
Kenzi sedang mencari keberadaan istri nya yang ntah pergi kemana. Ia sangat sadar akan kesalahan nya, manusia dengan iman rendah, bisa-bisa nya ia memiliki perasaan pada wanita lain selain istri nya.
"Sayang dimana kamu, aku menyesal sayang jangan tinggal kan aku," batin Kenzi.
Kenzi tidak putus asah begitu saja, tempat yang pernah ia kunjungi dengan Karla ia datangi kembali, ia berharap Karla ada di salah satu tempat itu.
Sementara itu Karla sedang bersama dengan Verrel, setelah kepergian Kenzi tadi Verrel langsung ke tempat Karla berada, hanya Verrel yang tau tempat itu.
"Ayah, aku tidak mau bertemu dengan nya," ucap Karla.
"Sampai kapan Karla, apa kau akan berpisah dengan Kenzi, maaf Karla ayah tidak mungkin berbohong suami mu menang selingkuh," kata Verrel.
"Apa dia pernah tidur dengan wanita itu yah," tanya Karla.
"Ayah tida tau, tapi jika di lihat dari CCTV rumah, mereka tidak pernah masuk ke dalam kamar, mungkin saja mereka belum sejauh itu," jawab Verrel.
"Aku ingin berpisah dengan nya yah, aku tidak mau dengan nya," kata Karla.
"Karla pikirkan baik-baik, untuk saat ini kau juga tidak bisa berpisah dengan nya. Kau sedang hamil, akan sulit berpisah dengan Kenzi. Bagaimana jika kau menenangkan dulu pikiran mu di sini, pikirkan semua nya dengan baik dan matang. Terserah sampai kapan itu, ayah tidak akan memaksa mu, tapi ayah mohon jangan pisah dengan nya," ucap Verrel.
"Aku tidak mau bertemu dengan nya sampai anakku lahir yah, apa bisa," tanya Karla.
"Itu terlalu lama, aku tidak tau apa yang terjadi pada Kenzi, kau tau kan Kenzi lemah iman, ayah takut jika Kenzi menikah lagi dengan wanita lain." jawab Verrel.
"Itu berarti tidak sudah tidak mencintai ku yah, dengan itu aku semakin yakin aku tidak bisa bersama dengan nya," kata Karla.
"Ya sudah jika itu mau mu, kurang lebih 6 bulan kau berada di sini, aku akan memberikan mu teman, kau tenang saja," ucap verrel.
"Iya yah, terimakasih untuk semua nya, aku harap ini yang terbaik untuk mu," kata Karla.
__ADS_1
Setelah selesai membicarakan hal ini pada Karla, Verrel langsung kembali pulang ke rumah, ia juga tidak pantas jika ia berada di Vila itu lama-lama, apalagi di sana hanya ada Karla dan pembantu yang berada di dalam dapur.
"Daddy, daddy habis bertemu dengan istri ku, dimana dad," tanya Kenzi.
"Iya kau benar, aku habis bertemu dengan nya. Dia hanya memberikan mu dua pilihan, yang pertama beri dia waktu sampai dia melahirkan anak mu, dan ke dua cerai kan dia," jawab Verrel.
"Aku tida memilih ke dua nya, aku ingin bersama nya dad, aku akan meninggalkan rumah ini, aku akan hidup berdua dengannya," kata Kenzi.
"Hahaha kau ngelawak, semua sudah terlambat Kenzi, sudah jangan buang waktumu, bahagia lah Kenzi. Selamat menuai apa yang kau tanam," ucap Verrel dan pergi meninggalkan Kenzi.
Sementara itu di dalam kamar, Axel dan Wilda sedang bermadu kasih, ke dua nya saling membalas ciuman panas di atas tempat tidur. Mereka tidak perlu repot-repot melepaskan pakaian mereka karena mereka memang tidak memakai apapun.
"Aku takut Axel," ucap Wilda.
"Turun kan Wilda, jangan takut," kata Axel.
Dengan perlahan Wilda menurunkan pandangan nya ke arah bawa, mata nya terbelalak saat melihat pisang tanduk milik Axel meminta hak nya.
"Sayang hey hey, tatapan mata ku, aku tidak akan menyakiti mu, ya mungkin akan terasa sakit untuk sesaat tapi ini hal yang wajar dan ini sudah menjadi kewajiban mu," kata Axel.
"Axel secara perlahan, aku memberikan nya pada mu karena aku mencintaimu Axel," ucap Wilda.
"Iya sayang aku juga mencintai mu, aku sudah sadar akan perasaan ku pada mu sayang. Aku ingin mengatakan hal ini pada momen yang tepat, mungkin saat ini adalah momen yang tepat," kata Axel.
Wilda semakin rileks saat Axel mengatakan kata cinta pada nya, ia semakin yakin jika yang ia lakukan sudah benar. Axel kembali memberikan pemanasan untuk Wilda, ia tidak mau karena terlalu terburu-buru Wilda akan merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Axel," Ntah apa yang di lakukan suami nya, yang jelas Wilda sangat suka dan tubuh nya menegang hebat.
"Sudah waktu nya," ucap Axel sambil memposisikan posisi yang tepat.
__ADS_1
"Ini akan sakit," ucap Axel.
Air mata Wilda mulai menetes saat merasakan pisang tanduk Axel mulai masuk ke dalam, rasa nya sangat sakit, bahkan ia sudah menangis kejer padahal baru sedikit yang masuk.
"Ahkkk Axel sakit, aku tidak kuat. Sakit Axel sakit," teriak Wilda dengan air mata yang menetes deras membasahi wajahnya.
"Hiks hiks hiks, ampun Axel jangan aku tidak kuat," ucap Wilda, tangan nya berusaha menahan tubuh suaminya. Dan ia terus memundurkan tubuh nya.
Axel bukan tidak perduli akan kesakitan yang Wilda alami, ia hanya ingin membiasakan Wilda, tidak mungkin ia memberhentikan semua ini di tengah jalan.
Beberapa menit setelah itu, kapal sudah karam. Beberapa noda merah membasahi seprai kamat itu, Wilda terus menangis karena ia memang tidak tahan sakit. Ntah sampai kapan Wilda akan menangis Axel pun tidak tau.
"Sayang sudah jangan menangis, sudah karam kapal kita. Aku akan menggerakkan nya ya, tahan sedikit," ucap Axel.
"Hiks hiks hiks sakit Axel perih sekali. Aku tidak tahan," kata Wilda yang benar-benar sudah lemas.
Ia memejamkan mata nya dan berusaha menahan semuanya, wajah nya meringis menahan sakit akibat gerakan yang Axel perbuat. Ntah sudah berapa lama mereka melakukan hal itu, meskipun wilda sudah tidak menangis rintihan nya masih terdengar dengan jelas. Hal itu membuat Axel ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya.
"Hmmmm," Wilda membuka mata nya saat merasakan cairan hangat masuk ke dalam Rahim nya.
"Aku tidak bisa lama-lama, aku tidak tega melihat mu," ucap Axel sambil memeluk Wilda dengan erat.
"Maafkan aku, hiks hiks hiks."
"Tidak papa sayang ini pertama untuk ku dan untuk mu. Jadi hal itu sangat wajar, memang punya ku sedikit melebihi ukuran rata-rata," kata Axel.
"Apa di antara yang lainnya kamu yang paling besar," tanya Wilda.
"Aku tidak tau sayang, sudah istirahat lah. Nanti malam aku minta lagi ya. Aku janji nanti malam tidak akan sesakit ini," ucap Axel.
__ADS_1
Note bab ini mungkin akan saya revisi.