
Dylan dan Lia, mendekati kue yang super besar itu untuk proses pemotongan. Dari tempat yang tidak terlalu jauh Verrel dan yang lainnya menyaksikan momen itu.
Saat kue itu ingin di potong tiba-tiba kue besar itu meledak dengan ledakan cukup kuat. Dylan sudah sudah menyadari akan terjadi ledakan langsung memeluk Lia untuk melindungi Lia dari ledakan tersebut.
"Aahhhh." Teriak mereka semua dengan kue yang terbang kemana-mana.
Dylan dan Lia terpental cukup jauh. Ada beberapa benda tajam yang menancap di punggung Dylan yang seperti nya berasal dari ledakan kue tersebut.
"Dylan." Verrel langsung berlari mendekati Dylan. Di ikuti semua orang yang berada di sana.
"Awwhhhh." Rizky menyentuh kepala bagian samping nya yang ikut terkena benda tajam itu, beruntung nya tidak menancap tepat di kepala nya.
"Ahhhh." Teriak Dylan.
Malam pesta ulang tahun Dylan berubah menjadi malam yang di penuhi dengan darah, bukan hanya keluarga Efron yang terluka tetapi para tamu juga banyak yang terluka.
Satu persatu ambulans datang memenuhi rumah untuk menjemput para tamu yang terluka. Dylan yang terluka parah terlebih dahulu di bawa ke rumah sakit dengan memakai mobil pribadi.
"Dylan, kau harus kuat." Ucap Vano, ia tidak memperdulikan tangan nya yang mengeluarkan banyak darah, yang terpenting anak nya selamat dalam kejadian ini.
__ADS_1
Dylan dengan kesadaran rendah tetap memeluk istri nya yang sudah pingsan sadari tadi, Lia tidak mendapat kan luka sedikit pun karena semua benda tajam menancap di punggung Dylan.
Verrel melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, yang ada di dalam pikirannya adalah segera sampai di rumah sakit. Rizky juga ikut dalam mobil itu, luka yang terdapat di kepala nya cukup lebar dan terus menerus mengeluarkan darah.
"Siapa yang berani melakukan ini semua." Teriak Alvaro.
Sesampainya di rumah sakit mereka yang terluka langsung mendapat kan penanganan, Verrel yang tidak mendapat kan luka hanya bisa menunggu di depan UGD. Tak lama Alana dan yang lainnya ikut bergabung bersama Verrel.
"Bagaimana sayang." Tanya Akifa.
"Mereka sedang dalam penanganan." Jawab Verrel.
"Kenapa semua terjadi di saat hari yang begitu penting." Ucap Alana.
Vano keluar dari ruang UGD dengan perban di tangan nya, Anggi yang melihat suami nya langsung memeluk Vano dengan sangat erat.
"Sayang, bagaimana dengan Dylan." Tanya Anggi.
"Aku tidak tau, dia terluka cukup parah." Jawab Vano.
__ADS_1
"Aku harus memberi membunuh orang yang melakukan semua ini, dia benar-benar ingin memancing amarah keluarga Efron." Ucap Vano dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Paman tenang lah, yang terpenting saat ini keselamatan Dylan. Masalah siapa pelaku di balik semua ini ayah ku dan paman Adit sudah menyelidiki nya." Ujar Verrel.
"Verrel benar sayang, Dylan yang terpenting untuk saat ini, percaya dengan Alvaro dan Adit. Pasti mereka dapat menemukan dalang di balik semua ini." Ucap Anggi.
Rizky dan Lia sudah di pindah kan ke ruangan inap. Rizky mendapatkan jahitan cukup banyak di kepala nya, sedangkan Lia hanya syok tanpa mendapatkan luka karena Dylan yang melindungi diri nya.
Alana memilih menemani Rizky yang masih terbaring pingsan di atas tempat tidur. Begitu juga dengan Anggi yang menemani Lia, mereka berempat sengaja di letakan ruangan khusus.
Setelah beberapa jam di dalam ruang UGD akhirnya Dylan di pindah kan ke ruang inap. Mereka semua sangat bersyukur Dylan masih dapat terselamatkan.
"Bagaimana apa kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan." Tanya Adit.
"Kami menemukan kamera tuan. Seperti nya kamera kecil ini di gunakan untuk mereka melihat momen yang tepat agar ledakan itu terkena sasaran."
"Siapa mereka, musuh kita selama ini tidak pernah berbuat sejauh ini." Ucap Alvaro.
"Mungkin ini dendam pribadi pada Dylan, yang di katakan Vano kemarin jika nyawa Dylan sedang terancam. Dylan juga sudah tiga kali mendapatkan teror, kita terlalu santai sampai mereka bisa berbuat sejauh ini." Kata Adit.
__ADS_1
"Apa rencana kita berhasil." Tanya Candra.
"Berjalan sukses tuan."