aku akan mengumpulkan teman-teman kita dulu, untuk sekedar berkumpul bersama." kata Alvaro.
__ADS_1
"Iya al, terimakasih. Aku tunggu momen itu." ucap Vano.