
"Mas." Ucap Lilis.
"Lilis apa yang kamu lakukan di situ." Dylan memakai kembali baju nya, ia sangat tidak nyaman pada tatapan mata Lilis ke tubuh nya.
"Bapak ingin membicarakan sesuatu pada mas." Ucap Lilis.
"Iya nanti aku akan keluar, jika ingin masuk ketuk pintu dahulu." Kata Dylan.
Bukan nya keluar Lilis mendekati Dylan dan langsung memeluk Dylan. "Aku suka dengan mu mas." Ucap Lilis.
"Lis, jangan seperti ini, aku tau dulu kita dekat tapi aku tidak suka kamu seperti ini."
"Mas, dulu kamu berjanji untuk menikahi ku, sekarang aku tagih janji mu." Ucap Lilis.
"Aku tidak bisa lis, aku belum mengingat apapun. Beri aku waktu, lagi pula kamu sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri." Kata Dylan.
Lilis menarik tengkuk leher Dylan dan mencium bibir Dylan dengan sangat lembut. Dylan berusaha menolak ciuman itu tapi ia tidak ingin menyakiti Lilis. Bukan nya melepaskan ciuman itu Lilis semakin memperdalam nya yang membuat Dylan mulai terbawa nafsu nya.
Tiba-tiba saat mulai menikmati dan memejamkan mata nya Dylan mengingat sesuatu yang membuat nya mendorong Lilis dengan cukup kuat.
"Siapa wanita itu." Batin Dylan.
"Ah sakit." Ucap Lilis.
__ADS_1
"Maaf, tapi aku tidak bisa menikah dengan mu." Ucap Dylan.
"Kamu yakin mas, bapak sudah menyetujui nya, dan minggu depan kita akan menikah." Lilis pergi dari kamar Dylan.
Keesokan harinya Verrel, Rizky dan Candra sudah berada di ruangan Alvaro. Sebelum mereka memulai kembali pencarian Dylan mereka terlebih dahulu menjelaskan penjelasan dari Alvaro.
"Ada sekitar 21 desa di sepanjang sungai tersebut, jika satu hari kalian dapat menempuh 3 desa, berarti dalam satu minggu kalian akan menyelesaikan ini." Ucap Alvaro.
"Kami bisa satu hari 21 desa." Ujar Verrel.
"Kau kira setiap akses menuju setiap desa mudah, kalian saja tidak tau apa yang akan kalian hadapi." Kata Alvaro.
"Secepat mungkin kami akan menemukan Dylan yah, kalau begitu kami berangkat dulu." Ucap Verrel.
Sementara itu Dylan sedang berada di ruang keluarga bersama Sumanto untuk membicarakan tentang diri nya dan Lilis.
"Pak apa benar bapak ingin menikah kan aku dengan Lilis." Tanya Dylan.
"Jadi Lilis sudah memberitahu mu."
"Sudah pak, kata Lilis bapak akan menikah kan kami minggu depan." Ucap Dylan.
"Tidak jadi minggu depan, mungkin tiga hari lagi, kau tenang saja, bapak yang akan menyiapkan semua nya." Kata Sumanto.
__ADS_1
"Tapi pak, saya tidak mencintai Lilis, Lilis sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri." Ucap Dylan.
"Tenang Dylan, cinta akan datang berjalan nya waktu, apa lagi saat kalian sudah mempunyai anak, cinta itu akan semakin cepat datang. Sudah bapak tidak ingin mendengar penolakan dari mu." Kata Sumanto.
Setelah Sumanto pergi Lilis datang berjalan menghampiri Dylan dan langsung memeluk Dylan dari belakang.
"Sudah aku bilang kan mas, bapak akan menikah kita." Ucap Lilis.
"Lepas lis, kamu seorang wanita dimana harga diri mu."
"Aku tidak peduli mas, apapun akan aku lakukan demi orang yang aku cintai. Bahkan jika kamu meminta nya sekarang aku siap memberikan nya." Ucap Lilis.
"Tidak lis, bahkan setelah kita menikah aku tidak akan menyentuh mu sebelum aku memiliki perasaan lebih pada mu." Dylan melepaskan tangan Lilis secara paksa dan memilih masuk ke dalam kamar nya.
"Kita lihat saja mas, mana mungkin kamu bisa menolak ku." Ucap Lilis.
"Siapa wanita itu, kenapa aku tidak bisa melihat wajah nya dengan jelas, dari bentuk tubuh nya aku yakin dia bukan Lilis, tapi kenapa aku berhubungan intim dengan nya." Batin Dylan.
"Dylan apa yang terjadi pada mu, kau benar aneh." Ucap Dylan sambil memejamkan mata nya.
Verrel membawa mobil khusus untuk mencari keberadaan Dylan, di desa pertama mereka masih mudah mendapatkan akses, dan kepala desa di sana sangat mudah di ajak kerja sama. Tapi sayangnya Dylan tidak berada di sana
"Maaf mas, mungkin mas dapat menggunakan mobil itu sampai ke lima desa ke depan tetapi semakin dalam semakin sulit dan di desa-desa terakhir mas harus menggunakan sampan."
__ADS_1
"Iya pak terimakasih." Ucap Verrel.