
"Kurang baik bagaimana," tanya Mei.
"Mereka berdua pernah bertengkar tante, tapi tante tenang saja, suami ku akan meminta maaf karena ini semua kesalahan nya," jawab Wilda.
Axel berjalan mendekati Zayn yang sedang asik berenang. Meskipun ia memiliki seorang pacar Zayn seperti pria yang masih sendirian, masih banyak sisi misterius Zayn.
"Hey jomblo," ucap Axel.
"Jangan mendekat, aku tidak mau bertemu dengan mu," kata Zayn.
"Aku ingin minta maaf pada mu," ucap Axel.
"Minta maaf pada ku, kau yakin ingin minta maaf pada ku" tanya Zayn.
"Iya aku yakin, aku mengaku bersalah pada mu," jawab Axel.
"Oh iya apa salah mu pada ku, aku tidak ingat, coba ingatkan aku," kata Zayn.
"Aku mengaku salah pada mu, aku menggoda anak bimbing mu, aku tidak menghargai mu dan aku tidak sopan pada mu."
"Oh kau masih ingat kesalahan mu, sekarang katakan pada ku kenapa kau meminta maaf pada ku," tanya Zayn.
"Pria ini seperti seorang wanita, banyak sekali bertanya nya," batin Axel.
"Aku mengaku salah, aku sadar aku salah. Aku ingin berterima kasih pada mu, karena kau sudah merawat istri ku, kau sudah menjaga istri ku dengan sangat baik."
"Oh itu ya sudah, aku memaafkan mu," ucap Zayn.
"Bagus lah," kata Axel.
"Tapi sebelum itu aku tantang kau lomba berenang dengan ku," ucap Zayn.
"Siapa takut, aku jago berenang," kata Axel.
"Sayang sini lah, aku ingin berenang," teriak Axel.
"Iya, tunggu sebentar."
Wilda berjalan mendekati kolam renang, ia akan menjadi saksi dua pria tangguh akan berlomba. Axel mulai melepaskan pakaian yang ia pakai, ia tidak mungkin berenang dengan memakai pakaian lengkap seperti ini.
"Eh sayang kamu mau apa," tanya Wilda.
__ADS_1
"Aku ingin melepas pakaian ku sayang, tidak mungkin aku berenang memakai pakaian ini," jawab Axel.
"Oh begitu, sini aku pegangin," ucap Wilda.
Saat melihat tubuh Axel yang masih terlihat bekas luka cambukan membuat Wilda tidak tega, ia yakin Axel mendapatkan hukuman yang besar oleh papah dan kakek nya.
"Axel kau kenapa, kau pernah kecelakaan," tanya Zayn.
"Tidak pernah, hanya orang kuat dan berjiwa besar yang akan mendapatkan tanda ini, dan orang itu adalah aku, hahaha," jawab Axel sambil terjun ke kolam langsung.
"Sombong sekali, sudah ayo kita mulai. Tidak boleh curang dan yang kalah melayani yang menang," ucap Zayn.
"Melayani mu, hahaha mustahil untuk ku, aku tidak akan pernah melayani mu," kata Axel.
"Jangan begitu,nanti apa yang kau tidak ingin kamu pasti akan terjadi dan kau akan melayani ku, hahaha."
Mereka berdua sudah tepat di posisi mereka masing-masing, Wilda berjalan lebih dekat dan mulai menghitung mundur.
"Satu.... dua.... tiga.... mulai," teriak Wilda.
Dengan cepat berdua berenang secepat mungkin, dua pria kekar mendadak menjadi mermaid yang sangat lincah. Awal nya Axel memimpin tetapi tiba-tiba kaki nya terasa keram yang membuat nya tidak bisa bergerak dengan bebas.
"Aku menang," ucap Zayn.
"Zayn suami ku, tolong dia," ucap Wilda.
"Eh dia benar-benar tenggelam." Zayn langsung berenang mendekati Axel yang sudah masuk ke dalam air.
Zayn menarik rambut Axel sebelum Axel tenggelam sepenuhnya, setelah itu ia menarik tangan nya dan membawa Zayn naik ke atas kolam renang.
"Sayang jangan mati, anak kamu baru saja launcing."
"Beri kan dia nafas buatan," ucap Zayn.
"Kau saja Zayn, aku tidak bisa," kata Wilda.
"Aku, kau yakin, bibir ku akan menodai bibir suami mu," tanya Zayn.
Wilda merasa ada yang aneh dari Axel. Dan dengan cepat ia bisa menebak apa yang saat ini Axel pikirkan. Ia ingin lepas dari hukuman, itu sebabnya ia meminta Zayn yang memberikan nafas buatan untuk Axel.
"Sayang kamu jahat sekali," batin Axel.
__ADS_1
Axel sedikit mengintip untuk melihat situasi, betapa terkejut nya Axel saat melihat bibir Zayn sudah mendekati bibir nya.
"Ahkkkk tidak," teriak Axel sambil mendorong tubuh Zayn.
"Hahaha aku tau sayang, pria yang baik pria yang mengakui kekalahannya," ucap Wilda.
"Oh jadi kau mau menipu ku, hukuman untuk mu akan lebih berat lagi," kata Zayn.
"Aku kalah karena kaki ku keram, jadi aku tidak kalah," ucap Axel.
"Tidak ada kau tetap kalah, kau pria atau wanita yang mencari banyak alasan."
Sementara itu Kenzi sudah mendarat dengan selamat, penerbangan nya kali ini membutuhkan waktu yang cukup lama karena jarak yang ia tempuh lebih jauh dari saat ia berangkat.
Di bandara Kenzi langsung naik taksi untuk mengantarkan nya ke Vila, ia ingat betul dimana letak Vila itu, kerena dulu daddy nya pernah membawa nya ke Vila itu.
"Ahkkk kenapa aku tidak langsung ke sini," ucap Kenzi yang merasa sangat bodoh karena tidak berpikir sampai sejauh itu.
Karla sedang tidak ada di Vila, ia masih ada di penginapan di atas laut, ia sangat betah di penginapan itu karena banyak hal yang bisa ia lakukan, seperti saat ini ia berjalan sedikit menjauh dari penginapan nya untuk memancing ikan, setelah mendapatkan ikan mereka akan memasak sendiri.
"Rian, ini berat aku tidak bisa menahannya," ucap Karla.
"Karla kau dapat ikan, tunggu aku tarik," kata Rian dan langsung mengambil alih pancing milik Karla.
"Kak, suami kakak tau kalau kita ada di sini," tanya Vivi.
"Oh iya aku lupa, mungkin dia tidak tau aku ada dimana, tapi sudah lah, mungkin dia akan menelepon ku jika sudah sampai di Vila," jawab Karla.
Setelah kurang lebih menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya Kenzi sampai di Vila itu, ia kebingungan karena Vila itu tutup dan tidak ada orang sama sekali.
"Sayang aku datang, sayang," teriak Kenzi.
Sudah cukup lama Kenzi sudah berada di Vila itu, ia membuka handphone nya untuk menghubungi Karla, Kenzi masih tidak mengerti kenapa bisa tidak ada orang di Vila ini. Padahal daddy nya sendiri yang mengatakan jika Karla ada di sini.
"Sayang halo, kamu dimana aku sudah ada di Vila," tanya Kenzi.
"Sayang kamu lupa, aku sedang ada di laut, aku akan mengirim kan alamat untuk mu," jawab Karla.
"Aku ke sana naik apa, tadi saja aku naik taksi," ucap Kenzi.
"Ini sayang di Vila ada mobil, kunci nya terdapat di rak sepatu, nah kamu pakai saja mobil itu," kata Karla.
__ADS_1
"Iya aku akan langsung ke sana, aku sangat merindukanmu sayang. Bersiap lah Kenzi junior akan datang menghampiri anak kita," ucap Kenzi.
Kalau ada kesalahan tolong di koreksi, author tidak sempat revisi