
Rian berjalan masuk ke dalam ruangan tempat Monica di rawat. Hati nya terasa terisi melihat kondisi Monica yang begitu memperhatikan. Ia jadi teringat kondisi istri nya dulu.
"Monica maafkan aku, maafkan kesalahan ku," ucap Rian.
"Kak lebih baik kakak mandi dulu, ini aku sudah membeli pakaian untuk mu, aku kembali ke cafe dulu, setelah aku menutup cafe aku akan kembali ke sini lagi."
"Iya Vivi Terima kasih," ucap Rian.
Rian masuk ke dalam kamar mandi, di dalam kamar mandi ia juga ingin menenangkan perasaan nya. Perasaan yang sangat ini benar-benar sangat kacau.
"Aku salah aku tidak bisa melupakan nya, hal itu membuat orang yang sedang bersama ku terluka, aku sangat bodoh. Maafkan aku Monica maafkan aku," ucap Rian.
Setelah selesai mandi. Rian kembali mendekati istri nya, ia mengambil satu tangan Monica yang tampak baik-baik saja. Kemudian Rian meletakan kepala nya di atas tempat tidur sambil mencium tangan istri nya.
Karena sudah terlalu lelah dengan kejadian hari ini, Rian mulai terlelap, tidur nya memang terlihat sangat nyenyak tetapi wajah nye terlihat jelas jika Rian benar-benar sedang tertekan.
"Sayang," ucap Rian.
"Aku membenci mu, kenapa kamu melakukan hal ini, kamu bukan Rian yang aku kenal."
"A...aku salah, aku memang salah," kata Rian.
"Hidup dengan bahagia Rian, jangan pernah perilaku istri mu seperti ini lagi."
Vivi yang baru masuk ke dalam ruangan itu langsung membangunkan kakak nya, yang sedikit mengigau.
"Kak bangun kak, bangun," ucap Vivi.
"Hmmmm sayang." Rian terbangun dengan wajah yang penuh dengan keringat.
"Kau kenapa kak," tanya Vivi.
"Tidak ada, aku hanya mimpi," jawab Rian.
"Kak sudah jangan pikirkan yang lainnya, kalau tuan Verrel tidak mau membiayai rumah sakit kak Monica aku bisa membantu mu, hasil cafe pasti cukup untuk biaya rumah sakit kak Monica."
"Tidak perlu, kakak masih ada uang. Oh iya nanti kau bisa pergi ke apartemen kakak, ambilkan baju kakak ipar mu dan baju kakak," kata Rian.
"Iya kak, nanti aku akan ke apartemen mu," ucap Vivi.
...***...
Beberapa hari telah berlalu saat rencana besar Rakha akan ia jalankan. Hampir semua keluarga ia minta untuk datang ke bandara, mereka semua tida tau kenapa Rakha meminta mereka ke Bandara. Ada yang pergi karena penasaran ada juga yang tidak pergi karena suatu halangan.
Axel yang sudah tau semua nya, juga memastikan agar Kenzi serta geng yang lainnya datang ke bandara. Dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran mereka semua menutur saja dengan apa yang di minta Axel dan Rakha.
Alice serta manajernya sudah ada di Bandara. Mereka akan melakukan penerbang pada malam ini. Saat ingin masuk ke dalam pintu tiba-tiba beberapa orang memintanya untuk ikut dengan meraka.
"Untuk apa aku harus segera pergi," tanya Alice.
"Sudah ikut saja."
Alice serta manajernya akhirnya ikut pergi bersama dengan orang yang menjemput nya tadi.
__ADS_1
Hampir semua orang ia Rakha minta sudah berada di tempat mereka. Mendadak landasan penerbangan dan satu pesawat sudah penuh dengan hiasan yang sangat cantik. Dengan melihat ini mereka semua tau apa yang akan Rakha lakukan.
"Jadi ini," tanya Dylan.
"Iya paman, anak mu sangat romantis," jawab Axel.
"Dia romantis seperti ku," kata Vero.
Tiba-tiba seseorang di belakang menutup mata Alice, Alice sempat kebingungan tetapi manajernya menenangkan agar Alice tidak perlu takut.
"Ini aku Sonia."
"Sonia, ada apa ini," tanya Alice.
"Tidak papa, ini momen yang sangat membahagiakan," jawab Sonia.
Selain Axel, Sonia juga sudah tau tentang Rencana Rakha, dengan senang hati Sonia membantu Rakha agar bisa mewujudkan semua yang Rakha ingin kan. Sonia membawa Alice ke suatu tempat, ketika sudah sampai di tempat itu Sonia melepaskan ikatan yang ada di kepala Alice.
"Indah sekali," ucap Alice.
"Iya memang indah, ikuti saja jalan ini, nanti kau akan sampai di tempat seharusnya kau berada." Sonia pergi meninggalkan Alice yang masih tampak kebingungan.
Alice berjalan mengikuti jalan yang benar-benar sangat indah, ia masih tidak tau siapa yang menyiapkan ini semua. Sampai tiba lah Alice sampai di tempat yang cukup gelap. Ia sangat kebingungan kenapa tiba-tiba semua lampu mati.
Tiba-tiba satu lampu menyalah ke arah seseorang yang perlahan turun dari pesawat yang juga dengan penuh bunga dan dekorasi yang sangat cantik.
"Rakha," ucap Alice.
Lirik.
Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah
Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu
Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu
Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
__ADS_1
Sempurna, sempurna
Kau genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna.
Semua lampu menyalah kembali, semua yang Rakha persiapkan terlihat sangat indah. Alice menutup mulut nya Karena ia benar-benar sangat terharu.
Rakha berlutut di hadapan Alice sambil memberikan cincin berlian. Sambil tersenyum Rakha mengatakan.
__ADS_1
"hai baby. do you want to marry me," tanya Rakha.
"No," jawab Alice.