
Sesampainya di rumah ternyata Verrel sudah menyiapkan pesta pengganti untuk Dylan walaupun tak semewah yang sebelumnya. Yang terpenting Dylan tidak melewatkan momen potong kue.
Mata Dylan berbinar terharu saat melihat kejutan yang di berikan keluarga nya, padahal diri nya sudah tidak mengharapkan kejutan dari keluarga nya.
"Terimakasih sayang." Dylan mencium dahi Lia.
"Sama-sama, ini semua bukan hanya aku yang menyiapkan nya, semua orang berpartisipasi." Ucap Lia.
"Cepat potong kue nya, kali ini tidak akan meledak." Ujar Verrel.
"Kau yakin, nanti aku masuk rumah sakit lagi." Tanya Dylan.
"Kita bunuh Verrel, dia yang menyiapkan kue ini." Saut Vano.
"Hahaha tenang saja, tidak akan jika meledak berarti nasib mu memang jelek."
Dylan mengambil pisau dan mulai memotong kue ulang tahun nya. Potongan pertama ia berikan kepada Lia istri nya.
"Ternyata posisi ku, sudah tergantikan." Ujar Vano.
"Tidak pah, kau tetap yang utama bagi ku." Dylan memberikan potongan kue berikutnya kepada Vano dan juga Anggi.
"Cepat beri kami berdua cucu." Ucap Vano sambil mengusap rambut Dylan.
"Cepat lah sembuh sayang, mamah menyayangi mu." Anggi mencium dahi Dylan.
"Pasti pah mah." Ucap Dylan.
Potongan selanjutnya di berikan kepada Verrel yang selalu ada untuk nya sejak dulu, mereka tumbuh bersama dan akan selalu bersama.
"Terimakasih telah menjadi sepupu terbaik ku." Ucap Dylan.
__ADS_1
"Kau yakin potongan ini untuk ku." Tanya Verrel.
"Jadi kau tidak mau, ya sudah aku berikan pada Rizky." Kata Dylan.
"Tentu saja aku mau, cepat lah sembuh, banyak hal yang akan kita lakukan bersama." Verrel memeluk Dylan.
"Pelan-pelan Verrel, tubuh ku belum benar-benar pulih." Ucap Dylan.
Mereka semua bercanda dan tertawa bersama, menikmati acara yang berlangsung. Dylan mendekati Rizky karena ia lupa jika Rizky belum mendapat kan potongan Kue.
"Maaf aku lupa." Ucap Dylan.
"Aku juga dapat." Tanya Rizky.
"Tentu, kau saudara baru ku sekarang.Terimaksi untuk semua nya." Jawab Dylan.
"Dylan, aku atas nama Candra ingin meminta maaf pada mu, dia merusak semua kebahagiaan mu, aku benar-benar malu berada di sini setelah semua yang Candra lakukan." Ucap Rizky.
"Rizky dan Candra berbeda. Kau tidak perlu malu dan meminta maaf pada ku, waktu nya kita bersenang-senang tidak ada kesedihan lagi saat ini." Kata Dylan.
"Jam tangan, bukan nya kau membelikan ku motor." Tanya Dylan.
"Ya itu juga, aku membelikan nya untuk mu karena menurut ku cocok dengan mu." Jawab Rizky.
"Terimakasih, aku menyukai nya." Ucap Dylan.
Acara berlangsung cukup lama, para wanita sudah masuk ke dalam kamar masing-masing sedangkan para pria masih berkumpul sambil minum bersama.
"Ayah bantu aku." Ucap Verrel yang mudah sekali mabuk.
"Kau ya sudah mudah mabuk, kenapa masih minum." Alvaro menjewer telinga Verrel.
__ADS_1
"Aaawww sakit." Ucap Verrel.
"Kenapa Verrel begitu manja pada ayah nya." Tanya Rizky.
"Dia memang sangat manja, kau saja yang baru tau." Jawab Dylan.
"Rizky, bantu Verrel masuk ke dalam kamar nya."
"Kenapa harus aku." Tanya Rizky.
"Bawa saja, aku hanya ingin memberitahu mu, ketika Verrel sudah mabuk semua yang di lihat nya seperti istri nya." Jawab Dylan.
Mau tidak mau Rizky membawa Verrel masuk ke dalam kamar nya. Seperti yang di katakan Dylan Verrel mulai meraba-raba tubuh nya.
"Verrel, kau jangan gila." Ucap Rizky.
"Sayang, kenapa kamu semakin tidak berbodi." Tanya Verrel.
"Aku bukan istri mu bodoh. Tahan sebentar lagi." Rizky menarik paksa Verrel masuk ke dalam kamar nya.
"Sayang, aku ingin mencium mu." Verrel mendekati bibir Rizky.
"Sayang, apa yang kamu lakukan." Tanya Akifa.
"Sayang, kamu di sana." Verrel melihat ke arah Akifa.
"Kau siapa, kau ingin n menggoda ku, maaf aku tidak akan tergoda." Verrel menampar Rizky dan bergerak mendekati Akifa.
"Kau Verrel, awas saja." Teriak Rizky yang sangat kesal.
"Kamu benar-benar istri ku." Verrel mencium tengkuk leher Akifa.
__ADS_1
"Maaf Rizky, Verrel memang seperti itu jika mabuk." Ucap Akifa.
"Tidak papa." Rizky pergi meninggalkan kamar itu karena ia tau pasti sebentar lagi akan terjadi percetakan.