
Pagi telah berganti menjadi malam, Akifa merasa sangat bosan karena tidak melakukan apapun, berbeda dengan Verrel yang sedang memegang laptop nya, ia mendapat kan tugas dari kakek nya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam waktu singkat.
"Mas, aku bosan. Aku keluar ya." Ucap Akifa.
"Tidak ada, kau sedang sakit. Berdiam lah di tempat tidur."
"Aku sangat bosan mas, kamu asik dengan laptop mu sendiri sedangkan aku tidak mengerjakan apapun." Ucap Akifa.
"Jadi kau mau mengerjakan sesuatu, sebentar aku ambil pasir." Kata Verrel.
"Untuk apa mas." Tanya Akifa.
"Kata mu ingin mengerjakan sesuatu, aku ambil pasir untuk kau hitung agar kau tidak suntuk." Jawab Verrel.
"Tidak mau, aku marah dengan mu." Akifa menyembunyikan wajah nya di bawah selimut.
"Akifa, jangan membuat ku marah." Ancam Verrel.
"Aku tidak dengar." Ucap Akifa.
"Baiklah, kita bermain gemes saja." Verrel mendekati Akifa, tangan nya bergerak menarik selimut yang menutupi wajah Akifa.
"Aku tidak mau." Ucap Akifa.
"Kau marah pada ku." Tanya Verrel.
"Tidak." Jawab Akifa
"Kau marah kan." Verrel mendekati wajah Akifa.
"Tidak." Akifa menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Sayang, jangan marah pada ku." Ucap Verrel.
Akifa membuka membuka tangan nya, ia terkejut karena Verrel memanggilnya sayang.
"Kamu memanggil ku sayang." Tanya Akifa.
"Tidak, kau salah dengar." Jawab Verrel.
"Kamu memanggil ku sayang, aku mendengar nya." Ucap Akifa.
__ADS_1
"Tidak saya..." Verrel menutup mulut nya karena keceplosan.
"Hahaha yang." Akifa tertawa puas.
"Iya iya aku memanggil mu, sayang sayang sayang sayang, sudah puas." Ucap Verrel.
"Sangat puas, nah sekarang kita mau bermain game apa." Tanya Akifa.
"Kita akan bermain tembak-menembak, yang berhasil mengenai sasaran dia bebas melakukan apapun dan jika tidak mengenai sasaran dia harus membuka satu pakaiannya." Ucap Verrel.
"Aku setuju." Akifa sangat bersemangat dengan permainan yang di katakan Verrel.
Verrel turun dari atas ranjang dan mengambil tablet di laci, setelah itu ia membuka aplikasi yang ia maksud.
"Siapa yang memulai nya dulu." Tanya Akifa.
"Laki-laki itu pemimpin, jadi aku yang akan memulai nya." Jawab Verrel.
"Kamu curang, tapi tidak papa. Kamu tidak akan mengenai nya." Ucap Akifa.
"Kata siapa sayang, aku sudah sering bermain ini." Verrel mulai mengarahkan tembaknya ke sasaran, dan satu dua tiga, Verrel melepaskan peluru nya.
"Yes tidak kena." Ucap Akifa.
"Jangan berbicara sembarangan, cepat buka salah satu pakaian mu." Ucap Akifa sambil tertawa bahagia.
"Baiklah, aku akan membuka baju ku." Verrel membuka baju dan membuang nya ke sembarang arah.
"Giliran aku, lihat lah aku akan mengenai nya." Akifa mulai mengarahkan tembak nya.
"Satu dua tiga, tembak." Ucap Akifa.
"Haa.. Kenapa tepat sasaran." Verrel merasa tidak percaya karena Akifa dapat mengenai sasaran.
Akifa mengambil tas nya, kemudian ia mengambil lipstik di dalam tas dengan senyuman jahil nya. Verrel mulai merasa Akifa akan berbuat sesuatu pada nya.
"Apa yang mau kamu lakukan." Tanya Verrel.
"Diam lah sayang, wajah mu akan tampak indah." Jawab Akifa.
Akifa mendekati wajah Verrel, ia mencoret-coret wajah Verrel dengan lipstik sambil tersenyum bahagia, berbeda dengan Verrel yang merasa sangat kesal.
__ADS_1
"Sudah sekarang giliran aku." Ucap Verrel dengan mengambil alih permainan
"Yes kena." Ucap Verrel.
"Apa yang kamu mau." Tanya Akifa.
"Cium aku bagian ini, ini, ini, ini, ini dan ini." Jawab Verrel.
"Aku tidak mau yang terakhir itu memalukan." Ucap Akifa.
"Memalukan kamu bilang, kamu sudah pernah memegang nya, merasakan nya, melihat nya, buat apa kamu malu. Kamu tau sayang aku tidak suka penolakan." Kata Verrel.
"Baiklah." Akifa mencium semua anggota tubuh yang di tunjuk Verrel, Verrel menahan kepala Akifa saat mulai mencium nya, karena itu membuat nya terasa lebih nikmat.
"Hmmm sayang kamu nakal." Ucap Verrel.
"Sudah aku mulai." Akifa kembali mulai menembakan peluru nya.
"Gagal, tidak kena hahaha." Verrel tertawa sangat puas.
Akifa membuka baju nya, Verrel sangat senang mendapatkan pemandangan yang sangat indah.
"Sayang, aku akan membesarkan itu." Ucap Verrel.
"Sudah besar, kenapa harus besar lagi." Kata Akifa
"Belum cukup besar untuk ku." Verrel tersenyum mesum.
"Sudah kamu mulai main lagi." Akifa menyerah kan tablet itu pada Verrel.
"Gagal lagi." Teriak Verrel.
"Buka celana mu sayang." Ucap Akifa.
Saat Akifa mulai bermain lagi, tiba-tiba lampu kamar itu mati, Verrel yang terkejut langsung melompat ke arah Akifa.
"Ahhh aku takut." Teriak Verrel.
Akifa menangkap Verrel dan mendekap kepala Verrel, ia sudah mengetahui jika Verrel takut dengan gelap karena rasa trauma nya saat di kurung kakek nya di dalam gudang.
"Jangan takut, aku ada di sini." Ucap Akifa.
__ADS_1
"Terasa lembut, dan kenyal, bagaimana aku takut jika berada di benda ini."