
"Kakak," teriak Vivi yang melihat Monica terlebih dahulu.
"Monica." Rian langsung berlari mendekati Monica. Tanpa banyak berpikir Rian langsung membawa Monica pergi menjauh dari tempat kejadian.
Monica sudah penuh dengan darah, kecelakaan yang cukup parah membuat diri nya terpental ke luar dari dalam mobil.
"Vivi mobil," teriak Rian.
Dengan tubuh yang gemetar. Vivi langsung mengambil mobil Rian, begitu juga dengan Rian yang langsung membawa Monica masuk ke dalam mobil. Saat dalam perjalanan ke rumah sakit, Rian hanya bisa menangis sambil memeluk istri nya, perasaan nya benar-benar sangat kacau dan ia sangat merasa bersalah pada Monica.
"Monica jangan tinggalkan aku, Monica," ucap Rian.
Sesampainya di rumah sakit, Monica langsung dibawa ke ruang Unit gawat darurat. Kondisi Monica benar-benar sangat memperhatikan, begitu juga dengan Rian yang tak kalah kacau nya saat melihat istri nya seperti itu.
"Kak jangan seperti ini, hey tenang lah dulu," ucap Vivi.
"Ini semua salah ku vi, sebelum ia pergi dari rumah aku dan dia bertengkar, aku yang membuat nya marah, aku yang membuat nya sampai seperti ini," kata Rian.
"Tidak kak, jangan menyalahkan diri sendiri, kau tidak salah kak, tidak ada yang salah. Ini semua sudah takdir," ucap Monica.
__ADS_1
"Aku aku harus apa vi, jika aku memberitahu tuan Stiven dia akan marah."
"Kakak tetap harus memberitahu nya kak, kalau kakak tidak memberitahu mereka, kakak akan semakin di salahkan," kata Vivi.
Dengan tangan yang gemetar, Rian mengambil handphone nya dari saku celana. Ia sangat takut jika Verrel akan marah pada nya.
"Hallo Tuan." ucap Rian, ia tidak bisa menyembuhkan rasa takut dan kesedihan nya.
"Hmmm iya, sudah aku katakan jangan memanggil ku tuan lagi, ada apa, kenapa suara mu gemetar seperti itu," tanya Verrel.
"Istri ku kecelakaan yah, sekarang dia sedang berada di rumah sakit," jawab Rian.
Rian mengirimkan alamat rumah sakit tempat Monica berada sekarang, saat ini ia hanya bisa menerima amarah dari Verrel yang sudah pasti akan mengamuk pada nya.
"Tuan Verrel pasti dapat mengerti semua nya kak, jangan takut," kata Vivi.
Monica belum keluar dari unit gawat darurat, ntah sudah berapa lama mereka menunggu belum ada tanda tanda jika Monica akan keluar dari ruangan itu.
"Rian dimana Monica," tanya Verrel.
__ADS_1
"Masih di dalam tuan," jawab Rian.
"Kenapa semua nya bisa terjadi, jelaskan pada ku Rian, aku sudah mempercayakan nya pada mu," tanya Verrel.
Rian langsung berlutut memohon ampun pada Verrel, ia mengakui jika semua ini memang kesalahan nya.
"Ahkkkk bodoh, kau membuat ku marah Rian," bentak Verrel sambil menendang Rian dari kaki nya.
"Maafkan saya tuan, semua ini kesalahan saya," ucap Rian.
"Iya ini semua memang kebodohan mu. Aku sudah mempercayakan keponakan ku untuk mu, tapi kau malah membuat nya seperti ini, kau benar-benar membuat ku marah Rian," kata Verrel.
"Maafkan saya tuan, maafkan saya."
"Untuk saat ini aku memaafkan mu, jika sampai terjadi sesuatu yang fatal kau yang bertanggung jawab Rian," ucap Verrel dengan tegas.
"Iya tuan, saya pasti akan bertanggung jawab," kata Rian.
4 jam telah berlalu akhirnya yang mereka tunggu keluar juga dari ruang UGD. Kepala Monica tampak di perban dengan wajah yang sangat pucat sekali. Hal itu membuat kemarahan Verrel semakin meluap.
__ADS_1