
"Sayang, bangun hey." Dylan membangunkan Lia yang sedang tidur.
"Siapa namannya tadi kenapa aku menjadi pikun seperti ini." Ucap Dylan.
"Sayang bangun sudah siang, mau berapa lama lagi kamu tidur." Dylan mencium wajah Lia agar Lia cepat bangun dari tidur nya.
"Hmmm aku lelah sayang, anak kita tidak ingin aku bangun." Ucap Lia sambil menahan wajah Dylan.
"Lelah kenapa sayang, apa aku tadi malam bermain sangat ganas." Tanya Dylan.
"Sangat ganas, kamu tidak hati-hati, jika terjadi sesuatu pada anak kita bagaimana."
"Hehehe maaf sayang, kamu terlalu nikmat untuk ku, kamu saja juga sangat ganas, sayang ayo bangun bantu aku mengingat semua nya." Ucap Dylan.
"Bantu aku untuk bangkit." Kata Lia.
"Sayang kamu manja sekali pada ku, tapi aku sangat senang." Ucap Dylan dan langsung menggendong Lia masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu Verrel dan Rizky sudah berada di Efron grup. Sedari tadi Verrel benar-benar tidak konsen dalam bekerja, otak nya tertuju pada seseorang yang seperti nya memang sedang mengawasi nya.
"Siapa dia, aku tidak memiliki masalah dengan siapapun." Batin Verrel.
Verrel memang sedang sangat berhati-hati, ia takut terjadi seperti Dylan yang akan membuat istri nya sedih.
"Apa dia ada hubungannya dengan masa lalu ku, atau mantan ku."
"Ada apa Verrel, coba cerita kan pada ku." Ucap Rizky.
"Aku tidak papa, aku benar-benar tidak konsen, aku pulang lebih dulu ya." Kata Verrel.
"Bersama ku saja, aku juga tidak mau bekerja jika tidak ada kau di sini."
__ADS_1
"Dasar, bekerja yang rajin anak mu sebentar lagi akan lahir." Ucap Verrel.
"Percuma aku berada di keluarga Efron jika lahiran saja susah." Kata Rizky.
"Hahaha sudah ayo pulang, Rizky apa kau masih mendapatkan jatah." Tanya Verrel.
"Masih, baru tadi malam aku mendoakan servis yang luar biasa, aku bermain berjam-jam Verrel."
"Aku sedang ingin sekali, tapi Akifa masih tidak mau, hadeh nasib suami takut istri." Ucap Verrel.
"Selamat bermain solo Verrel." Rizky menahan tawa nya.
"Ah." karena asik berbincang tanpa sengaja Verrel menabrak seseorang.
"Eh maaf pak."
"Tidak papa." Verrel melanjutkan langka kaki nya.
"Dia yang bernama verrel, sangat tampan apa aku bisa mendapatkan nya."
"Jangan terlalu baik pada wanita, wanita itu seperti ular yang bisa melilit atau mematuk mu setiap saat." Jawab Verrel.
"Dasar kang bucin, bilang saja takut jika ketauan Akifa." Ucap Rizky.
"Hehehe kau tau saja, Akifa segala nya Rizky, aku saja pernah di minta menikah lagi dengan Akifa tapi aku tidak mau, cinta ku pada nya begitu besar."
"Iya iya kang bucin, aku juga seperti mu." Kata Rizky.
Sesampainya di rumah mereka melihat Dylan dan Lia sedang bermesraan di ruang tamu, ntah apa yang mereka berdua lakukan tetapi dari kejauhan terlihat sangat mesra.
"Di kamar woy." Teriak Rizky.
__ADS_1
"Sayang siapa nama pria jelek itu." Tanya Dylan.
"Yang mana, Verrel yang sangat tampan itu dan yang satu nya Rizky." Jawab Lia.
"Sayang kamu mengatakan Verrel tampan." Ucap Dylan.
"Sayang dia memang benar-benar tampan, bahkan dari kalian semua, apa aku harus berbohong."
"Demi aku kamu tidak papa berbohong, tampan siapa aku atau Verrel." Tanya Dylan.
"Ya jelas aku Dylan, apa dari dulu kau tidak pernah sadar, ketampanan ku sudah mendunia Dylan." Ucap Verrel.
"Kau sombong sekali." Saut Dylan.
"Hahaha Lia apa kau melihat Akifa." Tanya Verrel.
"Akifa, hmmm aku belum melihat nya sejak tadi."
"Baiklah terimakasih." Ucap Verrel dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar nya, karena ia yakin jika Akifa masih tertidur.
"Hmmm bagus ya, sudah siang seperti ini masih tidur." Ucap Verrel sambil bertepuk tangan.
"Sayang, kamu sudah pulang. Sayang perut ku sakit sekali." Kata Akifa.
"Eh kamu kenapa, mana yang sakit apa bayi kembar kita nakal." Verrel langsung menaikan baju Akifa dan mengusap perut Akifa dengan lembut.
"Anak daddy tidak boleh nakal ya, kasihan mommy." Ucap Verrel.
"Ah sakit sayang, aku takut." Kata Akifa.
"Kita ke dokter sekarang ya." Tanya Verrel.
__ADS_1
"Aku belum mandi sayang, apa tidak papa." Tanya Akifa.
"Tidak papa, ayo kita ke dokter. Eh tunggu mungkin karena milik ku belum masuk ke dalam jadi anak kita protes." Jawab Verrel.