Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 215 S4


__ADS_3

"Hey kau marah," tanya Vivi.


"Aku tidak berhak marah, mungkin apa yang di katakan kakak mu benar," jawab Rakha.


"No, tidak benar. Semua yang di katakan kakak ku salah. Kau pria yang sangat baik, aku tau kau pasti pria yang sangat baik, mungkin beberapa hal yang membuat kakak mu tidak suka dengan mu karena status mu masih suami Wanita lain," kata Vivi.


"Apa aku benar pria yang baik," tanya Rakha.


"Iya Rakha selama aku dekat dengan mu, aku nyaman dekat dengan mu," jawab Vivi.


Rakha membalik tubuh nya, secara perlahan Rakha mendekati Vivi dan menyentuh tangan Vivi. Ia ingin meminta kejelasan dari Vivi, untuk melanjutkan masa dosa nya.


"Rakha," ucap Vivi.


"Vivi aku ingin bertanya pada mu, tapi kau harus menjawab pertanyaan ku dengan jujur," kata Rakha.


"Perutnya apa," tanya Vivi.


"Jawab dulu apa kamu bisa menjawab pertanyaan ku dengan jujur," tanya Rakha.


"Pertanyaan apa Rakha, jangan membuat ku penasaran."


"Jawab dulu, bisa atau tidak," tanya Rakha.


"Iya aku akan menjawab pertanyaan mu dengan jujur," jawab Vivi.


"Vivi aku suka dengan mu, aku suka dengan mu meskipun aku sudah memiliki seorang istri, aku ingin melanjutkan hubungan kita ke tahap yang lebih serius. Tapi sebelum itu aku ingin mendengar kata cinta dari bibir mu. Vivi apakah kau suka dengan ku," tanya Rakha.


"Aku... aku tidak tau," jawab Vivi.


"Kau tidak jujur, pertanyaan ku hanya ada dua jawaban suka atau tidak. Aku tanya sekali lagi, apa kau suka dengan ku," tanya Rakha.


"Iya Rakha aku suka dengan mu, tapi kau masih dalam proses berpisah dengan istri mu, bagaimana mungkin kita melanjutkan hubungan kita lebih serius," jawab Vivi.


Rakha yang mendengar jawaban itu dari Vivi langsung memeluk Vivi dengan erat. Ia sudah menduga jika Vivi memang suka padanya.


"Aku sangat menyayangi mu. Beri aku waktu tiga hari. Aku akan membawa surat perpisahan diri ku dan istri ku. Pulang lah ke rumah kakak mu, aku akan datang untuk melamar mu," ucap Rakha.


"Rakha." Vivi melihat kesungguhan dari perkataan Rakha.


"Aku pergi dulu, jangan pulang ke rumah, pulang ke rumah kakak mu." Rakha mengecup dahi Vivi dan pergi meninggalkan Vivi, ia ingin segera menyelesaikan semua nya.


Vivi kembali masuk ke dalam Cafe dengan perasaan yang campur aduk, ia tidak tau apa yang di katakan Rakha benar Sungguh-sungguh atau tidak. Yang terpenting saat ini ia hanya menuruti apa yang Rakha minta.


"Vivi, dimana Rakha," tanya Rian.


"Sudah pergi, aku akan pindah ke rumah kakak," jawab Vivi.


"Kenapa," tanya Rian.


"Aku malu dengan Rakha, aku malu dengan perlakuan kakak yang tidak baik pada Rakha, kakak lupa keluarga Efron sangat berjasa pada kita," jawab Vivi.


"Ya sudah aku akan minta maaf pada nya," ucap Rian.


"Tidak perlu kak, sudah ini sudah mulai gelap. Kita tutup saja Cafe nya, aku sedang tidak mood untuk berjualan," ucap Vivi.


Vano dan Anita sudah dalam perjalanan pulang. Mereka berdua hampir seharian di panti yang membuat mereka berdua semakin dekat saja. Tidak ada lagi raaa canggung di antara mereka berdua.


"Bapak lapar," ucap Anita.


"Mau makan apa," tanya Vano.


"Makan di pinggir jalan pak, pecel lele atau ayam bakar juga enak," jawab Anita.


"Punya langganan tidak, kalau punya kita ke sana saja," tanya Vano.


"Ada pak, tidak jauh dari rumah, nanti aku kasih tau tempat nya," jawab Anita.


Sesampainya di tempat makan yang Anita maksud mereka berdua langsung turun dari mobil. Sejak sekian lama Vano kembali makan di tempat seperti ini lagi. Ia terakhir makan di warteg saat istri nya sedang hamil Dylan.


"Aku pesan dulu, bapak duduk saja," kata Anita.

__ADS_1


"Iya, aku duduk di sana." Vano pergi meninggalkan Dylan.


"Mang saya pesan seperti biasa nya ya. Satu porsi seperti biasa nya kalau yang satu tidak pakai nasi. Di tambah ayam bakar, ikan bakar dan ayam goreng, Sambal nya yang banyak. Untuk minuman jus jeruk dan tes es dua," ucap Anita.


"Siap nona, silahkan di tunggu."


Anita berjalan mendekati Vano yang sudah duduk terlebih dulu. Vano sudah sibuk dengan handphone nya yang sejak pagi tidak ia buka.


"Kakek," rengek Rakha.


"Hmmmm." Vano membalas singkat pesan dari Rakha.


"Dimana, aku ingin membicarakan hal yang penting," tanya Rakha.


"Nanti aku akan pulang, tunggu di kamar. Jangan ganggu aku, aku sedang sibuk." Vano mematikan handphone nya sebelum Rakha menghubungi nya.


"Kau sudah disini, mengejutkan ku saja," ucap Vano.


"Bapak saja yang sibuk dengan handphone nya. Sampai tidak sadar kalau aku sudah di sini," ucap Anita.


"Sudah pesan kan," tanya Vano.


"Sudah, paling sebentar lagi juga datang pesanan nya," jawab Anita.


"Anita tadi apa yang di katakan pengurus panti," tanya Vano.


"Tidak ada yang penting pak, mereka pikir kita datang ke panti untuk meminta izin."


"Meminta izin apa," tanya Vano.


"Menikah pak," jawab Anita.


"Kau mau," tanya Vano.


"Mau apa pak," tanya Anita, mereka berdua saling bertanya karena tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan.


"Tunggu dulu, kenapa jadi tidak nyambung begini," tanya Vano.


"Oh begitu. Sekarang giliran aku ingin bertanya kau mau menikah tidak?"


"Ya mau lah pak, saya pasti akan menikah," kata Anita.


"Dengan siapa," tanya Vano.


"Dengan bapak," jawab Anita.


"Apa!! kau serius." Wajah Vano berubah serius seketika.


"Hehehe maaf Pak, saya bercanda kok," kata Anita.


"Eh kau ya, aku pikir serius," ucap Vano.


"Permisi nona dan tuan." Satu persatu makanan yang Anita pesan datang.


"Wah banyak sekali," ucap Vano.


"Memang banyak pak, kan bapak tidak makan nasi jadi perlu lauk pauk yang banyak," kata Anita.


"Hahaha ya ya ya, kau benar ya. Sekarang aku coba ya, apa langganan mu itu enak atau tidak," ucap Vano.


"Bagaimana pak," tanya Anita yang sangat eksaited melihat Vano mencoba makanan yang ia pesan.


"Enak aku suka, aku baru tau di sini ada makanan seenak ini," jawab Vano.


"Yes.. Ternyata lidah kita sama pak," ucap Anita.


Rakha sedang duduk di depan Piano, saat ini ia sedang les piano bersama dengan Vero. Vero sangat jago bermain piano, itu sebabnya Rakha meminta Vero menjadi guru nya.


"Vero jangan aneh-aneh, mana mungkin aku main piano hanya pakai ****** ***** saja," tanya Rakha.


"Biasa nya juga aku juga tidak pakai apa-apa," jawab Vero.

__ADS_1


"Sudah sekarang kau bernyanyi sambil bermain," ucap Vero.


Lirik.


Tergoda aku 'tuk berpikir


Dia yang tecinta


Mengapa telah lama tak nampak


Dirimu di sini


Jangankan ingin kutersenyum


Tak ada gairah


Kuingin selalu bersamamu


Kini 'ku resah


Diriku lemah tanpamu


Ho-o-o-o ...


Gapai semua jemariku


Rangkul aku dalam bahagiamu


Kuingin bersama berdua selamanya


Jika kubuka mata ini


Kuingin selalu ada dirimu


Dalam kelemahan hati ini


Bersamamu aku tegar


Kini 'ku resah


Diriku lemah tanpamu


Ho-o-o-o ...


Gapai semua jemariku


Rangkul aku dalam bahagiamu


Kuingin bersama berdua selamanya


Jika kubuka mata ini


Kuingin selalu ada dirimu


Dalam kelemahan hati ini


Bersamamu


Jika kubuka mata ini


Kuingin selalu ada dirimu


Dalam kelemahan hati ini


Bersamamu


Aku tegar


Ho-o-o-o ...


'Ku tegar

__ADS_1


__ADS_2