
"Sayang." Sonia menahan wajah suami nya yang terus mencium perut nya.
"Hahaha kenapa sayang, anak kita suka. Aku merasakan dia sedang memandang wajah ku," kata Kenzo.
"Iya memang suka, tapi jenggot kamu sangat menggelikan, mungkin dia tau kalau mommy nya kegelian," ucap Sonia.
"Mungkin saja, usia nya sudah 6 bulan, dan perut kamu sudah sangat besar. Aku jadi takut kalau minta jatah," kata Kenzo.
"Kamu lupa kata dokter kalau kita harus lebih sering hubungan, tapi tidak boleh keluar di dalam itu akan memancing kontraksi," ucap Sonia.
"Sayang kamu inginkan, kamu harus operasi. Melahirkan 5 bayi sekaligus sangat beresiko. Kamu bisa kehabisan tenaga. Jadi jika sudah bisa di keluarkan 5 baby ku, kita langsung operasi saja ya," kata Kenzo.
"Iya sayang, aku akan menurut saja. Aku tau kehamilan ku kali ini cukup beresiko. Aku sudah siap sayang jika harus melahirkan anak ini."
"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat sayang, aku terlalu bersemangat sampai membuat anak 5 sekaligus," kata Kenzo.
"Aku perasaan dengan jenis kelamin anak kita," ucap Sonia.
"Kau penasaran lebih baik kita ke rumah sakit. Kita USG untuk mengetahui jenis kelamin anak kita," kata Kenzo.
"Hari ini aku malas gerak, besok saja ya. Coba kamu cium lagi sayang, aku ingin merasakan tendangan nya," kata Sonia.
"Hahaha tidak aku tidak mau. Aku hanya ingin menjenguk anak ku." Kenzo mulai membuka baju nya.
Sonia memicingkan mata nya saat melihat tubuh suaminya yang sudah tidak berotot seperti sebelumnya. Lemak yang ada di tubuh Kenzo mulai menimbun menutupi otot yang selama ini ia bentuk.
"Aku tidak suka kamu seperti ini, kamu sudah berapa lama tidak olahraga," tanya Sonia.
"Sudah dua bulan sayang, aku terlalu sibuk sampai aku tida sempat berolahraga," jawab Kenzo.
"Aku tidak suka sayang, aku suka dengan tubuh kamu yang dulu. Aku tidak mau tau, dalam satu bulan ini aku mau kamu membentuk tubuh kamu kembali. Kembaran kamu saja Kenzi masih sering ngegym." kata Sonia.
"Hehehe iya sayang, sudah aku ingin mengunjungi anak ku dulu," ucap Kenzo.
Malam hari nya Vivi dan Rakha sudah siap untuk berbelanja kebutuhan Cafe, mereka berdua sudah seperti pasangan suami istri yang kemana-mana harus bersama. Sedari tadi Rakha belum membuka handphone nya, ia yakin kalau handphone nya hidup Alice akan menganggu nya. Untuk mendengar nama Alice saja ia sudah sangat muak.
"Vivi," ucap Rakha.
"Iya, ada apa," tanya Vivi.
"Aku aku ingin menikahi mu," jawab Rakha.
"Rakha jangan aneh aneh deh, kamu saja belum selesai dengan pernikahan mu sebelum nya," kata Vivi.
"Akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pernikahan ku. Minggu depan kakek akan mengurus perceraian ku, nah setelah itu aku akan melamar mu dan menikahi mu. Aku takut kamu di ambil oleh pria lain," ucap Rakha.
"Aku tidak bisa memutuskan nya sendiri, aku harus membicarakan masalah ini dengan kakak," kata Vivi.
__ADS_1
"Iya aku tau, Aku juga akan membicarakan masalah ini dengan Rian, kau wanita baik-baik aku harus mendapatkan mu dengan cara yang baik pula," ucap Rakha sambil menggenggam tangan Vivi.
"Kamu tidak mempermasalahkan status duren ku kan," tanya Rakha.
"Duren." Vivi mengerucut dahi nya karena ia tidak tau apa yang di maksud dengan Rakha.
"Duren duda keran, hahaha aku kan akan mendapatkan gadis seperti mu," ucap Rakha.
"Aku gadis kamu duda, enak di kamu ya. Menang banyak, sudah mendapatkan dua wanita," kata Vivi.
"Berarti itu keberuntungan untuk ku." Rakha tertawa dengan sangat senang. Perasaan nya semakin membaik saat berdekatan dengan Vivi.
Sesampainya di minimarket. Vivi langsung mengambil semua barang yang ia perlukan. Dari keperluan dapur sampai barang yang memang harus di ganti.
"Sayang," ucap Rakha keceplosan.
"Sayang apa," tanya Vivi.
"Hehehe maaf maaf, aku salah bicara. Vivi kamu sudah biasa berbelanja seperti ini," tanya Rakha.
"Sudah biasa, tapi biasa nya aku di temani kakak atau bersama dengan Christian, tapi kalau dengan Christian hanya satu kali," jawab Vivi.
"Jangan membahas pria lain saat sedang bersama ku," ucap Rakha dengan wajah yang kesal.
"Hahaha maaf maaf, aku salah," ucap Vivi.
"Bisa lah, aku dan kakak sangat jago memasak," jawab Vivi.
"Vivi kamu harus tau yang di perlukan wanita bukan hanya memasak tapi bergoyang juga harus bisa," kata Rakha.
"Goyang bagaimana," tanya Vivi.
"Pokoknya bergoyang, aku sangat suka dengan istri yang pintar bergoyang."
"Apa istri mu itu pandai bergoyang," tanya Vivi.
"Ya begitu lah. Meskipun sifat nya seperti itu goyangan nya tidak pernah mengecewakan ku Tapi jangan sebut dia istri ku, mantan istri ku, dia sudah tidur dengan banyak pria aku tida punya istri seperti nya."
"Sabar Rakha jangan terlalu emosi seperti itu," kata Vivi.
"Aku tidak emosi Vivi, sudah belum belanja nya," tanya Rakha.
"Bagaimana aku mau selesai belanja, kamu saja terus mengajak ku berbicara," jawab Vivi.
"Hehehe sudah ayo kita serius berbelanja," ucap Rakha.
"Vivi...."
__ADS_1
Saat sedang asik asik nya berbelanja. Dari kejauhan ada seseorang pria yang memanggil nama Vivi.
"Christian," ucap Vivi.
"Oh itu pria yang bernama Christian. Biasa saja masih tampan aku," kata Rakha.
"Duda diam, dia masih perjaka," ucap Vivi.
"Apalah kamu." Rakha menunjukkan rasa kesal nya saat pria yang bernama Christian itu berjalan mendekati mereka berdua.
"Hay kamu sedang berbelanja," tanya Christian.
"Iya aku sedang berbelanja, kamu sedang apa di sini," tanya Vivi.
"Lagi mengantarkan mamah ku berbelanja," jawab Christian.
"Itu siapa, teman mu?"
"Pac....
"Iya teman ku, nama nya Rakha," ucap Vivi.
"Teman kamu yakin teman," tanya Christian.
"Iya aku teman nya, kenapa kau melarang nya berteman dengan ku," jawab Rakha.
"Tidak ah, kau seperti sensi begitu pada ku," tanya Christian.
"Tidak ah, itu menurut mu saja," jawab Rakha.
"Menurut ku hahaha iya mungkin hanya menurut ku," kata Christian.
"Sudah ya kami ingin lanjut berbelanja lagi ya. Titip salam untuk mamah mu," ucap Vivi yang memilih memisahkan Rakha dengan Christian sebelum semua nya terlambat. Mereka berdua sudah seperti dua pria yang hampir bertengkar.
"Aku tidak suka dengan nya," ucap Rakha.
"Sabar Rakha, dia juga seperti nya tidak suka dengan mu," kata Vivi.
"Bagus lah, aku tidak akan mau bertemu dengan nya lagi," ucap Rakha.
"Hahaha kalian tidak mungkin akan bertemu lagi, sudah temani aku bayar ini," kata Vivi.
"Aku yang akan membayar nya," ucap Rakha.
"Tidak Rakha, ini aku sudah membawa uang belanja," kata Vivi.
"Tidak calon istri ku tidak boleh banyak membantah," ucap Rakha.
__ADS_1