
Beberapa hari telah berlalu Angel sudah berada di rumah, Hari-hari nya sangat sempurna dengan kehadiran putra yang sangat tampan dan menggemaskan. Bagaimana dengan Alvaro? Jangan di tanya Alvaro hari-hari nya di penuhi dengan kecemburuan pada putra nya, walaupun begitu Alvaro tetap menyayangi anak putra tampan nya itu.
"Kau sangat tampan sekali, kenapa kau sangat tampan." ucap Alvaro yang sedang menggendong putra nya.
"Aaaahhh aku sangat kesal dengan mu, kenapa kau lebih tampan dari ku, sudah lah aku malas menggendong mu." Alvaro meletakkan Verrel di ranjang. Alvaro menamakan anak nya Verrell Aleksander Efron. Ia menyelipkan nama ayah nya karena permintaan dari Alex.
"Tapi aku tidak tega meninggalkan mu sendiri." Alvaro kembali mendekati Verrel.
Angel yang masih tidur terbangun dari tidur nya karena mendengar keributan suami nya.
"Ada apa dengan mu lagi, mau kau apakan anak mu itu." ucap Angel yang sudah terbiasa dengan keributan Alvaro dengan putra nya.
"Tidak ada, aku hanya bermain dengan Verrel." ucap Alvaro.
"Bermain lah, tapi jangan membuat nya menangis." kata Angel.
"Sayang, kamu sangat tampan, aku sangat menyayangi mu." ucap Alvaro.
"Sudah lah, aku tidak jadi menyayangi mu." Alvaro berjalan menjauhi Verrel.
"Sayang, mau kau tinggal anak mu." ucap Angel.
"Biar saja, dia bisa melakukan apapun sendiri." kata Alvaro.
"Awas saja, jika kamu meminta nya dari ku." Angel mengambil Verrel dan memberi nya asi.
"Kenapa selalu Verrel yang di berikan itu, aku juga mau." protes Alvaro.
"Tidak ayah, ini milik ku sekarang, ayah tidak berhak lagi." Angel menirukan gaya bicara anak kecil.
__ADS_1
"Verrel sayang, anak ayah yang tampan, boleh ayah meminjam bunda mu." ucap Alvaro.
"Tidak boleh, ayah bilang ayah tidak jadi menyayangi ku."
"Sayang itu kata mu, bukan Verrel dia mana tau arti berbagi." ucap Alvaro.
Sementara itu di kamar lain, Permintaan Vano semakin aneh-aneh, sampai-sampai Anggi kesal dengan Vano dan membiarkan nya sendiri, karena ia cepat merasakan lelah. Hari ini Vano muntah-muntah seperti ibu hamil, jika mengisi makanan ke dalam perut nya Vano pasti memuntahkan nya.
"Sayang, ada apa dengan mu, kenapa kamu seperti ini." ucap Anggi.
"Aku tidak tau, aku juga lelah." kata Vano.
"Kita tunggu dokter ya, aku juga cepat merasa lelah." ucap Anggi.
Setelah beberapa lama mereka menunggu akhirnya dokter yang mereka tunggu datang juga. Vano langsung di periksa begitu juga dengan Anggi, mereka di periksa secara bergantian.
Mereka berdua terkejut saat mengetahui kehamilan Anggi, apalagi yang ngidam malah Vano bukan Anggi.
"Kenapa malah suami ku yang ngidam." tanya Anggi.
"Itu sudah sering terjadi oleh beberapa orang, dan itu cukup normal. Tidak perlu di khawatir kan." jawab dokter.
"Kamu hamil sayang." Vano memeluk Anggi.
"Iya sayang, aku hamil, akhirnya." ucap Anggi.
Kembali ke pasangan Alvaro dan Angel, Angel masih marah pada Alvaro Karena membiarkan Verrel begitu saja di ranjang. Angel melarang Alvaro menggendong ataupun menyentuh Verrel.
"Sayang dia anak ku, kenapa aku tidak boleh menyentuh nya." ucap Alvaro.
__ADS_1
"Tidak boleh, tadi kamu meletakkan Verrel begitu saja di ranjang." tolak Angel.
"Tadi aku hanya bercanda, aku ingin memeluk nya, lihat lah dia seperti nya ingin bersama ayah nya." ucap Alvaro.
"Ayah nya tidak bertanggung jawab."
"Sayang, percaya lah pada ku, aku tidak akan seperti tadi." ucap Alvaro.
Meskipun Alvaro suka cemburu dengan putra nya ia tetap tidak tahan jika tidak menggendong putra nya, Tetapi saat sudah menggendong nya rasa cemburu nya mulai bangkit lagi dan itu membuat Alvaro terkadang suka meletakkan Verrel di mana saja.
Angel menyerah kan Verrel ke ayah nya, yang seperti anak kecil. Alvaro sangat senang mendapatkan Verrel kembali. Ia menghujani Verrel ciuman di wajah nya.
"Ayah menyanyi mu, kau berhak mendapatkan ketampanan ini." Ucap Alvaro.
"Tapi tetap saja, kau tidak boleh merebut bunda mu dari aku, awas saja kau melakukan nya, jika besar nanti aku akan membalas mu. Untuk sekarang aku tidak tega melakukan apapun pada diri mu yang sangat menggemaskan." bisik Alvaro di telinga Verrel.
"Uwekkk uwekk uwekkk." Verrel menangis di dalam pelukan Alvaro.
"Sayang, apa yang kau lakukan pada Verrel, kenapa dia menangis." tanya Angel.
"Aku tidak melakukan apapun." jawab Alvaro.
Alvaro berusaha menenangkan Verrel yang sedang menangis, ia membuat wajah selimut dan selucu mungkin agar Verrel tidak menangis lagi.
"Percuma kau melakukan itu, anak mu belum mengerti." ucap Angel.
Alvaro Menepuk-nepuk pantat Verrel hingga Verrel diam dan tidak menangis lagi. Tapi tiba-tiba Alvaro merasakan rasa hangat di tubuh nya.
"Aahhh dia mengencingi ku." terik Alvaro.
__ADS_1