
"Bagaimana Vero," tanya Rakha.
"Suara mu sangat bagus tapi tidak masuk dengan nada piano yang kau mainkan," jawab Vero.
"Bagaimana agar pas," tanya Rakha.
"Ya harus berlatih. Kau untuk apa berlatih piano seperti ini," tanya Vero.
"Hehehe aku akan membuat pesta besar-besaran untuk pernikahan ku nanti, aku akan bernyanyi sambil bermain piano," jawab Rakha.
"Kau mau menikah dengan siapa, dengan wanita itu, lalu bagaimana dengan proses perceraian mu?"
"Dengan Vivi lah, nanti aku akan membicarakan masalah ini pada kakek ku," ucap Rakha.
"Oh sudah pasti suka dengan nya kan, Dia wanita baik-baik kan," tanya Vero.
"Iya Vero, tapi ada satu masalah, kakak nya tidak suka dengan ku. Kata nya aku bukan pria yang baik," jawab Rakha.
"Hahaha sabar-sabar, cepat atau lambat pasti kakak nya Vivi merestui mu. Sudah ya aku ke kamar dulu, sudah waktunya untuk meminta jatah." Vero pergi meninggalkan Rakha sendiri.
Rakha yang di tinggal sendiri di tempat itu memilih untuk masuk ke dalam kamar kakek nya. Ia akan menunggu Vano di dalam kamar saja.
Di warteg Vano dan Anita masih menikmati makan malam mereka. Vano makan dengan lambat agar bisa lebih lama lagu bersama dengan Anita. Padahal cucu nya sudah lama menunggu di rumah.
"Ayam bakar satu lagi," ucap Vano.
"Lagi pak," tanya Anita.
"Iya satu lagi," jawab Vano.
"Mas ayam bakar dua potong," ucap Anita.
"Aku hanya mau satu."
"Satu nya untuk aku, aku juga mau lagi," kata Anita.
"Kau banyak makan, lebih baik diet agar calon suami mu suka dengan mu," ucap Vano.
"Ah malas diet, untuk apa pula aku diet. Gemuk lebih suka untuk di peluk, suami akan betah di rumah," kata Anita.
"Bapak suka wanita yang kurus," tanya Anita.
"Aku suka dengan wanita yang sedikit berisi, kalau kurus tidak enak kalau di ajak bertempur sampai pagi, terlalu ringkih," jawab Vano.
Jawaban Vano sukses membuat otak Anita travelling kemana-mana, ternyata si bapak Vano juga memiliki otak yang mesum juga.
__ADS_1
Setelah selesai makan mereka berdua langsung pulang ke rumah. Vano tidak enak pada Rakha yang pasti sedang menunggu nya, lagi pula waktu juga sudah semakin malam.
"Sudah sampai," ucap Anita.
"Hmmmm iya, sudah turun dan istirahat lah," kata Vano.
"Terima kasih pak untuk hari ini," ucap Anita.
"Untuk hari ini bagaimana," tanya Vano.
"Hari ini bapak sudah sangat baik pada semua orang, bapak juga sudah membuat aku senang sekali. Terus seperti ini pak, jangan pernah berubah," jawab Anita.
"Iya iya, aku juga berterima kasih pada mu," ucap Vano.
Baru pertama kali nya Anita di buat baper oleh kakek kakek, dan ternyata rasa nya seperti wonder woman. Anita memutuskan untuk turun dari mobil sebelum diri nya semakin salah tingkah.
"Anita tunggu," ucap Vano.
Anita menghentikan langka kakinya dan langsung membalik tubuh nya. Vano berjalan mendekati Anita dan mendorong Anita secara perlahan mepet ke arah mobil.
"Bapak," ucap Anita.
Saat sudah menempel di mobil. Vano mendekati bibir Anita dan mulai mencium bibir Anita. Anita tersentak kaget saat Vano mencium bibir nya, ia ingin menolak tetapi tidak bisa karena batin nya malah menerima.
Anita kembali tersentak kaget saat Vano semakin memperdalam ciuman nya. Ia merasakan lidah Vano Menari-nari di dalam sana. Anita tidak pernah berciuman seperti ini, ia memang pernah ciuman beberapa kali dengan pacar nya tetapi tidak sampai seperti ini.
"Kakek terus kek, ahh kakek kakek memang sangat hot," ucap Rakha.
Vano melepaskan ciuman nya, mata nya dan mata Anita saling bertatapan. Ia tersenyum puas karena Anita tidak menolak ciuman nya.
"Aku ingin mengajak mu menikah," ucap Vano.
"La... langsung menikah," tanya Anita.
"Aku tidak suka berpacaran, aku ingin langsung menikahi mu. Umur ku tidak cocok jika kita harus berpacaran," jawab Vano.
"Hmmmm aku... aku....
"Kau tidak kau, tidak papa ak...
"Bukan tidak kau, beri aku waktu ya. Aku ingin membicarakan masalah ini dengan orang terdekat ku," ucap Anita.
"Aku beri waktu sampai lusa, setelah itu kau harus menjawab nya," kata Vano.
"Iya iya, aku akan menjawabnya, aku pergi dulu." Anita tersenyum pada Vano dan langsung berlari meninggalkan Vano.
__ADS_1
Vano tersenyum puas melihat tingkah laku Anita. Ia sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Anita. Setelah menyampaikan maksud nya perasaan Vano sangat lega, sambil membayangkan masa depan nya Vano berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kakek," ucap Rakha sambil melompat memeluk Vano.
"Hey kau kenapa, kau terlihat sangat senang," tanya Vano.
"Masih basah." Rakha menyentuh bibir Vano.
"Kau kurang ngajar." Vano langsung menipis tangan Rakha dari bibir nya.
"Hahaha kakek sudah berciuman dengan Anita. Hahaha kakek berciuman!!!!!.....
Dengan cepat Vano langsung mendekap mulut Rakha dan membanting Rakha ke atas ranjang. Cucu nya ini benar-benar ingin mempermalukan diri nya.
"Ahkkk sakit kek," rengek Rakha.
"Kau bisa diam tidak, kalau semua orang dengar teriakan mu bagaimana," ucap Vano.
"Hahaha maaf kek, kakek sangat jago berciuman ya. Anita saja sampai gelagapan seperti itu," kata Rakha.
"Bagaimana kau tau," tanya Vano.
"Hahaha aku melihat semua nya dari atas balkon," jawab Rakha.
"Kurang ngajar, jangan beri tau siapapun. Atau aku akan memotong burung mu," ucap Vano.
"Aku tidak akan memberitahu semua nya asalkan kakek mempercepat perceraian ku dengan Alice," kata Rakha.
"Kau gila, lusa aku baru mengurus nya," ucap Vano.
"Kakek tidak bisa lama-lama. Rian tidak mengizinkan ku dekat dengan Vivi, aku ingin mendapatkan surat perpisahan agar aku bisa melamar Vivi.
"Jika kau ingin menikah dengan Vivi silahkan, tidak perlu menunggu pisah, perpisahan di sana dan sini berbeda," kata Vano.
"Tidak mau, yang terpenting pisah dulu," ucap Rakha.
"Oke Besok kita akan terbang ke sana, aku akan memesan tiket. Semoga saja teman ku di sana bisa membantu kita," kata Vano.
"Yes akhirnya aku bisa berpisah," ucap Rakha.
"Kakek bagaimana apa kakek akan menikahi Anita, dia akan jadi nenek ku," tanya Rakha.
"Hmmmm aku tinggal menunggu jawaban dari nya," jawab Vano.
"Apa aku kuat malam pertama," ucap Vano.
__ADS_1
"Hahaha kuat lah, jangan pakai gaya aneh aneh-aneh," jawab Rakha.
Rakha sangat senang akhirnya ia bisa bermanja-manja lagi pada kakek nya. Di bandingkan dengan Dylan, Rakha lebih dekat pada Vano. Mungkin karena kisah kehidupan mereka hampir sama.