
Beberapa hari telah berlalu Verrel masih belum sadar dari koma nya, Akifa juga tidak di perbolehkan Alvaro menunggu terlalu lama di rumah sakit karena kondisi Akifa yang sedang hamil, Akifa hanya bisa nurut karena itu juga untuk kebaikan nya dan bayi yang ada di dalam perut nya.
Alvaro yang terlalu lelah menunggu Verrel sampai ke tiduran di samping Verrel, ia tidak sadar jika Verrel mulai membuka mata nya.
Verrel mengedipkan mata nya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata nya. "Aku di rumah sakit." Ucap Verrel.
Verrel melirik ke arah Alvaro yang tengah tertidur, sebenarnya bukan Alvaro yang Verrel harapkan di tempat itu tetapi istri nya, harapan itu hancur dan hati Verrel kembali terasa sakit saat mengingat semua kejadian waktu itu.
"Ayah." Ucap Verrel sambil menepuk-nepuk tangan Verrel.
"Hmmm, sebenar sayang aku sangat lelah." Kata Alvaro.
"Ayah ini aku Verrel."
"Iya Verrel ada apa." Kata Alvaro yang masih belum sadar.
"Verrel." Ucap Alvaro dan langsung menaikan kepala nya.
"Iya aku, aku ingin minum." Kata Verrel.
"Kau sudah bangun, kau membuat ku sangat khawatir, akhirnya kau sadar." Alvaro langsung memeluk Verrel.
"Maaf yah, aku benar-benar sangat tidak berguna." Kata Verrel.
"Sudah jangan katakan apapun lagi, yang terpenting kau sudah sadar sekarang, jangan seperti ini lagi, kau benar-benar membuat ayah sangat takut." Ucap Alvaro.
Setelah memberikan Verrel minum, Alvaro menghubungi keluarga di rumah agar mereka datang untuk melihat Verrel yang sudah sadar.
Saat ini Verrel juga sedang di periksa oleh dokter untuk mengetahui kondisi Verrel lebih lanjut.
__ADS_1
"Bagaimana dok, apa Verrel terkena gangguan mental." Tanya Alvaro.
"Seperti nya belum ada tanda-tanda ke sana, tapi ada yang aneh dengan anak bapak, dia seperti memendam sesuatu di dalam hati nya, tekanan batin juga sangat berpengaruh pada psikolog nya." Jawab dokter.
"Apa yang Verrel pikiran, apa yang membuat nya merasa tertekan, aku juga merasa ada yang aneh dengan anak ini, dia bukan seperti Verrel seperti biasanya." Batin Alvaro.
"Sayang kamu sudah bangun." Ucap Akifa dan langsung memeluk Verrel.
Ntah kenapa pelukan itu membuat rasa sakit di hati nya semakin besar, Verrel langsung memalingkan wajah nya tanpa mau melihat wajah Akifa.
"Dari mana saja kamu." Tanya Verrel.
"Maaf aku tidak bisa menunggu mu." Jawab Akifa.
"Iya aku paham, aku tidak penting untuk mu." Ucap Verrel.
"Tidak ada, sudah aku gerah lepaskan pelukan mu." Jawab Verrel.
Akifa merasa ada yang berbeda dengan suami nya, ntah kenapa Verrel terasa sangat jauh dari nya padahal jelas-jelas Verrel berada tempat di hadapan nya.
"Bunda, aku ingin minum." Ucap Verrel.
"Aku saja bun." Kata Akifa sambil mengambilkan Verrel segelas air mineral.
"Terimakasih." Ucap Verrel tanpa melihat wajah Akifa.
"Bagaimana sayang, apa kondisi Verrel sudah baik-baik saja." Tanya Angel.
"Sudah lebih baik sayang." Jawab Alvaro.
__ADS_1
"Ayah aku mau pulang." Ucap Verrel.
"Tidak bisa, kau masih tetap berada di sini sampai dokter mengizinkan mu pulang." Tolak Alvaro.
"Aku mau pulang, aku mau pulang yah." Ucap Verrel dengan nada yang tinggi.
Hal itu membuat semua orang terkejut, karena Verrel sama sekali tidak pernah berbicara dengan nada yang tinggi ada ayah nya.
"Verrel turunkan nada bicara mu." Ujar Vano.
"Aku mau pulang yah, hari ini aku mau pulang." Ucap Verrel.
"Iya kau akan pulang, sudah puas. Sekarang istirahat lah." Kata Alvaro.
"Kalian semua keluar dari sini, aku ingin bersama istri ku." Ucap Verrel.
"Verrel kenapa dengan mu." Tanya Dylan.
"Keluar." Ucap Verrel yang kembali dengan suara yang tinggi. "Kau juga sekarang aku ingin sendiri."
Mereka semua keluar dari ruangan itu meninggal kan Verrel yang ingin sendiri. Alvaro kembali masuk ke dalam ruang dokter untuk menanyakan tentang Verrel yang cukup drastis mengalami perubahan.
"Emosi nya sangat tidak stabil, ini yang saya khawatir kan." Ucap dokter.
"Untuk sekarang kita turuti semua kemauannya, sebiasa mungkin bapak mencari apa penyebab tekanan yang Verrel alami."
"Baik dok, saya mengerti." Ucap Alvaro.
"Kenapa Akifa, kenapa kau menyakiti ku, kau bilang kau tidak ingin menikah lagi dan mau menerima ku, tapi kau malah bermain di belakang ku." Ucap Verrel sambil menggenggam tangan nya dengan sangat kuat.
__ADS_1