
Setelah kurang lebih setengah jam mereka menunggu satpam itu membetulkan mobil akhirnya mobil tersebut dapat menyalah kembali.
"Terimakasih pak." Verrel memberikan beberapa lembar uang sebagai tanda terimakasih.
"Wah sama-sama mas, tapi mas-mas ini memang bukan pasangan homo kan." Tanya Satpam itu.
"Iya pak bukan, kami hanya ketakutan tadi. Oh iya pak, apa bapak tau dimana orang yang menjual sate kambing istri saya sedang ngidam sate kambing."
"Sate kambing ya, mas lurus aja nanti setelah ada lampu merah belok kanan, tidak jauh dari situ ada tukang sate kambing biasa nya jam segini masih buka." Ucap Satpam.
"Terimakasih pak." Vino dan Rizky langsung pergi menuju ke tempat yang di maksud oleh satpam itu.
"Kau yakin Verrel di sana ada." Tanya Rizky.
"Pasti ada, percaya dengan indra keenam ku, aku dapat petunjuk jika di sana ada sate yang istri ku ingin kan." Jawab Verrel.
"Kau jangan membohongi ku, bilang saja kau di beri tau oleh bapak satpam itu." Kata Rizky.
"Hehehe kau tau saja aku berbohong." Ucap Verrel.
Tak lama mereka berdua sampai di tukang sate yang satpam tadi maksud, Verrel dan Rizky langsung turun menghampiri tukang sate kambing tersebut.
"Pak pesan sate nya 1 bungkus." Ucap Verrel.
__ADS_1
"Alhamdulillah akhirnya ada yang beli juga, tunggu sebentar mas." Kata tukang sate.
"Kenapa sepi sekali pak, apa saya yang baru membeli sate bapak. Dagangan Bapak juga masih banyak." Tanya Verrel.
"Iya mas sedari pagi hanya beberapa orang yang membeli, maklum mas nama nya juga jualan terkadang ramai dan terkadang juga sepi." Jawab tukang sate.
"Kalau sepi, kenapa bapak masih jualan, sampai malam begini pak." Tanya Rizky.
"Mau bagaimana lagi mas, hanya ini pekerjaan saya, jika saya tidak jualan keluarga saya mau makan apa mas. Saya hanya bisa berharap ada yang mau membeli sate saya."
"Menurut saya pak, tempat bapak jualan kurang strategis sudah banyak tokoh dan restoran besar saingan bapak." Ucap Verrel.
"Mau bagaimana lagi mas, hanya tempat ini yang mampu saya sewa, Mas nya sendiri kenapa masih mau membeli sate pinggir jalan seperti ini, jarang loh orang kaya seperti mas mau membeli dagangan saya."
"Ah bapak bisa saja, sate ini untuk istri saya pak, dia sedang ngidam." Kata Verrel.
"Wah seperti nya anak saya akan seperti anak bapak juga, oh iya saya pesan semua saja." Ucap Verrel.
"Semua mas, untuk apa. Apa karena kasihan dengan saya, tidak perlu kasihan mas saya sudah bersyukur mas mau membeli dagangan saya." Tanya tukang sate.
"Tidak pak, saya ingin membelikan keluarga saya sate, dan para pelayan di rumah saya, mereka semua pasti senang jika saya belikan sate." Ucap Verrel.
"Apa mas ini serius mau membeli semua nya." Tanya tukang sate.
__ADS_1
"Serius pak, tapi kalau uang saya tidak cukup bisa di diskon pak." Tanya balik Verrel.
"Beres mas, saya kasih harga spesial." Jawab tukang sate yang sangat senang karena dagangan nya habis di beli Verrel.
"Rizky aku pinjam uang mu, uang cas ku tidak cukup tadi sudah ku beri untuk satpam." Bisik Verrel.
Tanpa banyak bicara Rizky menyerahkan dompet nya pada Verrel, untung saja Rizky selalu sedia uang cas yang cukup banyak.
Tak lama sate yang Verrel pesan siap kurang lebih 15 bungkus, tukang sate itu langsung memberikan nya pada Verrel.
"Ini mas satu bungkus nya 20 ribu dan ini 15 bungkus, karena mas beli banyak 200 ribu saja."
"Pak 200 ribu, seharusnya 300 ribu, bapak rugi nanti." Ucap Verrel.
"Tidak mas, saya sangat bersyukur mas sudah membeli semua dagangan saya."
"Ini pak uang nya." Verrel memberikan semua uang cas yang ia dan Rizky punya tidak tau berapa jumlah uang tersebut.
"Mas hanya 200 ribu, bukan 2 juta." Ucap Tukang sate dan hanya mengambil dua lembar.
"Sebelumnya maaf pak, kamu tidak bermaksud menyinggung bapak, ini uang untuk bapak anggap saja uang ini sebagai rasa terimakasih kami pada bapak karena sudah mengajar kan kami tentang rasa bersyukur." Ucap Verrel.
Tukang sate tersebut bergetar menerima uang sebanyak itu, ia langsung memeluk Verrel sebagai rasa terimakasih nya.
__ADS_1
"Terimakasih mas, saya tidak tau harus berkata apa lagi selain kata terimakasih." Tukang sate itu meneteskan air mata nya.
"Sama-sama pak, anggap saja ini rezeki dari Tuhan atas semua kerja keras dan kesabaran bapak." Ucap Verrel yang membalas pelukan tukang sate itu, Verrel tidak merasa jijik sedikit pun pada tukang sate itu yang tentu saja bauk asap.