
Malam hari nya, Rakha kembali pulang ke rumah orang tua nya. Ia malas di rumah sendiri tanpa seorang istri, lebih baik membujuk kakek nya yang masih marah pada nya.
"Kalian jadi menginap kan," tanya Verrel.
"Jadi paman, kami sudah janji tidak mungkin kami melanggar janji kami," jawab Rian.
"Itu Rakha," ucap Verrel.
"Iya paman kenapa," tanya Rakha.
"Pas sekali, Vivi kamu pergi ke minimarket dengan Rakha saja ya," kata Verrel.
"Nah iya, dari pada kau sendiri," ujar Rian.
"Rakha kau mau kan mengantarkan Vivi," tanya Verrel.
"Tidak masalah," jawab Rakha.
"Bagaimana Vivi mau kan," tanya Verrel.
"Iya paman, aku juga tidak tau dimana minimarket dekat sini," jawab Vivi.
"Ayo Vivi, takut nya kalau semakin malam keburu tutup," kata Rakha.
"Iya, kak aku pergi dulu."
"Ini uang nya." Verrel mengeluarkan dompet nya.
"Paman ada aku, aku pria untuk apa wanita yang membayar," ujar Rakha.
"Nah iya, mau belikan apa yang dia mau," kata Verrel.
Rakha dan Vivi langsung pergi ke minimarket terdekat dari rumah. Awal nya memang begitu tetapi otak Rakha berputar untuk mencari minimarket yang lebih jauh.
"Jauh ya," ucap Vivi.
"Iya, perkenalkan nama ku Rakha." Rakha menyodorkan tangan nya.
"Maaf, aku Vivi." Vivi sama sekali tidak menerima salaman dari Rakha. Ia sudah tau Rakha sudah memiliki istri, tidak mau bersentuhan dengan pria yang sudah mempunyai istri.
"Selain cantik di wajah nya, hatinya juga sangat cantik ya," batin Rakha.
"Masih jauh," tanya Vivi.
"Lumayan, kau adik nya Rian," tanya Rakha.
"Iya, kalian berdua saling kenal ya."
"Tidak juga, aku hanya tau dia dari Kenzi," kata Rakha.
"Kalian tinggal dimana," tanya Rakha.
__ADS_1
"Kami tinggal di apartemen pusat kota, tidak terlalu jauh dari sini," jawab Vivi.
"Oh iya aku ingat, Rian yang menyewa apartemen ku, setelah itu paman Verrel membeli nya untuk kalian," kata Rakha.
"Oh jadi itu apartemen milik mu," tanya Vivi.
"Iya dulu, kalau sekarang tidak lah. Sudah di beli paman Verrel untuk kalian, aku jadi merindukan apartemen itu. Dulu aku beli bersama dengan Axel," kata Rakha.
"Kalau ada kakak ku, kau bisa berkunjung," ucap Vivi yang langsung tidak enak saat Rakha mengatakan rindu dengan apartemen nya.
"Mungkin lain kali, aku akan membawa istri ku," kata Rakha.
"Dari wajah nya tidak seperti pria yang memiliki istri," batik Vivi.
Sesampainya di minimarket mereka berdua langsung masuk ke dalam. Vivi mengambil keranjang dorong untuk membeli barang yang Verrel minta, dan tentu saja barang untuk nya.
"Aku sekalian ya," ucap Rakha yang ikut mengambil barang keperluan nya.
"Iya tidak papa," kata Vivi.
"Sudah lama tidak bercukur." Rakha memasukan pisau cukur ke dalam keranjang.
Setelah itu ia terus memasukan semua barang yang ingin ia beli, tidak peduli barang itu penting atau tidak. Vivi sudah selesai mengambil keperluan nya. Ia hanya ikut Rakha yang tidak henti nya mengambil barang-barang yang tidak tau kegunaan nya.
"Maaf sudah penuh," ucap Vivi.
"Sudah penuh yah, ya sudah ayo kita bayar," kata Rakha.
Di kasir mereka memisahkan beberapa barang berdasarkan pemilik nya. Agar nanti tidak bingung. Barang yang Rakha beli dua kali lipat dari yang lainnya. Ia tidak sadar sudah membeli barang sebanyak itu.
"Tapi...
"Sudah tidak papa, tadi paman sudah mengatakan nya pada ku," ucap Rakha.
Setelah selesai membayar mereka berdua langsung pulang ke rumah. Di rumah Verrel dan yang lainnya terkejut dengan barang yang Rakha beli.
"Pantas lama," ucap Verrel.
"Hehehe aku ke kamar dulu paman." Rakha membawa semua barang nya ke dalam kamar.
Di dalam kamar Rakha menjadi seperti orang gila tersenyum sendiri saat mengingat wajah Vivi yang sangat menggemaskan.
"Alice," ucap Rakha saat mendapatkan panggilan dari Alice.
"Sayang maafkan aku, aku baru menghidupkan handphone ku."
"Sayang ini sudah lebih satu hari, ada kamu baru mengabari ku kamu ini bagaimana nya," ucap Alice.
"Maaf sayang, aku baru bisa membuka handphone, aku janji tidak akan seperti ini lagi."
"Ya ya ya, kamu susah makan," tanya Rakha.
__ADS_1
"Sudah sayang, kamu sudah makan kan. Jangan bermain dengan wanita lain selagi aku kerja."
"Kamu juga jangan main dengan pria lain, tidak ada burung yang lebih baik dari burung ku," kata Rakha
"Sayang kamu membuat ku ingin, kamu harus tanggung jawab," ucap Alice.
"Hahaha kita virtual saja ya sayang."
Vivi wanita yang lemah lembut sedang di dekati dengan beberapa pria, ia bingung harus bagaimana, beberapa pria itu sangat baik dan sudah mengenal nya sejak lama.
"Kamu mau jadi pacar ku?"
"Maaf aku tidak bisa." Vivi langsung memastikan sambungan telepon itu. Satu pria sudah berhasil ia buat pergi. Vivi langsung menolak pria itu karena sudah jelas pria itu hanya mental kacang, menembak melalui sambungan telepon.
"Satu lagi, dia sangat baik pada ku, aku sudah kenal dekat dengan nya," batin Vivi.
...***...
Tiga hari kemudian. Alice sudah tiba Bandara, ini batas waktu terkahir nya pergi dari rumah. Kalau sampai melewati batas waktu itu pasti Rakha akan mengamuk pada nya.
"Sayang aku sangat merindukanmu." Alice memeluk Rakha dengan erat.
"Aku juga, apa pekerjaan mu sudah selesai," tanya Rakha.
"Belum si, tapi bisa aku tunda minggu depan," jawab Alice.
"Jadi minggu depan kamu akan pergi lagi," tanya Rakha.
"Iya sayang, mau bagaimana lagi ini sudah menjadi tugas ku, kontrak tidak bisa di langgar," jawab Alice.
"Ya ya ya, sudah ayo pulang ayah dan mamah ku ingin bertemu dengan mu."
"Sayang kita pulang ke rumah dulu ya, besok baru kota bertemu dengan mereka berdua. Tubuh ku sangat lelah, aku jarang istirahat di sana," kata Alice.
"Ya sudah tapi di rumah kita belum tentu beristirahat. Nanti 3 jam kita bermain dulu ya," ucap Rakha.
"Kalau aku mau, aku sangat suka," kata Alice
"Suka milik ku yang besar."
"Ya ya ya besar sekali," ucap Rakha.
Rakha dan Alice langsung pulang ke rumah. Kebetulan di rumah ada Vano dan Alvaro yang sedang berkunjung ke rumah itu. Mereka berdua jadi bingung saat melihat Vano yang menatap mereka berdua dengan tatapan benci.
"Tidak papa kamu langsung masuk ke dalam kamar saja," bisik Rakha.
"Iya aku masuk dulu, kamu jangan lupa susul aku." Alice langsung berjalan ke arah kamar.
"Kakek, sedang apa ke sini," tanya Rakha.
"Dimana Kenzi dan Kenzo," tanya Alvaro.
__ADS_1
"Mereka sedang pergi, apa tidak memberitahu kalian."
"Mereka tidak ada ayo kita pulang," ucap Vano.