
"Akifa." Teriak Verrel.
"Sayang aku di sini." Saut Akifa yang mendengar suara Verrel.
Sebelum Verrel mencari sumber suara Akifa. Mereka sudah di hadang oleh Indra dan pasukan nya.
"Kau dalang dari masalah ini, kau mau tau bagaimana cara keluarga Efron menyelesaikan masalah nya." Ucap Alvaro.
"Ayah, bagaimana ini aku mendengar suara Akifa, seperti nya dia berada di dalam masalah." Kata Verrel.
"Pergi lah, ayah akan mengatasi semua nya, sebentar lagi kakek mu dan yang lainnya pasti akan masuk." Ucap Alvaro.
"Semangat yah." Verrel berlari ke arah yang ia yakini tempat Akifa berada.
Tembakan mengarah ke pada nya, tapi ia tidak peduli dan terus berlari secepat mungkin. Alvaro dan pasukan yang tersisa membalas tembakan itu untuk melindungi putra nya.
Akifa mengambil nafas dalam-dalam karena sebentar lagi dia akan tenggelam. "Sayang aku mohon tolong aku." Batin Akifa dan diri nya sepenuhnya tenggelam di dalam kolam renang itu.
"Sayang." Verrel yang melihat itu langsung terjun masuk ke dalam air. Dengan susah payah Verrel melepaskan ikatan di tubuh Akifa. Akifa sudah pingsan karena terlalu banyak meminum air, tak lama Verrel berhasil melepaskan ikatan itu dan membawa Akifa naik ke atas.
"Sayang, bangun sayang." Verrel mulai memberikan nafas buatan pada Verrel.
Setelah beberapa saat Akifa terbatuk dan mengeluarkan banyak air dari mulut nya.
__ADS_1
"Sayang." Verrel memeluk Akifa dengan sangat erat.
"Terimakasih telah menyelamatkan ku." Ucap Akifa.
Alvaro dan pasukan nya sudah memukul mundur Indra dan pasukan nya. Dengan tangan kosong Alvaro menghabisi Indra dengan ganas nya, ia melampiaskan rasa marah nya pada orang yang membuat putra nya menangis.
"Mati kau." Satu tendangan berhasil membuat Indra terpental sangat jauh.
"Ayah." Ucap Verrel.
"Verrel." Alvaro mendekati Akifa dan Verrel.
"Kau baik-baik saja." Tanya Alvaro.
"Iya yah, Akifa baik-baik saja." Jawab Akifa.
"Awas." Teriak Alvaro dan menjadi kan tubuh nya tameng.
"Dor." Satu peluru keluar dan menancap di tubuh Verrel yang ternyata terlebih dulu berlari ke depan ayah nya.
"Verrel." Ucap mereka berdua dengan kompak.
Alex yang baru masuk langsung menembaki Indra sampai Indra benar-benar mati.
__ADS_1
"Verrel." Alvaro berusaha membangun Verrel.
"Sayang, sayang, jangan seperti ini." Akifa hanya bisa menangis.
Mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit terdekat. Sebelum itu Alex menghubungi Agnes dan Angel untuk datang ke rumah sakit yang mereka tuju sekarang.
Verrel langsung di larikan ke UGD, tembakan itu tepat mengenai jantung Verrel, itu sebab nya Verrel tidak sadar diri seketika.
Mereka semua hanya bisa menunggu Verrel di depan ruang UGD itu, Alvaro dan Akifa hanya bisa menangis dan berdoa meminta yang terbaik untuk keselamatan Verrel.
Angel dan Agnes datang dengan terburu-buru, Angel langsung memeluk Alvaro dengan erat. Melihat anak menangis saja ia tidak bisa apalagi melihat Verrel masuk ke dalam UGD sudah pasti itu menghancurkan hati Alvaro.
Agnes memeluk Akifa, ia ingin menenangkan menantu baru di keluarga Efron. "Tenang sayang, suami mu pasti baik-baik saja." Ucap Agnes.
Verrel menjalani operasi darurat untuk mengambil peluru di tubuh nya, ia juga mengalami pendarahan hebat yang membuat Verrel memerlukan transfusi darah yang cukup banyak.
Alvaro dan Alex yang dara nya sesuai dengan Verrel menyumbangkan darah mereka sebanyak mungkin yang mereka bisa. Bahkan Alvaro sanggup memberikan semua darah nya demi keselamatan anak nya.
Setelah berjam-jam berada di ruang operasi akhirnya Verrel keluar dengan keadaan kritis. Hidup nya berada di dua alam berbeda.
Akifa duduk di samping tubuh Verrel untuk menjaga suami nya, air mata nya terus saja menetes membasahi wajahnya. Alvaro juga berada di dalam ruangan itu, hanya mereka berdua yang di perbolehkan masuk demi keadaan pasien.
Angel dan yang lainnya memilih untuk pulang dan akan kembali besok untuk membawa makanan dan pakaian ganti.
__ADS_1
"Maaf kan ayah Verrel, ayah tidak bisa menjaga mu, ayah gagal Verrel." Alvaro menangis sambil menggenggam tangan Verrel dengan erat. Hati Akifa benar-benar tersentuh, kasih sayang Alvaro pada Verrel benar-benar besar.
Hari demi hari berlalu Verrel masih belum menuju kan perubahan yang signifikan. Malahan beberapa kali kondisi Verrel menurun drastis, tentu saja itu membuat mereka semua sangat khawatir.