
"Kau sudah besar van, kenapa harus aku temani, aku akan tidur di sofa dan kau di ranjang." kata Anggi.
"Kau mau tidur di sofa, sedangkan ranjang di sini cukup besar untuk kita berdua." tanya Vano.
"Iya kenapa, aku biasa tidur di mana pun." jawab Anggi.
"Ya sudah pergi lah sana, jangan perduli kan aku lagi." Vano membelakangi Anggi, ia berpura-pura marah pada Anggi agar Anggi mau tidur di atas ranjang bersama nya. Ia juga tidak tega jika Anggi harus tidak di sofa.
"Kau marah lagi kepada ku, kenapa kau mudah sekali marah." ucap Anggi.
Vano diam tidak menanggapi Anggi. Seperti nya rencana nya akan berjalan sukses.
"Baik-baik lah, aku akan tidur di sini juga." kata Anggi sambil naik ke atas ranjang. Ia memberi jarak di antara mereka berdua dengan bantal guling.
Tangan Vano bergerak mendekati tangan Anggi dan menggenggam nya dengan erat. Awal nya Anggi menolak tangan Vano tetapi karena tangan Vano tidak mau lepas akhirnya Anggi pasrah toh hanya sebatas tangan.
Mereka berdua tertidur dengan cukup nyenyak. Yang awalnya berjauhan kini sudah saling berpelukan bantal guling sebagai pembatas mereka sudah terjatuh dari atas ranjang. Anggi merasa sesuatu yang di peluk nya menjadi dingin, perlahan ia meraba-raba nya.
"Vano." ucap Anggi dengan langsung membuka mata nya.
Anggi merasakan tubuh Vano menjadi dingin, wajah nya juga terlihat pucat dengan keringat yang membasahi wajah nya.
"Van kau sakit, kenapa diam saja jika sakit." ucap Anggi.
"Aku tidak ingin merepotkan mu." kata Vano.
__ADS_1
Anggi beranjak dari atas kasur, ia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan kompresan untuk Vano. Setelah semuanya selesai Anggi kembali masuk kedalam kamar.
Anggi mengompres dahi Vano, setelah itu ia kembali naik ke atas ranjang dan duduk di samping Vano dengan mengusap kepala Vano.
"Kau sudah besar kenapa mudah sekali sakit, apa karena gara-gara tersedak makanan tadi." ucap Anggi.
"Dingin nggi." ucap Vano walaupun sudah berselimut tebal.
Anggi bingung harus apa, karena tidak memiliki obat pereda demam. Ia masuk ke dalam selimut dan memeluk erat Vano. Ia pikir dengan cara ini akan memberikan rasa hangat untuk Vano.
"Tidur lah, besok pagi akan lebih baik." kata Anggi.
Pagi hari telah tiba, Anggi mulai membuka mata nya karena efek sinar matahari yang membuat nya silau. Setelah nyawa nya kembali terkumpul Anggi langsung memeriksa keadaan Vano, tubuh Vano sudah tidak terasa sedingin kemarin, sudah lebih terasa hangat.
"Kau merepotkan ku saja van, tapi aku senang jika kau repot kan." ucap Anggi yang sambil mengusap wajah Vano.
Sontak Anggi terkejut dan langsung ingin marah tetapi tidak jadi karena Vano tersenyum pada nya.
"Terimakasih untuk tadi malam." ucap Vano dengan menarik tangan Anggi dan memeluk nya dengan erat.
"Vano lepas aku tidak bisa bernafas." teriak Vano.
Vano melepaskan pelukan nya, ia meletakkan Anggi secara perlahan, dan menaikan kepala nya agar sejajar dengan kepala Anggi.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu." tanya Anggi.
__ADS_1
"Ternyata wanita bar bar seperti mu, bisa perhatian juga ya." kata Vano.
"Aku hanya kasihan pada mu." ucap Anggi.
Vano melirik ke arah bibir Anggi untuk memastikan sesuatu, jika Anggi tidak menolak ciumannya dia akan mengejar wanita ini. Tetapi jika Anggi menolak ciuman nya tetap saja dia akan tetap mengejar nya.
Vano mendekatkan bibir nya ke bibir Anggi, Anggi yang mengerti jika Vano akan mencium nya langsung menutup bibir dan mata nya rapat-rapat. Vano tersenyum saat melihat itu, ketika bibir mereka sedang saling menyentuh dengan lembut Vano mel*mat bibir bagian luar Anggi sebelum masuk kedalam.
"Buka lah apa kau tidak ingin merasakan bibir ku lebih dalam." tanya Vano.
"Hmmm tidak aku tidak mau." tolak Vano.
"Anggi aku ingin bertanya pada mu, jika aku tidak ingin membatalkan perjodohan ini dan ingin menikah dengan mu bagaimana." tanya Vano.
"Kenapa tidak jadi di batal kan, kau sudah berjanji untuk membatalkan ini dalam waktu satu bulan." jawab Anggi.
"Aku sudah nyaman dengan mu, kau perhatian pada ku. Dan aku yang merusak mu. Aku tidak tau apakah aku bisa mendapatkan kenyamanan ini dari wanita lain selain diri mu." kata Vano.
"Kau nyaman pada ku van, kau sudah baper pada ku." tanya Anggi.
"Seperti nya begitu, aku memiliki rasa lebih pada mu. Beri aku kesempatan untuk menyakinkan diri mu kalau aku laki-laki yang pantas mendapat kan mu, sampai perjanjian kita habis." kata Vano.
"Jika aku belum memiliki rasa pada mu selama sebulan itu bagaimana." tanya Anggi.
"Itu terserah mu, setidaknya aku telah berjuang, jika perjuangan ku sia-sia mungkin kau bukan jodoh ku." jawab Vano.
__ADS_1
Vano kembali mencium Anggi kali ini Anggi membiarkan Vano mengexplore semua bagian mulut nya. Yang di katakan Anggi tadi hanyalah kebohongan semata karena sebenarnya ia juga sudah memiliki perasaan lebih pada Vano tetapi Anggi tetap lah wanita malu mengatakan nya. Belum lagi ia harus melihat perjuangan Vano pada nya.
Nafas mereka berdua sudah tidak beraturan dan Vano melepaskan ciuman panas itu. "Terimakasih bibir mu sangat manis." kata Vano.