
"Ahkkkkk, kakek tutup," teriak Rakha.
"Woy, kau bukan anak gadis yang aku intip jangan berteriak seperti itu," ucap Vano.
"Jangan nodai aku abang, aku masih suci. Hahahaha sudah sana kek aku masih mandi," kata Rakha.
"Cepatlah, aku sudah mengantuk," ucap Vano.
Setelah selesai mandi Rakha langsung mengambil handphone nya untuk menghubungi kekasih tercintanya. Tidak ada hari tanpa senyuman Vivi, senyuman yang selalu membuat nya terbang melayang-layang ke udara.
"Sudah selesai," tanya Vivi.
"Sudah, ada meong pus.. pus..pus.."
"Hahaha imut mana aku atau kucing ini," tanya Vivi.
"Hmmm kucing lah," jawab Rakha.
"Ya sudah kamu menikah dengan kucing saja," ucap Vivi.
"Kamu sayang, kamu yang paling imut," kata Rakha.
"Berbohong tidak baik," ucap Vivi.
"Untuk apa aku berbohong, wanita tercantik saat ini adalah kamu seorang," kata Rakha.
"Hahaha bibir kamu manis sekali si, beberapa banyak makanan manis yang kamu makan," tanya Vivi.
"Sebanyak apapun permen yang aku makam tidak akan bisa menandingi kemanisan diri mu sayang," jawab Rakha.
"Ahkkkk Rakha kau membuat ku semakin salah tingkah," teriak Vivi.
"Hahaha sayang, kamu tau aku sedang tidak memakai apa-apa," kata Rakha.
"Hey kamu ya, sudah tidak memakai apa-apa kenapa tidak memakai baju, malah memberitahu ku," ucap Vivi.
"Hehehe maaf sayang, mana tau kamu mau melihat nya, atau melihat kakek ku," tanya Rakha.
"Tidak mau sudah pakai baju dulu sana," kata Vivi.
"Malas ah, aku pakai selimut saja sudah cukup," ucap Rakha.
"Sudah jam berapa di sana, kenapa kamu tidak istirahat," tanya Vivi.
"Di sini sudah jam setengah tiga dini hari, aku masih malas untuk istirahat, aku masih ingin melihat wajah mu," jawab Rakha.
__ADS_1
"Kamu ya, bisa saja membuat ku salah tingkah."
"Hahaha itu sudah menjadi tugas ku, kamu tidak ke cafe," tanya Rakha.
"Cafe tutup, aku sedang tidak mood bekerja," jawab Vivi.
"Nanti kalau aku sudah menjadi suami mu, kamu masih mau buka cafe?"
"Aku si masih ingin, tapi terserah kamu juga, kalau kamu melarang ku, aku akan menutup nya," kata Vivi.
"Kasihan dengan pekerjaan yang ada di sana, buka saja aku tidak masalah, nanti kita membuka usaha bersama, aku ada beberapa bisnis yang pasti akan membuat cafe mu semakin maju," ucap Rakha.
"Iya iya, suami yang baik," kata Vivi.
Dari layar Handphone Vivi melihat Vano sedang keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada, dengan cepat Vivi langsung menutup handphone nya.
"Sayang kenapa gelap, kamu melihat apa sayang," tanya Rakha.
"Sayang kakek," jawab Vivi.
Dengan cepat Rakha langsung membalik Kepala nya, ia terkejut melihat Vano sedang memakai pakaian.
"Kenapa kau lihat-lihat. Jangan kurang ngajar, kau berasal dari sini," ucap Vano.
"Hehehe tidak kakek." Rakha hanya bisa cengengesan agar Vano tidak curiga jika Vivi melihat nya.
"Tidak hanya, saat keluar kamar mandi saja," jawab Vivi.
Rakha memakai kimono nya dan pergi meninggalkan tempat tidur, ia memilih ke tempat tidur yang satu nya lagi agar Vano tidak mengganggu nya.
"Mau kemana," tanya Vano.
"Ke kamar satu nya, sayang tidak di tuduri," jawab Rakha.
"Ada berapa kamar tidur di dalam situ," tanya Vivi.
"Ada dua, tapi tempat yang terbesar di tempat awal, tapi aku malas di sana, nanti kakek mengganggu kita," jawab Rakha.
"Oalah, iya lebih baik kamu kamar sendiri saja, kasihan kakek ingin istirahat," ucap Vivi.
"Mana mungkin dia istirahat, pasti dia menghubungi pacar nya."
"Pacar nya siapa pacar nya, kakek pacaran lagi," tanya Vivi.
"Hmmm iya, pacarnya adalah Anita," jawab Rakha.
__ADS_1
"Apa mereka berpacaran," tanya Vivi.
"Tidak juga si, kakek langsung mengajak nya menikah, aku sebagai cucu yang baik aku sangat senang jika kakek mau menikah lagi," jawab Rakha.
"Iya si, kakek memang masih sangat layak menikah Tadi pas keluar dari kamar mandi roti sobek kakek masih ada," kata Vivi.
"Sayang kok malam membahas roti sobek kakek, kalau kamu mau ini aku ada mau sarapan roti," tanya Rakha.
"Hahaha tidak begitu, sayang sudah dulu ya. Aku harus mengantarkan kakak ipar pergi. Kamu langsung istirahat setelah semua nya selesai langsung pulang," kata Vivi.
"Iya sudah selamat malam. Muach...
"Malam sayang muach. Sampai ntah tidak." Vivi mematikan sambungan telepon itu.
Tidak berbeda dengan Rakha, Vano juga sedang bervideo call dengan Anita. Mereka berdua sudah membahas membahas tentang pernikahan mereka nanti. Dengan demikian Vano yakin Anita akan menerima ajakan menikah dari nya.
"Aku tidak mau ada pesta besar, aku mau pernikahan kita hanya keluarga terdekat saja," kata Anita.
"Hmmm berarti kau mau aku ajak menikah," tanya Vano.
"Ya sudah aku jawab sekarang iya aku mau. Aku sudah memikirkan nya dengan sungguh-sungguh dan aku sudah meminta pendapat dengan orang terdekat ku. Awal nya aku ragu perbedaan umur kita sangat jauh, derajat kita juga sangat jauh. Tapi setelah aku pikir berulang kali aku sadar mungkin ini takdir ku, mungkin Bapak memang jodoh ku. Aku di beri kesempatan besar untuk merawat bapak sebagai suami ku," jawab Anita.
Vano tersenyum lebar mendengar jawaban itu dari Anita. Ia tidak menyangka jika takdir yang menimpa diri nya benar-benar sangat indah.
"Bapak kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu," tanya Anita.
"Terima kasih Anita, sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi, nanti aku akan mengatakan masalah ini pada Alvaro."
"Jangan begitu, nanti saja kalau sudah menikah baru seperti itu. Bapak kalau kita menikah akan tinggal dimana," tanya Anita.
"Sebaiknya kita tinggal berdua saja, di apartemen," jawab Vano.
"Kenapa tidak di sini saja, aku sudah nyaman di sini, Rakha dan Vivi kan akan menikah aku jadi ada tema nya," kata Anita.
"Masalah tempat tinggal nanti saja kita bahas, sekarang pernikahan nya mau yang seperti kamu katakan tadi," tanya Vano.
"Iya Pak, jangan ada pesta atau acara, kalau acara keluarga aku tidak papa. Aku tidak ingin mengundang sentimen buruk orang lain," jawab Anita.
"Iya aku juga setuju, sebelum aku tidur ada yang ingin kau tanyakan lagi," tanya Vano.
"Ada, apa malam pertama itu sakit sekali. Aku sangat takut, bapak keturunan bule dan pasti itu nya aduhai. Dan aku sangat mungil pasti tidak muat," kata Anita yang membuat Vano ingin tertawa.
"Sudah jangan kamu pikirkan, aku sudah sangat jago, kamu jangan lupa minum jamu agar kuat menerima serangan mu," ucap Vano.
"Bapak malah membuat ku terus kepikiran," kata Anita.
__ADS_1
"Hahahaha tidak akan sakit kok," ucap Vano.