
"Maaf pak, saya tidak sengaja." Ucap Alana sambil membantu pria itu merapikan berkas yang berserakan di lantai.
"Tidak perlu meminta maaf, aku hanya tidak ingin bertemu dengan diri mu lagi." Ucap Pria itu dan pergi meninggalkan Alana.
"Kau pikir aku mau bertemu dengan mu lagi, es batu." Batin Alana.
"Ah gara-gara pria itu, aku lupa harus ke ruangan pak Rizky. Tapi aku tidak ruangan nya dimana." Alana kembali berjalan untuk mencari ruangan pak Rizky, ia tidak boleh telat karena kata papah nya orang yang bernama Rizky sangat mementingkan kata disiplin.
Setelah bertanya ke sana sini, akhirnya Alana menemukan ruangan yang ia cari. Alana sangat takut masuk ke dalam ruangan itu karena ia sudah sangat telat.
Sebelum masuk Alana mengetuk pintu terlebih dahulu, ketika sudah mendapatkan jawaban baru lah Alana berani masuk ke dalam, hampir sepuluh menit Alana menunggu di depan pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Oke Alana, 10 menit lagi." Batin Alana.
Dan 10 menit pun berlalu dan masih belum mendapatkan jawaban, karena kesal dan lelah menunggu Alana langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi pak." Ucap Alana sambil mendekati Rizky yang sedang sibuk dengan berkas nya.
"Saya tidak meminta mu untuk masuk." Kata Rizky tanpa melihat ke arah Alana.
"Maaf Pak saya telat, saya telat karena menabrak seseorang pak. Dan...
"Keluar." Ucap Rizky.
"Woy mau mu apa si, aku belum selesai berbicara." Batin Alana.
__ADS_1
"Tapi pak, saya harus menemui anda."
"Keluar jangan ganggu saya." Bentak Risky sambil menaikan kepala nya.
"Kamu, yang aku tabrak tadi." Ucap Alana.
"Apa kamu tidak memiliki kuping, saya sedang bekerja jangan ganggu saya. Saya tidak habis pikir siapa orang yang menerima wanita ceroboh di perusahaan sebesar ini."
"Pak Adit." Kata Alana.
"Pak Adit jangan mimpi, keluar dari ruangan saya." Ucap Adit.
"Baiklah, tapi saya yakin saya akan kembali ke ruangan ini lagi." Kata Alana.
Alana keluar dari ruangan itu, ia tidak menyangka jika orang yang pak Rizky adalah orang yang ia tabrak tadi. Alana mengambil hp nya untuk menghubungi papahnya.
"Kamu." Ucapan Risky terpotong karena telepon di depan nya berdering.
"Hmmm tapi pak, baik Pak, terimakasih." Ucap Rizky dan kembali meletakkan telepon itu.
"Sudah saya bilang tadi pak, saya pasti akan kembali lagi keruangan bapak." Kata Alana.
"Pak Adit menyerah kan diri mu seutuhnya ke pada saya, hukuman yang tepat untuk orang yang tidak disiplin dan menyalahkan orang lain karena kesalahan nya sendiri adalah, kamu susun ulang buku dalam rak itu, sesuai kan dengan warna dan ukuran yang tepat."
"Hukuman apa ini pak..
__ADS_1
"Lakukan atau keluar dari ruangan saya." Potong Risky.
"Baik Pak, akan saya lakukan." Ucap Alana.
Risky melanjutkan kembali pekerjaan nya sedang Alana menjalani hukuman nya, kesal sudah pasti karena baru kali ini Alana mendapatkan hukuman seaneh ini.
Dylan dan Lia sudah kembali ke rumah, Dylan berjalan menarik Verrel dengan kasar, ia marah pada Verrel karena Verrel yang mengusulkan pernikahan nya dengan Lia.
"Pelan-pelan bodoh, aku sedang sakit." Ucap Verrel.
"Apa maksud mu kemarin, kau dalang di balik permasalahan ku yang baru." Kata Dylan.
"Dylan sudah lah, aku hanya ingin melihat mu bahagia tidak lebih." Ucap Verrel.
"Bahagia kata mu, aku tidak bahagia Verrel, Aku menikah dengan Lia hanya satu bulan, tidak lebih dia hanya ingin membantu ku."
"Maksud mu kau akan bercerai setelah satu bulan, Dylan kenapa, apa karena masalah cinta? Dylan percaya kah cinta akan datang dengan sendirinya." Ujar Verrel.
"Aku tau itu, tapi Lia tidak mau tidak mau membangun cinta itu, dia ingin bercerai dengan ku."
"Pasti ada alasan nya Dylan, tugas mu cari alasan itu dan selesai kan." Kata Verrel.
"Ah kau tidak mengerti Verrel, sudah lah." Dylan pergi meninggalkan Verrel.
"Pak sudah." Ucap Alana.
__ADS_1
"Ulangi tidak rapi." Kata Risky tanpa melihat tugas yang di selesai kan Alana. Tentu saja itu membuat Alana naik pitam.