Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 337 S3


__ADS_3

Mereka berdua hanya mengandalkan lampu dari flash hp suasana sangat hening dan gelap gulita, Verrel sangat takut sampai ia memeluk ayah nya dari belakang.


"Mohon maaf bapak ibu penunggu pohon mangga ini, saya ingin meminta buah mangga nya untuk istri saya yang sedang hamil, saya mohon izin," batin Alvaro


"Verrel manjat Verrel," ucap Alvaro.


"Tidak mau yah aku sangat takut, aku tidak mau manjat," kata Verrel.


"Kalau begitu kau kumpulkan mangga di bawa, aku akan manjat," ucap Alvaro.


"Jangan lama-lama yah, aku benar-benar sangat takut," kata Verrel.


Alvaro mulai naik ke atas pohon, Verrel mengarahkan flash hp nya ke arah pohon agar Alvaro bisa mengambil buah mangga itu.


"Ayah cepat yah, aku sangat takut, ambil yang matang juga," ucap Verrel.


"Diam lah, aku sedang berjuang sebaik nya kau arah kan dengan benar lampu flash itu," kata Alvaro.


Tiba-tiba lampu Flash hp tersebut mati karena kehabisan baterai. Verrel langsung menutup mata nya karena ia sangat ketakutan, tubuh nya gemetar sampai ia menangis. Alvaro terjatuh dari pohon mangga itu, untung saja dia belum terlalu tinggi memanjat jadi tidak tidak terlalu merasakan sakit.


Alvaro berjalan mencari Verrel, ia meraba-raba tubuh Verrel dan langsung memeluk nya. Alvaro tau betul jika Verrel memiliki trauma akan kegelapan.

__ADS_1


"Hey tenang ada ayah di sini, tenang atur nafas mu dengan baik," ucap Verrel.


Verrel membalas pelukan itu, ia berusaha mengatur nafas nya dengan baik, tapi rasa takut nya benar-benar sangat besar sampai tubuh nya semakin berkeringat.


Alvaro melihat lampu senter dari kejauhan, ia berteriak sampai lampu senter tersebut mengarah pada nya.


"Kenapa pak, ada apa," tanya satpam yang sedang berkeliling.


Alvaro menjelaskan semuanya pada satpam itu, setelah ia membawa Verrel masuk ke dalam mobilnya agar Verrel dapat kembali tenang.


"Sudah tenang Verrel, maafkan ayah, ayah memaksa mu," ucap Alvaro.


"Kenapa semakin memburuk, kau tidak pernah cerita pada ku, kita bisa menyembuhkan nya di psikolog," kata Alvaro.


"Kau tunggu sini, aku akan mengambil nya dengan satpam itu," ucap Alvaro.


Alvaro kembali keluar dari mobil, ternyata dua satpam itu sudah mengambil kan mangga untuk Alvaro.


"Ini pak mangga nya, lain kali jika ingin mengambil nya minta tolong pada kami," ucap Satpam.


"Terimakasih, oh iya ini ada uang untuk membeli kopi dan makanan," Alvaro memberikan beberapa lembar uang sebagai ucapan terimakasih.

__ADS_1


Setelah itu Alvaro pergi meninggalkan rumah seram itu dan langsung pulang ke rumah.


"Ini mah bukan uang kopi, bisa untuk jajan satu minggu," ucap satpam itu.


Verrel membuka kantong keresek yang berisi mangga tadi, ia mencari mangga yang matang untuk istri nya.


"Wah ada yang matang yah, istri ku ingin yang matang," ucap Verrel.


"Untung ada satpam itu, jadi mereka bisa membantu kita," kata Alvaro.


"Itu karena aku berteriak yah, hahaha aku sangat malu," ucap Verrel.


"Sudah bisa ketawa ya, tadi kau menangis apa jangan-jangan penunggu pohon itu merasuki mu," kata Alvaro yang membuat Verrel kembali takut.


"Ayah jangan membuat ku takut lagi," rengek Verrel.


Sesampainya di rumah tugas mereka berdua belum selesai Alvaro dan Verrel harus membuat bumbu rujak yang di inginkan Angel dan juga Akifa yang ikut-ikut ngidam.


"Verrel jangan-jangan istri mu juga hamil," tanya Alvaro.


"Tidak mungkin yah, kami baru membuka nya tadi, lagi pula aku memakai pengaman," jawab Verrel.

__ADS_1


"Ini bagaimana cara membuat nya, ayah sudah lupa," Ucap Alvaro.


Angel dan Akifa sudah duduk di sofa kamar, mereka berdua menunggu para suami membawa bumbu rujak yang mereka minta. Mereka memilih kamar Verrel karena sekaligus menjaga si kembar yang masih terlelap.


__ADS_2