
"Ahkkkkk." Teriak Rakha.
"Tahan Rakha kau lemah sekali, baru seperti itu saja sudah berteriak," kata Vano.
"Sakit kakek, ini semua karena mu," ucap Rakha.
"Sayang tidak boleh begitu, sudah jangan menangis seperti itu," kata Vivi.
"Aku tidak menangis tapi ini benar-benar sangat sakit sekali," ucap Rakha.
"Tidak menangis tapi menurunkan air mata, apa nama nya itu jika tidak menangis," kata Vano.
"Kakek diam lah, bagaimana aku bisa cepat selesai di pijat kalau kakek berisik seperti ini," ucap Rakha.
"Tahan." Tukang pijat itu kembali membenarkan pinggang Rakha yang sudah bergeser dari tempat nya.
"Ahkkkk sakit sekali, ampun," teriak Rakha.
Mereka semua yang penasaran dengan Rakha langsung masuk ke dalam kamar. Kenzi dan Kenzo tertawa terbahak-bahak melihat Rakha yang menderita seperti ini.
"Sakit," teriak Rakha.
"Sudah selesai."
Setelah selesai di pijat Rakha lemas seketika, tetapi pinggang nya yang sakit tidak sakit kembali, semua nya terasa lebih baik dari sebelumnya.
"Hahaha kau aneh sekali," kata Kenzi.
"Berapa ronde si sampai kau sakit pinggang begini," tanya Kenzo.
"Berapa ronde apa nya, aku habis jatuh dari pohon, kau pikir aku lemah."
__ADS_1
"Hahahaha jatuh, pantas saja, kami pikir kau tidak kuat," ucap Kenzi.
"Bukan nya mendo'akan ku agar cepat sembuh malah kalian memperburuk situasi, sudah pergi sana jangan membuat ku kesal," kata Rakha.
"Cepat sembuh Rakha, semoga saja kau tidak mengecewakan istri mu."
Sebelum Rakha marah Kenzi dan Kenzo pergi meninggalkan kamar Rakha. Rakha menggoyangkan bokong nya beberapa kali, pijatan tukang pijat itu memang sangat jago dan hebat. Bukti nya Rakha sudah tidak merasakan sakit lagi di bokong nya.
"Sudah tidak sakit, malam ini gas," kata Rakha.
"Sudah balikan sayang," tanya Vivi.
"Sudah sangat baik sayang," jawab Rakha.
"Boleh, aku sudah mandi dan selesai, kamu siap-siap gih," kata Vivi.
"Asiap pak bos, aku siap siap dulu." Dengan semangat Rakha berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Rasa sakit di pinggang nya sudah hilang yang membuat nya bisa bergerak dengan bebas.
"Sayang sakit sayang," teriak Sonia sambil berusaha keluar dari kamar.
Vero yang tidak sengaja melihat Sonia kesakitan langsung berlari mendekat, ia tidak mungkin membiarkan ipar nya begitu saja.
"Sonia ada apa? kau kenapa," tanya Vero.
"Paman sakit paman, perut ku," jawab Sonia.
"Maaf." Dengan cepat Vero menggendong Sonia, ia berlari masuk ke dalam lift agar cepat sampai di lantai dasar.
"Sayang." Kenzo berlari mendekat saat melihat Vero menggendong Sonia dengan terburu-buru.
"Istri mu, siapkan mobil, mungkin bayi kucing mau keluar," kata Vero.
__ADS_1
"Enak saja bayi kucing." Kenzo langsung menyiapkan mobil, tangan nya gemetaran karena ia pikir Sonia akan melahirkan.
"Paman kau yang menyetir," kata Kenzo.
"Hmmm iya." Vero memberikan Sonia pada Kenzo, kemudian ia masuk kedalam mobil.
Di perjalanan rasa sakit yang Sonia rasakan sudah menghilang. Ia tidak tau kenapa hilang begitu saja padahal tadi, rasa sakit yang ia rasakan sangat membuat nya tersiksa.
"Sayang," ucap Sonia.
"Iya ada apa, sudah mau keluar, tahan dulu kepala nya masukan ke dalam lagi," kata Kenzo.
"Maaf sayang sudah tidak sakit, seperti nya hanya kontraksi biasa saja," ucap Sonia.
"Ahkkkk sayang kau membuat kami khawatir," kata Kenzo.
"Bagus lah, aku senang mendengar nya, hmmm kalau sudah sembuh berarti nanti malam."
"Sama yang kamu pikirkan nanti malam gas dong, sudah hari ini kita sedang santai, lebih baik kita ke cafe saja," kata Rakha.
Alice sedang dalam perjalanan ke Indonesia, ia meminta penjelasan kenapa Rakha mengurus surat perpisahan tanpa sepengetahuan nya. Ia masih tidak mau berpisah dengan Rakha yang jelas jelas pria yang sangat ia cintai.
"Kamu yakin cara ini berhasil," tanya Alice.
"Yakin lah, aku tanya pada mu, kalau bukan dia siapa lagi," jawab Stefan.
"Kau dan April," kata Alice.
"Tidak mungkin, sudah yakin saja," ucap Stefan.
Note :Novel ini akan segera tamat. 😁
__ADS_1