
"Minum lah, ini akan membuat perut mu lebih terasa enak." Verrel memberikan jamu yang di buat oleh bunda nya.
"Terimakasih." Akifa meminum jamu itu, baru sedikit ia meminum nya Akifa ingin memuntahkan nya karena ia tidak tahan dengan rasa pahit.
"Kenapa." Tanya Verrel.
"Pahit, aku tidak suka pahit." Jawab Akifa.
"Semua orang juga tidak suka pahit, ayo cepat minum atau aku akan memasukan jamu ini secara paksa." Ancam Verrel.
Akifa yang sangat takut pada Verrel dengan cepat ia menenggak jamu itu sampai habis, Verrel tersenyum saat melihat istri nya yang begitu takut pada nya, memang itu yang ia harapkan dari dulu mempunyai istri yang penurut dan takut pada nya.
"Pintar, kau tau jika aku sudah marah jangan harap mendapatkan ampunan dari ku." Verrel mengambil gelas lalu meletakan nya di atas meja.
"Aku akan pergi bersama Dylan, kau baik-baik di rumah." Verrel mencium kening Akifa.
Dylan dan Verrel sedang berada di dalam mobil, ini pertama kali nya mereka satu mobil semenjak perang dingin di antara mereka berdua.
"Bagaimana istri mu apa sudah baikan." Dylan membuka topik obrolan.
"Hmmm begitu lah, sakit datang bulan pada umumnya." Ucap Verrel.
"Verrel, apa kau sudah melakukan nya dengan istri mu." Tanya Dylan.
"Tentu, aku menikah dengan nya, ya sudah pasti kami akan melakukan nya, lagi pula dia benar-benar penutur dan tidak pernah membantah ku." Jawab Verrel.
"Seperti nya aku akan segera mempunyai keponakan."
"Tidak semudah itu, aku tidak ingin dia hamil dulu, aku ingin mengenal dia lebih dalam lagi."
"Aku iri dengan mu." Ucap Dylan.
"Kenapa iri dengan ku, begini aku menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal, itu sangat berat bagi ku dan kau bersama orang yang kau cintai, apa yang harus kau iri kan dari ku." Tanya Verrel.
"Aku ingin menikah seperti mu, tapi dia belum mau menikah dengan ku, ntah apa alasan aku sudah lelah jika terus seperti ini." Jawab Dylan.
__ADS_1
"Aku merelakan nya dia untuk mu, dan kau menyerah begitu saja. Perjuangan kan dia, cari alasan kenapa dia tidak ingin menikah." Ucap Verrel.
"Kau benar, terimakasih."
Malam hari telah tiba Verrel dan Dylan pulang ke rumah dengan ke adaan mabuk, apalagi Verrel yang toleransi terhadap alkohol cukup lemah, membuat nya mudah sekali mabuk.
Akifa membantu Verrel masuk ke dalam kamar, ia membuka seluruh pakaian Verrel karena basah oleh keringat. "Kau sudah pernah melihat nya, sudah pernah merasakan nya. Buat apa harus malu." Batin Akifa.
"Sayang, mau kemana." Verrel menarik tangan Akifa sampai Akifa jatuh ke dalam dekapan nya.
"Aku ingin mengambil kan mu pakaian."
"Tidak perlu."
"Tapi nanti kamu masuk angin." Ucap Akifa.
"Ada kamu yang menghangatkan ku." kepala Verrel masuk ke dalam baju Akifa.
Akifa tidak bisa bergerak lagi karena Verrel memeluk nya dengan erat. Ia menarik selimut untuk menyelimuti mereka berdua dan tak lama Akifa tertidur di dalam pelukan itu.
"Indah sekali." Ucap Verrel.
Verrel keluar dari baju Akifa, ia melihat ke arah tubuh nya yang sedang tidak memakai apapun.
"Istri yang baik." Verrel mengusap dahi Akifa.
"Hey kebo, bangun lah, apa kau mau tidur terus." Verrel berusaha membangun kan Akifa.
"Hmmmm." Akifa mulai membuka mata nya.
"Apa yang kau lakukan pada ku." Tanya Verrel.
"Hmmm aku, aku tidak melakukan apapun." Jawab Akifa.
"Kau kira aku bodoh, lihat aku tidak memakai apapun, apa kau mem..
__ADS_1
"Tidak mana mungkin itu terjadi, aku sedang ada tamu." Potong Akifa.
"Apa maksud mu, akan hanya bertanya apa kau yang membuka pakaian ku? "
"Eh iya, karena pakaian mu basah." wajah Akifa mulai memerah karena menahan malu.
"Apa yang kau pikirkan, apa jangan-jangan kau..
"Tidak sayang." Akifa bersembunyi di atas dada bidang Verrel.
"Sayang? Kau memanggil ku sayang, kau sudah berani ya. Karena kau sudah lancang, kau akan mendapatkan hukuman." Ucap Verrel.
"Hukuman apa." Tanya Akifa.
"Apa saja, terserah ku." Jawab Verrel.
"Hmmm baiklah aku mau mandi dulu."
"No, aku kedinginan." Verrel memeluk Akifa.
"Mandi air hangat ya, aku siapkan." Ucap Akifa.
"Tidak mau, aku malas mandi, diam jangan banyak protes, kau masih dalam hukuman ku."
"Hukuman seperti apa begini." Ucap Akifa.
"Jadi kau mau seperti apa, mau membersikan seluruh rumah ini? "
"Tidak."
"Atau kamar ini? "
"Tidak."
"Ah begini saja bersihkan tubuh ku." Verrel menggendong Akifa masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1