
Satu bulan telah berlalu, Akifa semakin sedih karena diri nya masih belum hamil juga. Bukan hanya Akifa, Verrel yang awal nya biasa saja lama-lama juga merasa sangat sedih dan tertekan. Apalagi saat berkumpul dua saudara nya selalu membahas tentang istri mereka yang sedang hamil.
Berbeda dengan Akifa yang selalu menumpahkan air mata nya setiap malam, Verrel lebih memendamnya ia merasa harus lebih kuat di banding kan istri nya.
"Bagaimana istri mu Dylan, apa masih ngidam yang merepotkan mu." Tanya Rizky.
"Masih Rizky, aku sangat pusing dengan permintaan dan tingkah aneh nya." Jawab Dylan.
"Sama dengan istri ku, aku juga sangat pusing dan bingung. Aku hanya bisa berolahraga lima jari untuk menghilangkan rasa pusing ini."
"Hahaha Kasihan, malam ini aku sudah bisa berbuka puasa."
"Apa bagaimana bisa kenapa kau bisa tapi aku belum." Tanya Rizky.
"Istri ku hamil terlebih dahulu Rizky, dan kandungan nya sudah kuat, aku sudah konsultasi."
"Ah ini tidak adil." Ucap Rizky.
"Aku ke kamar dulu, kalian lanjut lah." Kata Verrel.
"Verrel, ah kita mengabaikan dia." Ucap Rizky.
"Iya, aku merasa bersalah. Aku juga kasihan dengan nya." Saut Dylan.
Verrel masuk ke dalam kamar nya dengan keadaan yang lesu. Saat membuka pintu kamar nya Verrel melihat Akifa sedang menangis sambil memegang sesuatu.
__ADS_1
"Sayang ada apa." Verrel langsung memeluk Akifa.
"Maaf, aku belum bisa memberi mu anak." Akifa menunjukkan tes pack yang negatif.
"Sayang tidak papa, jangan menangis seperti ini, kita bisa berusaha dan berdoa lagi." Kata Verrel.
"Kamu cerai kan aku saja, cari wanita yang bisa memberikan mu anak." Ucap Akifa.
"Sayang tidak, aku tidak mau. Anak tidak penting bagi ku. Kamu yang terpenting." Verrel memeluk Akifa dengan erat.
"Seperti aku yang bermasalah, aku bermasalah sayang. Aku bukan perempuan yang sempurna. Sudah kamu cerai kan saja aku. Aku ikhlas." Ucap Akifa sambil menangis di dalam pelukan Verrel.
"Sayang, tidak mau, aku tidak mau. Mana ada wanita yang bisa membuat ku bergairah seperti mu, hanya kamu yang bisa sayang."
"Sudah aku tidak mau mendengar kata pisah lagi, kita akan tetap bersama apapun yang akan terjadi. Aku dan kamu tetap bersama." Ucap Verrel.
Verrel memeluk Akifa sambil mengusap rambut nya, setelah Akifa Verrel keluar dari kamar untuk menenangkan perasaan nya. Ia bingung jika memang diri nya tidak bisa mempunyai seorang anak.
"Verrel." Ucap Alvaro.
"Ayah." Verrel mengusap air mata nya.
"Ada apa, kenapa dengan mu Verrel. Kau menangis." Alvaro langsung memeluk anak nya
"Ayah, aku bingung dan sangat pusing." Ucap Verrel yang tak kuasa menahan air mata nya, Verrel menangis di dalam pelukan Alvaro.
__ADS_1
"Kenapa Verrel, cerita dengan ayah." Ucap Alvaro.
"Istri ku belum hamil juga yah, setiap malam aku melihat nya menangis, aku tidak bisa melihat nya menangis. Dia selalu menyalahkan diri nya yah, padahal diri nya tidak salah apa-apa."
"Masalah hamil, kalau itu ayah tidak bisa memberikan saran apapun Verrel. Tapi ingat lah jangan pernah kamu tinggal kan istri mu apapun yang terjadi. Dia wanita yang baik, dan jika diri nya memiliki sebuah kekurangan cintai kekurangan itu. Jangan sampai kau membenci nya." Ucap Alvaro.
"Aku tidak peduli aku bisa punya anak atau tidak aku sangat mencintai nya. Tapi diri nya sangat menginginkan anak yah, hati ku benar-benar hancur saat melihat Akifa meminta ku untuk meninggalkan nya. Bagaimana ini yah, aku yang takut dia meninggalkan ku."
"Verrel itu tidak akan terjadi, besok kalian ke dokter kandungan. Banyak cara agar kalian bisa memiliki anak. Yang terpenting kalian jangan sampai berpisah ayah tidak mau itu terjadi."
"Terimakasih yah." Verrel mengusap air mata nya.
Keesokan harinya, Verrel sedang duduk di pinggir kolam renang sendirian, istri nya masih tertidur dengan pulas mungkin karena tadi malam terlalu banyak menangis.
Rizky dan Dylan berjalan menghampiri Verrel, mereka tau jika Verrel sedang dalam kondisi tertekan. Saat mereka berdua sedang jatuh Verrel selalu ada untuk mereka, dan sekarang giliran mereka yang memberikan semangat untuk Verrel.
"Verrel, kau sedang apa." Tanya Dylan.
"Aku sedang tidak apa apa. Hanya bermain air saja." Jawab Verrel tangan nya masih memainkan air kolam renang.
Verrel masih bisa tersenyum pada mereka berdua, tapi mereka berdua tau di balik senyuman itu ada kesedihan yang amat mendalam. Sangat jelas terlihat dari sorotan mata Verrel.
"Verrel, jangan pernah merasa sendiri, ada kami di sini Verrel. Kami tau kau sedang sedih, berbagai lah kesedihan itu pada kami berdua." Ucap Rizky.
"Iya Verrel, kau selalu bisa tersenyum di depan kami, kau juga manusia bisa Verrel, kau juga boleh bersedih." Ujar Dylan.
__ADS_1