Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 99 S4


__ADS_3

"Ayah," ucap Vero.


"Ada apa," tanya Alvaro.


"Aku merindukan mu." Vero memeluk Alvaro dengan sangat erat.


"Hahaha kita tinggal satu rumah, dan kau masih merindukan ku, kau ada-ada saja."


"Aku benar-benar merindukan mu, menjadi dewasa benar-benar tidak enak. Aku sangat menyayanginya rindu aroma tubuhmu, aku ingin tidur dengan mu lagi," rengek Vero.


"Hey hey hey, kau sudah dewasa, jangan seperti itu. Oke sekarang kau mau kemana aku antar kan," tanya Alvaro.


"Aku ingin makan yang asam-asam, ayah kan menanam buah di kebun belakang. Ayo temani aku ke sana," jawab Vero.


"Ada apa dengan mu, kenapa kau ingin makan yang asam-asam," tanya Alvaro.


"Aku hanya ingin makan yah, benar-benar ingin makan, aku juga tidak tau," jawab Vero.


"Ya sudah aku ganti baju dulu."


"Ikut," rengek Vero.


Setelah selesai berganti baju. Alvaro dengan anak manja nya langsung berjalan ke belakang rumah, mereka cukup terkejut pohon yang Alvaro tanam beberapa tahun lalu sudah berbuah dengan sangat lebat.


"Aku jadi ingin makan juga, kau manjat sana," ucap Alvaro.


"Oh tidak bisa," tolak Vero.


"Kenapa tidak bisa," tanya Alvaro.


"Ayah aku tidak bisa manjat. Kau saja lah," jawab Vero.


"Anak kurang ngajar, aku akan memetik yang tinggi dan kau yang rendah. Kumpulkan buah nya setelah itu kita bawa ke dapur," ucap Alvaro.


"Siap pak bos."


Alvaro benar-benar sangat bersyukur karena Vero masih manja begini pada nya. Jika ia bisa meminta ia ingin Vero tetap begini untuk selama nya.


"Buah apa ini, aku memang cari yang asam, tapi tidak sampai asam sekali begini," ucapan Vero.


"Ayah ini buah apa," tanya Vero sambil menunjukan buah itu pada Alvaro.


"Itu belimbing, bunda mu yang membeli nya. Jika ingin tidak terlalu asam, ambil yang berwarna Kekuningan-kuningan."


"Oh belimbing, baru tau aku," ucap Vero.


Vero mengambil beberapa buah belimbing itu, kemudian ia kembali berjalan untuk mencari buah lainnya.

__ADS_1


"Itu aku tau, jambu biji. Ini tidak masam tapi aku sangat suka," kata Vero.


Setelah puas dengan mengambil buah yang ada di sana, Alvaro dan Veri langsung kembali masuk ke dalam rumah. Mereka membawa buah ini ke dalam dapur dan meminta pelayan untuk membersihkan buah tersebut.


"Kau tidak sakit kan," tanya Alvaro.


"Tidak yah, aku hanya ingin makan saja. Kau tenang saja," jawab Vero.


"Oh, aku panggil bunda mu dulu, dia pasti sangat senang jika tau pohon yang dia tanam berbuah dengan sangat lebat," kata Alvaro.


"Iya panggil lah, kalau perlu semua orang yang ada di sini, ini sangat banyak jika di makam ramai-ramai pasti sangat enak."


Alvaro pergi memanggil istri nya, sedangkan Vero masih setia menunggu pelayan membersihkan buah nya.


"Kau pelayan baru," tanya Vero.


"Iya tuan, nama saya Sofia.


"Oh Sofia, pantas saja aku baru melihat mu."


"Iya tuan, saya baru masuk beberapa hari lalu, menggantikan pelayan lama yang sudah tua," kata Sofia.


"Mau di buatkan bumbu rujak tuan," tanya Sofia.


"Boleh, aku mau tidak ada salah nya," jawab Vero.


Setelah cukup lama menunggu buan yang Vero inginkan sudah siap beserta bumbu rujak nya. Bertepatan juga Alvaro dan yang lainnya berjalan mendekat.


"Wah kalian ingin makan rujak," tanya Vero.


"Iya kau benar, kata kakek kau membuat rujak, kau membuat ku ingin makan juga," jawab Kenzi.


"Apa istri mu hamil paman," tanya Kenzo.


"Iya apa istri mu hamil sayang," ujar Angel


"Tidak bun, istri ku tidak hamil. Aku hanya ingin makan saja, apa aku tidak normal?"


"Oh hanya ingin saja, ya normal kau ada-ada saja," kata Angel.


"Hmmmm enak sekali, siapa yang membuat nya," tanya Kenzo.


"Siapa ya, hmmm aku lupa nama nya. Dia pelayan baru," jawab Vero.


"Sofia," ucap Angel.


"Iya Sofia, bunda tau dia," tanya Vero.

__ADS_1


"Bunda yang membawa nya, banyak pelayan yang sudah tua dan harus di ganti. Kasihan jika sudah tau masih bekerja," jawab Angel.


"Nek, apa saat nenek hamil paman, nenek juga ingin makan rujak," tanya Kenzo.


"Hmmm seperti iya atau tidak yah."


"Jangan kau tanya begitu, nenek sudah tua, dia pasti sudah lupa," ucap Kenzi.


"Hahaha Kenzi memang yang paling pengertian pada ku," kata Angel.


Di dalam kamar pasangan Axel dan Wilda masih canggung karena ciuman panas tadi. Mereka berdua seperti merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Wilda terus mengingat ciuman pertama nya di ambil oleh suami nya sendiri.


"Kenapa rasa nya tidak hilang, apa seenak ini," batin Wilda.


"Rasa bibir nya masih membekas, ini ciuman termanis yang pernah aku rasakan," batin Axel.


"Axel kapan kita pulang ke rumah daddy, aku ingin mengambil barang-barang ku," ucap Wilda yang ingin mencairkan suasana. Ia merasa bertengkar dengan Axel lebih baik dari pada canggung begini.


"Aku tidak mau mengantarkan mu pulang," ucap Axel.


"Kau suami ku, kau seperti tidak bertanggung jawab pada mu. Ya sudah kalau kau tidak mau mengantarkan ku, aku bisa naik mobil mu, akan aku hancurkan kembali mobil mu," ancam Wilda.


"Owh jadi kau belum kapok ya, kau tidak merasa bersalah sedikit pun telah menghancurkan mobil ku," ucap Axel.


"Aku merasa bersalah pada mu, aku menghancurkan mobil mu karena kau tidak mau mengantarkan ku," kata Wilda.


"Wilda kau memang selalu ingin bertengkar dengan ku, oke kita mulai pertengkaran ini, jangan harap aku mengalah pada mu."


"Oke siapa takut, tapi sebelum itu ayo antar kan aku pulang, aku ingin mengambil barang-barang ku," ucap Wilda.


"Puji aku dulu, katakan hal baik dan keren tentang ku," kata Axel.


"Ahh itu sangat menjijikan," tolak Wilda.


"Ya sudah kalau tidak mau ya tidak papa, Mu tidak memaksa. Kau bisa pergi sendiri, mobil ku sudah rusak kau bisa jalan kaki."


Wilda membuang nafas nya secara perlahan sebelum ia mengatakan hal manis pada suami nya.


"Axel kau tampan sekali, tubuh mu benar-benar bagus dan aku sangat suka roti sobek mu. Hmmm ciuman mu membuat mu tergila-gila."


Sebenarnya apa yang di katakan Wilda benar-benar berasal dari hati nya. Tetapi ia mengucapkan nya dengan seperti tidak niat.


Axel tersenyum mendengar hal itu. Tanpa menanggapi pujian itu Axel bangkit dari atas kasur.


"Axel mau kemana kau, kau tidak mau mengantarkan ku. Jangan brengsek Axel. Kau sudah aku puji," teriak Wilda.


Axel tidak memperdulikan itu, ia masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil sesuatu.

__ADS_1


"Ayo," ucap Axel.


__ADS_2