
"Kau lama sekali si," tanya Vano.
"Aku lelah kek aku sangat mengantuk," jawab Rakha.
"Sudah maafkan aku. Aku pasti memerlukan bantuan mu kalau aku membangunkan mu," kata Vano.
"Ada apa kek, aku hanya pakai celana pendek loh. Jangan membawa ku kemana-mana," ucap Rakha.
"Temani aku ke kebun, nenek mu ngidam, aku tidak mau membuat anak ku nanti ngences," kata Vano.
"Hadeh hanya itu tapi sampai membangunkan ku," ucap Rakha.
Rakha dan Vano langsung berjalan ke kebun rumah. Di sana sudah banyak pohon yang Alvaro tanam untuk para wanita yang sedang ngidam. Ia sudah belajar dari pengalaman sebelum nya. Kalau wanita sedang hamil pasti meminta hal yang tidak-tidak.
Di kebun Rakha dan Vano tercengang karena buah yang ada di pohon tersebut tinggal yang tinggi-tinggi. Hanya beberapa pohon yang bisa mereka berdua gapai.
"Bagaimana ini kek," tanya Rakha.
"Aku punya ide," jawab Vano.
Vano mengambil sebuah plastik dan juga tali. Setelah itu ia mengikatkan tali dan plastik tersebut di pinggang Rakha.
"Ini apa maksud nya kek," tanya Rakha.
"Kau kan bisa manjat berarti kau yang naik ke atas. Sedangkan aku mengambil buah yang bisa aku gapai," jawab Vano.
"Aku pasti menjadi korban kakek," ucap Rakha.
Rakha langsung naik ke pohon yang bisa ia panjat. Sedangkan Vano mengambil buah-buahan yang pendek dan yang pasti rasa nya masam.
"Ada ya buah seperti ini," ucap Vano.
"Ahkkk ini kenapa banyak sekali semut nya." Rakha berusaha menghalau semut yang ingin mengigit nya.
Setelah berpindah dari pohon satu yang ke pohon lainnya. Rakha memutuskan untuk menyudahi aksi memanjat nya, lagi pula kantong plastik yang ia bawa sudah penuh.
__ADS_1
"Akkhhhh ulat." Teriak Rakha yang tidak sengaja menyentuh ulat yang membakar tangan nya.
"Ulat kurang ngajar." teriak Rakha.
Karena Rakha tidak konsetrasi ia mulai kehilangan keseimbangan tubuh nya. Dah tak lama.
"Buggkkk" Rakha terjatuh dari atas pohon.
"Ahkkkk sakit." Teriak Rakha.
"Rakha." Dengan cepat Vano mendekati Rakha.
"Untung saja tidak papa, aku tidak mungkin mengambil buah ini lagi kalau rusak," ucap Vano.
"Kakek." Teriak Rakha.
"Eh iya maaf, aku tidak mengingat mu," ucap Vano.
Vano membantu Rakha kembali masuk kedalam kamar nya. Pinggang Vano keseleo yang menyebabkan nya harus di urut.
Rakha berjalan secara perlahan masuk ke dalam kamar nya. Pinggang nya terasa sangat sakit, ia yakin kalau tidak segera di urut ia tidak akan bisa malam pertama.
"Sayang," ucap Rakha.
"Iya kamu kenapa, kenapa dingin sekali si." Vivi menarik selimut nya lebih tinggi lagi.
"Ya bagaimana tidak dingin. Kamu lihat saja apa yang kamu pakai," kata Rakha.
"Yang aku pakai." Vivi membuka selimut yang menutupi tubuh nya.
"Ahkkkkk." teriak Vivi.
"Kamu kenapa sayang," tanya Rakha.
"Kamu kamu berbuat apa pada ku?"
__ADS_1
"Tidak ada ah. Sini aku lihat apa yang aneh." Rakha mendekati Vivi.
"Jangan akkkk," teriak Vivi sambil menendang Rakha sampai Rakha jatuh ke lantai.
"Aduh aaaakkk sakit sekali," ucap Rakha.
"Ehh maaf sayang, sakit sekali ya." Vivi langsung membantu Rakha bangkit dari atas lantai.
"Kamu kenapa sayang, seperti nya sakit sekali," tanya Vivi.
"Aku habis jatuh dari atas pohon. Dan kamu malah menendang ku lagi," jawab Rakha.
"Maaf sayang aku tidak sengaja."
"Seperti nya malam pertama kita akan di tunda," kata Rakha.
"Kita belum malam pertama sayang," tanya Vivi.
"Belum lah, kamu ada-ada saja. Kita belum malam pertama sedikit pun. Aku saja belum melihat semua nya," jawab Rakha.
"Jadi kenapa aku bisa hanya memakai pakaian dalam saja?"
"Kamu kemarin ketiduran. Aku melepaskan gaun mu, aku tidak mungkin membangunkan mu," kata Rakha.
"Oh begitu maaf ya sayang."
Rakha menarik Vivi ke dekat nya. Melihat Vivi yang hanya memakai pakaian dalam saja membuat apa yang terpendam bangkit.
"Sayang," ucap Vivi.
"aahkkk sakit nya. Turun kan itu," kata Rakha.
"Ini," tanya Vivi.
"Iya lah, aku ingin melihat keindahan nya."
__ADS_1
"Aku malu, kamu nanti mengejek ku. Pasti tidak sebesar mantan istri mu," kata Vivi.