
"Enak saja, aku mana mungkin melakukan itu, sudah tidur lah," ucap Rakha.
"Hahaha iya iya." Vivi membalas pelukan hangat itu dan mulai tertidur.
Rakha memandang wajah Vivi dengan penuh rasa cinta. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita seperti Video Vivi, wanita yang membuat nya bisa melupakan istri nya dalam sekejap saja.
Tidak berbeda dengan Rakha dan Vivi, ntah kenapa Vano serta Anita selalu bersama, mereka berdua seperti memiliki ikatan yang membuat mereka seperti selalu di pertemukan.
"Eh bapak sedang menonton Tv," ucap Anita.
"Kau lagi, eh masakan aku makan," kata Vano.
"Bapak maaf sekali bukan nya saya tidak mau. Ini sudah malam hampir semua orang sudah kembali ke kamar mereka. Di dapur sendiri aku tidak berani" ucap Anita.
"Untuk apa kau takut, ya sudah aku temani bagaimana," tanya Vano.
"Kalau di temani aku berani, ya sudah ayo," jawab Anita.
"Mau dimasak ki apa pak," tanya Anita.
"Yang ada saja, aku tadi tidak ikut makan malam," jawab Vano.
"Kalau ayam kecap bagaimana, tadi aku habis berbelanja ayam," ucap Anita.
"Boleh, aku suka pedas buat yang pedas ya," kata Vano.
"Siap pak bos," ucap Anita.
Di dapur Anita langsung membuat makanan yang Vano minta. Vano melihat ke arah luar yang mulai hujan di sertai dengan kilat.
"Tuan kalau mati lampu lagi bagaimana," tanya Anita.
"Kau tenang saja, kan sudah pakai listrik sendiri, tadi langsung di sambungkan oleh satpam," jawab Vano.
"Oh begitu, hujan petir tapi tidak terlalu terdengar ya," kata Anita.
"Karena kita di lantai dasar, kalau di lantai paling atas tetap terdengar keras. Sudah masak belum," tanya Vano.
"Baru juga masak, ya belum lah pak. Mau saya buatkan minum dulu?"
"Boleh, aku ingin minum jus saja. Nanti kalau aku suruh buat kopi asin lagi," kata Vano.
__ADS_1
"Hahaha untuk kali ini tidak mungkin pak, saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi," ucap Anita.
"Iya iya sudah cepat buatkan aku jus apa saja," kata Vano.
Tak lama jus yang Vano minta sudah jadi. Ia langsung menyerahkan jus itu pada pemilik nya.
"Silahkan di minum pak," kata Anita.
"Oh iya bagus lah, kau tidak lambat ya kerja nya," ucap Vano.
"Pak aku besok ingin ke panti, uang gaji pertama ku sudah di berikan. Padahal aku baru beberapa hari bekerja," kata Anita.
"Hmmm iya lah, siapa yang mengantar," tanya Vano.
"Tidak ada, aku bisa memakai taksi atau GrabCar," jawab Anita.
"Aku yang akan mengantarkan mu," ucap Vano.
"Bapak yakin," tanya Anita.
"Iya lah, apa pernah aku berkata bohong," jawab Vano.
"Kau kenapa pulang ke panti," tanya Vano.
"Tunggu pak, kalau aku tinggal nanti gosong masakan nya." Anita kembali mendekati ayam kecap buatan nya.
"Aku ingin melihat adik adik di sana, sekalian ingin memberikan beberapa gaji saya untuk ibu panti," kata Anita.
"Kau yakin, gaji mu tidak seberapa tapi sudah mau memberikan gaji mu pada panti," ucap Vano.
"Kenapa tidak yakin pak, walaupun sedikit tapi tetap membantu mereka, walaupun tuan Verrel selalu memberikan kebutuhan panti tetap saja ada keperluan kecil yang tidak bisa kami minta pada tuan Verrel."
"Oh begitu ya sudah, besok sekalian kita membeli kebutuhan panti. Dan meminta izin," kata Vano.
"Izin apa tuan," tanya Anita.
"Izin menikah," jawab Vano.
"Hahaha iya iya," ucap Anita yang masih tidak konek dengan apa yang di katakan Vano.
Ayam kecap buatan Anita sudah matang. Anita menyajikan makanan itu dengan nasi hangat.
__ADS_1
"Aku tidak makan nasi," ucap Vano.
"Apa? bagaimana mungkin sejak kapan?"
"Sejak beberapa tahun yang lalu," ucap Vano.
"Jadi makan ayam saja tuan," tanya Anita.
"Hmmmm," gumam Vano.
Vano mulai memakan ayah kecap buatan Anita dengan sangat lahap. Wanita di depan nya ini sangat pintar memasak.
"Wah makanan," ucap Verrel.
Dengan cepat Verrel mengambil ayah kecap itu. Ia tidak tau jika ayam kecap itu sangat pedas.
"Ahkkkk ini pedas aku tidak bisa makan cabai," ucap Verrel dan langsung mengambil jus milik Vano.
"Memang keponakan kurang ngajar," ucap Vano.
"Pedas paman," kata Verrel.
"Sudah tau pedas kenapa tidak tanya dulu sebelum makan," ucap Vano.
"Hehehe maaf paman, oh iya sudah tengah malam begini kalian berdua masih di sini," kata Verrel.
"Lah kau kenapa turun dari kamar," tanya Vano.
"Aku haus, habis olahraga," jawab Verrel.
"Ups maaf paman, cepat lah menikah, jika hujan hujan begini paling enak olahraga malam," kata Verrel.
"Kurang ngajar."
Kembali pada Rakha dan juga Vivi. Meskipun sudah beberapa jam berlalu Rakha masih tidak bisa tidur. Ia sudah tidak bisa melihat wajah Vivi karena baterai handphone Vivi sudah habis.
"Akkk sial, adikku bangun," kata Rakha.
"Adik apa Rakha," tanya Vivi.
"Eh kamu belum tidur," tanya Rakha.
__ADS_1