Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 217 S4


__ADS_3

Alice sedang bersama orang tua nya, ia membicarakan masalah nya dengan Rakha. Ia masih tidak tau kenapa Rakha meminta berpisah dengan nya. Padahal untuk masalah pekerjaan Rakha tidak pernah mempermasalahkan nya.


"Bagaimana kalau masalah kerjaan mu, kau sering meninggalkan suami mu," tanya Robet.


"Tidak mungkin yah, kalau masalah pekerjaan sejak lama pasti dia pergi meninggalkan ku. Aku sudah membicarakan masalah pekerjaan ku, dan dia tidak masalah jika aku pergi pulang pergi ke Belanda," jawab Alice.


"Kau masih sering bermain dengan para pria lain, mungkin dia tau akan hal itu. Sudah lah Alice masa depan mu itu sudah jelas bersama dengan Rakha kenapa kau masih saja tidak puas," kata Robert.


"Aku suka dengan kepopuleran yah, sudah lah membicarakan masalah ini dengan ayah tida menyelesaikan semua nya, malah membuat ku semakin pusing," ucap Alice.


"Alice ingat aku sedang berurusan dengan keluarga yang sangat berpengaruh, jangan sampai mereka menghancurkan semua hal yang kau punya," kata Robert.


"Hmmmm iya aku tau itu," ucap Alice dan pergi meninggalkan tempat itu.


Alice membuka Handphone nya untuk menghubungi Rakha, ia lupa jika semua hal tentang nya sudah di blokir oleh Rakha.


"Ahkkk kenapa si, kenapa di berubah," teriak Alice


Vivi berjalan masuk ke dalam kamar nya, sudah sangat lama ia tidak berada di dalam kamar ini. Vivi sama sekali tidak merindukan kamar nya, yang ia rindukan saat ini adalah Rakha, pria yang sudah berhasil mengobrak-abrik perasaan nya.


"Dia tidak menghubungi ku, apa dia sedang sibuk," batin Vivi.


Vivi melihat ke arah jam, ia tidak sadar jika sudah pukul 1 dini hari, pantas saja Rakha sama sekali tidak menghubungi nya.


Ting.. ting.. ting...


Beberapa pesan masuk membuat Vivi membatalkan niatnya untuk tidur. Ia membuka handphone nya untuk melihat pesan siapa yang masuk ke dalam Handphone nya.


"Hay cantik belum tidur ya, kenapa belum tidur?" Pesan dari Rakha.


"Dari mana kamu tau aku belum tidur." Vivi membalas pesan itu.


Dengan cepat Rakha langsung menghidupkan lampu tidur di samping nya. Lalu ia menghubungi Alice dengan panggilan video call.


"Rakha aku malu, aku sedang berantakan," ucap Vivi.

__ADS_1


"Sttt diam, nanti kakek ku bangun. Aku pindah ke balkon dulu," ucap Rakha.


Rakha berjalan keluar dari kamar menuju balkon kamar. Di sana ada ayunan yang sangat nyaman untuk berbaring.


"Kamu sedang di ayunan," tanya Vivi.


"Iya di sini sangat nyaman, tapi ini milik kakek," jawab Rakha.


"Kamu kenapa belum tidur, ini sudah malam loh," tanya Rakha.


"Aku baru saja ingin tidur, tapi kamu menghubungi ku," jawab Vivi.


"Hehehe aku tidak bisa tidur, otak ku selalu saja di penuhi dengan wajah mu," kata Rakha.


"Gombal Rakha," ucap Vivi.


"Tidak sayang," kata Rakha.


Vivi terkejut Rakha memanggilnya sayang, walaupun sudah beberapa kali Rakha mengatakan sayang tetap saja ini sesuatu yang aneh dan sudah pasti membuat hati nya semakin berbunga-bunga.


Glek..


Vivi menelan air ludah nya secara kasar. Bentuk tubuh Rakha benar-benar bentuk tubuh pria yang ia idamkan. Berotot tatapi tidak terlalu over, jika terlalu over bukan nya suka Vivi malah takut.


"Kamu kenapa?"


"Tidak ada, kenapa kamu tidak pakai baju," tanya Vivi.


"Kan mau tidur untuk apa aku pakai baju, tapi di sini dingin sekali," jawab Rakha.


"Oh begitu, kalau dingin masuk lah, jangan di luar nanti kamu masuk angin," kata Vivi.


"Besok kalau aku sakit kamu datang ya kerokin aku," ucap Rakha.


"Kata kamu, kamu mau menyelesaikan masalah kamu, dan kita tidak boleh bertemu selama beberapa hari," kata Vivi.

__ADS_1


"Oh iya, ya sudah ini sudah malam, tidur sana aku juga sudah mengantuk, besok aku akan pergi ke Belanda," ucap Rakha.


"Untuk apa kamu pergi," tanya Vivi.


"Sudah kamu tidak perlu tau. Vivi kamu jangan diet ya, kamu harus sedikit menggemukan badan kamu. Setelah itu makan-makanan yang sehat, setelah menikah aku ingin langsung mempunyai anak," ucap Rakha.


"Rakha kok malam membahas hal itu, kan kita belum menikah."


"Sudah tidak papa, selamat tidur sayang mimpi indah," kata Rakha.


"Mimpi indah juga, bye bye." Vivi memastikan sambungan video call itu.


Keesokan harinya. Seperti yang sudah di rencanakan Rakha dan Vano akan terbang ke Belanda untuk menyelesaikan semua nya. Sebelum berangkat mereka berdua izin terlebih dahulu agar tidak ada yang mencari cari mereka berdua.


"Kau yakin," tanya Dylan.


"Iya ayah aku yakin, aku ingin menyelesaikan semua nya dengan cepat," jawab Rakha.


"Aku hanya bisa berharap semua keputusan yang kau ambil yang terbaik untuk mu," kata Dylan.


"Keponakan kesayangan ku harus bahagia, setelah kau pulang dan menyelesaikan semua nya. Aku yang akan langsung melamar kan Vivi untuk mu," ucap Verrel.


"Siap paman ku," Rakha memeluk Verrel sebagai ucapan terimakasih nya, Verrel termasuk seseorang yang mendukung semua keputusan nya.


Dari bayi memang Verrel memperlakukan Rakha istimewa dari keponakan yang lainnya. Ntah kenapa ia menganggap Rakha sudah seperti anak kandung nya. Dylan sudah tidak heran akan hal itu, sedari dulu Rakha memang selalu di manja oleh paman nya ini.


"Sudah pergi sana, jika kau menikah mau pernikahan seperti apa," tanya Verrel.


"Yang sangat mewah dan besar paman, tapi uang ku sudah tidak ada," jawab Rakha.


"Karena Vivi jika termasuk sudah aku anggap anak ku sendiri, semua pesta pernikahan aku yang menanggung nya," kata Verrel.


"Verrel tidak, aku tidak setuju, seperti biasa saja, ini pernikahan ke dua nya, tidak perlu sampai besar yang kau katakan," ujar Dylan.


"Ayah sudah jangan larang paman, janji ya jangan sampai bohong," ucap Rakha.

__ADS_1


__ADS_2