Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 194 S4


__ADS_3

"Ma..maksud nya," tanya Vano yang sudah mulai panik.


"Istri Anda sudah kembali pada yang maha kuasa."


"A..apa istri saya..." Vano sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Van sabar Van, sabar." Alvaro yang selalu ada di sisi Vano langsung memeluk Vano dengan sangat erat. Ia tau bagaimana perasaan Vano saat ini.


"Istri ku al, istri ku..." Tangisan Vano pecah di dalam pelukan Alvaro, ia masih tidak menyangka jika istri nya telah pergi meninggalkan nya terlebih dahulu.


"Van, iya aku tau. Sudah sabar lah, semua yang bernyawa akan tiada. Ini yang terbaik untuk mu dan untuk istri mu. Kau lupa sudah cukup lama istri mu menderita penyakit ini, dia harus kontrol setiap minggunya, Tuhan sayang dengan nya, Tuhan tidak ingin istri mu merasakan sakit yang terlalu lama."


Vano sadar apa yang di katakan Alvaro benar. Ia tidak bisa menangis seperti ini, dengan menahan air mata nya Vano masuk ke dalam ruangan istri nya, ia ingin memberikan ucapan terakhir.


"Mah mah." Dari kejauhan perasaan Dylan sudah tidak enak, apalagi saat Alvaro mengabari keadaan mamah nya memburuk kembali, ia berlari dengan cepat masuk ke dalam ruangan mamah nya.


"Dylan tunggu." Alvaro menarik Dylan dan memeluk nya, ia melakukan ini agar Dylan tidak menganggu Vano.


"Mamah paman mamah," Ucap Dylan yang sudah banjir air mata.


"Paman tau, sudah jangan seperti ini. Lihat ayah mu, dia benar-benar kuat, jangan membuat hati nya kembali hancur," kata Alvaro.


"Terima kasih untuk kebahagiaan nya, aku yakin kamu tenang di sana, aku sangat mencintaimu. Aku...." Vano tidak bisa melanjutkan ucapan nya. Air mata yang ia tahan kembali menetes satu persatu.


"Mamah, mamah." Dylan langsung berlari mendekati mamah nya. Ia baru sadar jika mamah nya sudah pergi meninggalkan nya.


"Mamah bangun mah, mamah." Teriak Dylan sambil memeluk mamah nya.


"Sayang sudah sayang sudah." Lia menarik Dylan dan langsung memeluk nya. Mereka berdua sama-sama menangis sambil berpelukan. Berbeda dengan Vano yang sangat kuat, ia kembali mengusap air mata nya, Tidak ada boleh satu tetes air mata mengalir di wajah nya.


Hari itu menjadi hari yang buruk bagi keluarga Efron. Selama beberapa hari rumah keluarga Efron mendapatkan kiriman bunga sebagai ucapan bela sungkawa. Sudah beberapa hari ini juga Rakha belum bisa bertemu dengan kakek nya, ia yakin kakek nya bisa membunuh nya sekarang juga kalau ia nekat menemuinya. Saat pemakaman saja Rakha melihat dari kejauhan, karena larangan dari semua orang.


"Ayah, boleh cucu mu bertemu dengan mu," tanya Dylan.

__ADS_1


"Siapa? aku tidak mempunyai cucu," jawab Vano, kalimat yang singkat tetapi sangat menusuk bagi Rakha, dengan seperti ini Vano benar-benar sangat membenci nya dan sudah tidak menanggap diri nya sebagai cucu lagi.


"Kakek," ucap Rakha dengan wajah yang di penuhi dengan air mata.


Vano hanya sedikit menoleh ke arah Rakha, setelah itu ia kembali sibuk dengan handphone nya. Rakha berjalan mendekati Vano dan memeluk kaki Vano, ia memohon ampun agar Kakek nya mau memaafkan nya.


"Maafkan aku kek, maafkan aku hiks hiks hiks." Rakha menangis dalam pelukan itu.


"Aku tidak mengenal mu, jangan kotori kaki ku," ucap Vano dan menendang Rakha dari kaki nya. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu.


"Bagaimana ini ayah, kakek sudah sangat membenci ku," ucap Rakha.


"Sudah tenang lah, rasa benci itu pasti akan luluh."


"Aku akan terus merasa bersalah yah, aku yang membuat nenek pergi" kata Rakha.


"Tidak Rakha, sudah jangan kau pikirkan masalah nenek, dia sudah tenang di sana. Jangan membuat kakek mengingat nenek lagi," ucap Dylan.


"Bagaimana kalau kita mencari kan kakek wanita lagi," kata Rakha.


"Aku yakin kakek pasti akan butuh wanita untuk merawat nya. Tapi tidak sekarang juga, nanti setelah beberapa bulan ke depan."


"Sudah jangan pikirkan masalah itu, pikirkan bagaimana agar kakek mu mau memaafkan mu," kata Dylan.


"Hmmm aku akan tinggal di sini," ucap Rakha.


"Dimana istri mu," tanya Dylan.


"Dia ada pekerjaan du Belanda dan sudah kembali ke sana, tiga hari lagi dia akan kembali," jawab Rakha.


"Kau tidak meminta nya untuk berhenti bekerja, kalau terus begitu bagaimana mungkin dia bisa hamil," tanya Dylan.


"Tidak bisa yah, aku tidak bisa melakukan nya. Semua kontrak model nya berakhir akhir tahun, dia akan berhenti pada akhir tahun," jawab Rakha.

__ADS_1


"Oh begitu ayah saja tidak tau bentuk tubuh istri mu dari dekat. Pertama dan terakhir bertemu di Bandara."


"Nanti aku akan ku bawa ke sini yah, situasi tidak memungkinkan. Aku takut dia tertekan," kata Rakha.


Alvaro berjalan mendekati Vano, untuk saat ini ia lah yang memiliki tugas untuk membuat Vano kembali seperti semula. Hal itu sudah menjadi tanggung jawab nya.


"Hey kau sudah makan, kau sudah mandi, kau sudah olahraga lima jari," tanya Alvaro.


"Kau sudah gila," tanya Vano.


"Hahaha sudah lah, wajah mu terlihat sangat menyedihkan, kenapa harus sedih begitu. Kau ingat dia sudah tenang di sana, dia pasti ingin kayu juga bahagia di sini," jawab Alvaro.


"Hmmma apa aku harus liburan," ucap Vano.


"Mau liburan kemana, ahkk aku tau ke Hawai," kata Alvaro.


"Kenapa aku harus ke hawai," tanya Vano.


"Di sana banyak wanita cantik...


" Otak mu ya, Akan aku laporan ke istri mu," ucap Vano.


"Hahaha iya iya maaf, sudah aku akan memesan kan tiket liburan ke Hawai," kata Alvaro.


Saat ini Rian dan Monica sedang berkunjung ke rumah Verrel, tak lupa Vivi ikut dengan mereka berdua.


"Sayang kamu belum mengingat nya," tanya Rian.


"Belum, rumah nya besar sekali," jawab Monica.


"Hahaha iya mereka sangat kaya," kata Rian.


Rakha yang ingin keluar rumah, berpapasan dengan Vivi. Ia cukup terkejut ada wanita mungil seperti Vivi yang menurut nya sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Siapa wanita itu," batin Rakha.


__ADS_2