
Tidak berbeda dengan Anita. Vano terasa sangat gugup, ini pernikahan ke dua nya tetapi rasa nya tidak begitu berbeda dari yang pertama. Vano sudah rapi memakai jas berwarna hitam di padu kan dengan dasi dan jam tangan. Ia sudah terlihat sangat tampan dan gagah.
Rakha berjalan masuk ke dalam kamar Vano, ia sudah tidak sabar mendampingi kakek nya menikah. Ada rasa bangga tersendiri saat Vano mempercayai Rakha sebagai pendamping nya. Itu tanda nya Vano benar-benar menganggap Rakha sebagai cucu tersayang.
"Kakek kau sangat tampan sekali," ucap Rakha.
"Hahaha aku memang sangat tampan kau baru tau aku tampan," kata Vano.
"Kakek Semoga pernikahan ku akan selalu bahagia, semoga malam pertama mu lancar tanpa kendala dan semoga aku bisa mengintip malam pertama mu," ucap Rakha.
"Amin," kata Vano yang masih belum sadar dengan perkataan Rakha.
"Mata mu enak saja kau mau mengintip, tidak ada yang boleh mengintip malam pertama ku," ucap Vano.
"Hehehe Maaf kek aku lancang tapi aku suka mengintip, semoga saja otak kotor tidak kumat ya kek," kata Rakha.
"Rakha berhenti membahas malam pertama, aku sangat gugup aku takut salah," ucap Vano.
"Kakek ini sudah pernikahan ke dua mu jangan gugup ah, sudah tenang ya, tida akan terjadi apa-apa," kata Rakha sambil memeluk Vano.
"Rakha tapi aku seperti baru pertama kali menikah. Tenang Vano tenang semua nya akan baik-baik saja." Vano sedang berusaha menenangkan diri nya. Sebelum nya Vano tidak pernah segugup ini. Semua hal ia libas tanpa rasa takut tapi tidak untuk saat ini.
"Kakek tau aku sangat tersanjung karena kakek memilih ku untuk mendampingi mu," kata Rakha.
"Hahaha sebenarnya karena ayah mu tidak mau mendampingi ku, jadi aku meminta mu," ucap Vano.
"Kakek jadi bukan karena aku cucu tersayang mu," tanya Rakha.
"Hahaha tidak ah, kau sangat percaya diri," jawab Vano.
"Kakek kau meruntuhkan rasa percaya diri yang telah aku bangun."
"Hahaha tidak-tidak aku bercanda, aku memang memilihmu kok. Kau yang terbaik Rakha, aku tidak mungkin tidak melibatkan mu dalam momen bahagia ku," kata Vano.
"Nah begitu baru benar. Nanti aku akan menyumbangkan suara emas ku untuk meramaikan acara malam ini," ucap Rakha.
Vano dan Rakha keluar dari kamar karena acara sudah mau di mulai. Meskipun dalam waktu kurang dari satu hari semua nya sudah di sulap seindah mungkin. Vano saja sampai terkejut melihat dekorasi yang ada.
"Ini sangat luar biasa," ucap Vano.
"Bagaimana ayah apa ayah suka," tanya Dylan.
"Maaf paman hanya ini yang bisa kamu lakukan," ujar Verrel.
"Aku sangat suka dan aku sangat puas. Terima kasih Dylan dan Verrel kalian berdua yang terbaik," kata Vano.
"Aku bingung yang sebenarnya yang terbaik itu siapa si kek. Tadi aku sekarang ayah dan Paman," tanya Rakha.
"Hahaha kalian semua memang yang terbaik," jawab Vano.
Alvaro dan Adit teman sekaligus sepupu dari Vano datang mendekat. Mereka berdua sangat bahagia karena Vano bisa tertawa dengan lepas kembali. Dan tentu saja karena Vano akan ada yang merawat nya di masa tua.
"Kau bahagia," tanya Alvaro.
"Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga Vano Maaf aku jarang mengobrol dengan mu." Adit memeluk Vano.
"Iya aku mengerti aku tidak masalah. Terima kasih sudah datang di pernikahan ku yang ke dua ini," kata Vano.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa melakukan apa yang selama ini orang ingin lakukan," kata Dylan.
"Apa itu," tanya Rakha.
"Menghadiri pernikahan orang tua ku. Selama ini para anak mempersalahkan tidak di undang di pernikahan orang tua mereka. Hanya aku yang bisa hadir di pernikahan orang tua ku," jawab Dylan.
"Hahaha tidak lucu, hanya aku yang bisa mengalawak," kata Rakha.
"Kau anak Lucknut," ucap Dylan.
Anita juga sudah cantik memakai gaun berwana putih. Make yang tidak terlalu tebal membuat nya terlihat cantik natural. Anita sedang harap-harap cemas, ia berharap semua pernikahan nya ini bisa sekali dalam seumur hidup nya.
"Semoga ini pilihan terbaik ku. Mamah dah ayah semoga kalian merestui pernikahan ku, aku sangat merindukanmu kalian berdua, aku harap kalian juga bisa menyaksikan pernikahan ku dari alam sana," batin Anita.
"Anita ayo kita keluar." Karla dan Vivi berjalan masuk ke dalam kamar. Mereka ingin menjemput Anita yang sudah sangat cantik.
"Anita kau cantik sekali, aku sangat takjub dengan kecantikan mu," kata Vivi.
"Aahhkkk Vivi aku sangat gugup, bagaimana ini aku tidak bisa menenangkan perasaan ku," ucap Anita.
"Hahaha Anita itu hal yang wajar, kamu gugup malam pertama atau gugup saat pernikahan," tanya Karla.
"Dua dua nya, aku sangat gugup. Bagaimana kalau semua nya tidak berjalan dengan lancar," jawab Anita.
"Anita kamu tidak boleh berkata seperti itu Semua nya pasti berjalan dengan lancar. Sudah ayo kita keluar acara pernikahan mu sudah mau di mulai," kata Karla.
"Iya anita, jangan berpikir yang tidak-tidak yakin saja semuanya pasti akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan mu," ucap Vivi.
Vivi sudah lama kenal dengan Anita. Ia tau jika Anita musa sekali gugup dan berpikir yang tidak-tidak. Sebelum keluar kamar Vivi mengambil kan air mineral untuk Anita. Segelas air mineral sangat cocok untuk situasi seperti ini.
"Minum dulu," ucap Vivi.
Anita dan yang lainnya berjalan keluar kamar. Perasaan Anita jauh lebih tenang saat berada di dekat teman dekat nya Vivi. Vano terpanah akan kecantikan Anita. Otak nya langsung tertuju pada malam pertama nya nanti, maklum saja duda tua sulit mengatur kontrol otak kotor nya.
"Kakek jangan berpikir kotor dulu, selesai kan pernikahan ini dulu," kata Rakha.
"Kau tau saja kalau otak ku sedang berpikir kotor," bisik Vano.
"Hahaha kita satu genetika kek." Rakha sedikit menjauhi Vano.
Vano dan Anita bertemu di tengah-tengah tempat pernikahan. Mereka berdua duduk dan mulai melakukan pernikahan. Tak butuh waktu lama Anita sudah sah menjadi istri Vano, rasa gugup di antara keduanya hilang seketika.
Anita mencium tangan Vano sebagai penghormatan nya pada suami nya. Vano juga mencium dahi Anita, tak cukup dahi Vano juga mengecup bibir Anita yang membuat semua orang terkejut.
"Ahkkk kakek sangat Agresif," teriak Rakha yang membuat semua orang menatap tajam ke arah nya. Ia hampir merusak momen bahagia Vano.
Setelah semua selesai mulai lah tahap ucapan selamat, tak lupa mereka mengembalikan momen bahagia ini. Pertama kali sebagai anak dan menantu Dylan serta istri nya berjalan mendekati Vano dan Anita, mereka harus mengucapkan selamat sebagai orang pertama.
Dylan sangat bingung memanggil Anita dengan sebutan apa. Anita seumuran dengan Vano, untuk memanggil mamah terasa sangat aneh, tapi untuk memanggil nama tidak sopan.
"Selamat yah, Semoga hidup dengan bahagia, aku ikut senang atas pernikahan mu," kata Dylan.
"Selamat papah ku yang tampan, akhirnya ketampanan mu ada yang memiliki juga," ucap Lia.
"Ayah aku harus memanggil istri mu apa," tanya Dylan.
"Anita saja tuan," ucap Anisa.
"Anita kenapa memanggil tuan, panggil nama saja," kata Vano.
__ADS_1
"Oh iya aku lupa, panggil anita saja. Lebih enak di dengar," ucap Anita.
"Selamat Anita, jaga ayah ku dengan baik. Kalau dia sudah malas bergoyang pukul saja pantatnya nanti bergoyang kembali kok," ucap Dylan.
"Selamat Anita, akhirnya aku mempunyai ibu mertua kembali. Nama ku Lia, jangan lupakan aku," kata Lia sambil memeluk Anita.
Setelah Dylan giliran cucu tersayang yaitu Rakha Rakha melompat dan memeluk kakek nya dengan sangat erat. Ia sangat senang akhirnya kakek nya menikah kembali.
"Kakek jangan lupakan aku ya, tetap jadi kakek yang terbaik untuk ku," kata Rakha.
"Iya iya mana mungkin aku melupakan cucu seperti mu," ucap Vano.
"Nanti boleh mengintip tidak," tanya Rakha.
"Hadeh punya cucu sulit sekali di beri tau, tidak boleh Rakha kau puas tidak boleh Rakha," jawab Vano.
"Ya sudah lah kalau tidak boleh. Oh iya kakek malam pertama di rumah atau di hotel," tanya Rakha.
"Jika ada rumah untuk apa hotel, aku malam pertama di rumah," jawab Vano.
"Oh begitu ya sudah kek semangat ya. Aku akan bernyanyi untuk mu," kata Rakha.
"Nenek baru, Aku punya nenek yang seumuran dengan ku, ini sangat aneh tapi aku suka," ucap Rakha.
"Iya Rakha, hahaha rasa nya aneh sekali. Beberapa hari lalu aku memanggil mu tuan dan sekarang kau sudah menjadi cucu ku," kata Anita.
"Yang kuat nek, kakek itu sangat agresif, harus minum jamu dulu," ucap Rakha.
"Kau ada jamu tidak," tanya Anita.
"Ada dong, nanti aku berikan. Seperti nya selera humor kita sama nek," ucap Rakha.
"Sayang jangan banyak berbicara dengan nya, nanti otak kamu ikut konslet seperti nya," kata Vano.
"Sementang istri nya cantik aku tidak boleh berbicara dengan nya, kakek sangat pelit." Rakha pergi meninggalkan Vano dan Anita.
"Kakek ini hadiah dari ku dan Rakha, semoga langgeng ya," ucap Vivi.
"Anita ahkkkk aku sudah menikah," teriak Vivi.
"Ahkkkk iya Vivi aku sangat senang aku juga sangat gugup, apalagi nanti malam ahakkk jantung ku hampir copot rasa nya."
Vano mengerutkan dahi nya, ternyata istri nya dan calon cucunya memiliki sifat yang sama. Rasa nya memang aneh tapi ntah kenapa terlihat sangat menantang.
"Malam pertama, aku juga takut. Untung saja kamu nikah nya masih cukup lama," kata Vivi.
"Lalu bagaimana dengan ku, aaakkk aku jugak m sangat takut," ucap Anita.
"Rileks dan tenang jangan menolak, setelah berhasil beri kan tips pada ku," kata Vivi.
"Sayang ayo," ucap Rakha.
"Iya iya, aku pergi dulu, kami berdua akan duet." Vivi pergi meninggalkan Anita.
Setelah Vivi keluarga yang lainnya juga mendekat. Mereka memberikan hadiah yang sama sekali tidak Vano duga. Tapi aneh nya Vano di larang untuk membuka semua paperback itu.
"Kenapa si tidak boleh," tanya Vano.
"Nanti malam saja saat di kamar," jawab Alvaro.
"Kalian tidak aneh-aneh kan," tanya Vano.
__ADS_1
"Tida kok percaya dengan kami, kami tidak mungkin aneh-aneh," jawab Adit.
"Ya sudah aku percaya dengan kalian semua," ucap Vano.