
"Saya dok." Tanya Verrel dengan suara bergetar.
"Iya mas Verrel, hal ini di sebabkan seperti gaya hidup tidak sehat, merokok, minum-minuman keras berlebihan, makan-makanan tidak sehat, genetika dan lain sebagainya. Mulai sekarang atur hidup anda dengan baik, tidak perlu takut untuk tidak bisa memilki anak karena semua sudah di atur dengan yang maha kuasa. Anda hanya perlu berusaha menjadi lebih baik lagi dan jangan lupa berdoa."
Akifa menggenggam tangan Verrel dengan erat, fakta ini sangat berbanding kebalik dengan apa yang selama ini Akifa pikirkan.
Setelah itu mereka semua langsung pulang, Verrel hanya bisa diam sambil memejamkan mata nya, menahan rasa sakit yang teramat mendalam.
"Papah mohon Akifa jangan tinggal kan Verrel, dia tidak bisa hidup tanpa mu." Alvaro turun berlutut di hadapan Akifa. Ia akan melakukan apapun demi anak nya, termasuk menjatuhkan harga diri nya.
"Pah." Akifa ikut turun di lantai dan membantu Alvaro berdiri. "Akifa tidak akan pernah meninggalkan Verrel, Akifa sangat menyayangi nya."
"Terimakasih papah yakin kalian pasti dapat melewati ini semua." Alvaro langsung memeluk Akifa.
"Iya pah, Akifa sangat yakin."
Hati Verrel benar-benar sangat hancur, fakta jika diri kurang subur membuat diri nya seperti pria yang tidak memiliki harga diri. Pria yang sama sekali tidak berguna, Verrel hanya bisa menangis di dalam kamar nya, yang ia takut kan ialah Akifa akan meninggalkan nya karena fakta ini.
"Sayang." Akifa memeluk Verrel dengan erat.
"Aku yang bermasalah sayang, jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mencari kan suami terbaik untuk menggantikan ku." Ucap Verrel.
"Kamu berbicara apa, kita tetap akan bersama sayang. Kita tidak akan pernah berpisah."
"Itu yang aku mau, kita memang tidak akan berpisah tapi kamu tetap akan menikah kembali. Aku yang akan mencari suami untuk mu."
__ADS_1
"Tidak sayang kamu suami ku satu-satu nya. Tidak ada lagi."
"No, kamu harus tetap memiliki seorang anak, aku tidak bisa memberikan itu." Ucap Verrel.
"Kita bisa berusaha sayang, inti nya aku tidak mau menikah lagi, aku hanya mau kamu."
"Kamu yakin dengan keputusan mu, kamu mempertahankan laki-laki tidak berguna seperti ku."
"Aku sangat yakin sayang, kamu sangat berguna untuk ku, apapun kekurangan dan kelebihan kamu aku tetap akan menerima mu. Seperti kamu menerima ku." Ucap Akifa.
"Terimakasih hiks hiks hiks. Aku sangat mencintaimu." Verrel menciumi wajah Akifa.
"Aku juga." Mereka berdua saling berpelukan.
"Hati ku sangat sakit sayang. Bagaimana dengan perasaan Verrel sekarang. Bagaimana bisa seperti ini." Kata Alvaro.
"Ini sudah takdir sayang, dan percayalah pasti Verrel akan bisa memiliki anak."
"Sekarang kamu harus lebih sering bersama nya, buat dia bahagia sayang." Ucap Angel.
Alvaro keluar dari kamar nya, ia ingin menemui anak nya hanya sekedar untuk berbincang mengusir kesedihan anak nya.
"Verrel." Alvaro memanggil Verrel yang sedang berbaring di atas kasur.
"Iya yah." Verrel bangkit dari atas kasur dan mendekati Alvaro.
__ADS_1
"Jangan bersedih seperti ini, ayo ikut dengan ku."
"Tidak yah, aku malas kemana-mana. Aku ingin menenangkan perasaan ku.".
"Lihat wajah mu sudah bengkak seperti itu, sampai kapan kau terus menangis, ayo Verrel kuat dan semangat lah."
"Iya yah, aku akan tetap memperjuangkan Akifa, aku tidak akan melepaskan nya." Ucap Verrel.
"Akifa tidak akan meninggalkan mu, percaya itu. Ayah sudah berbicara dengan Akifa agar tidak meninggalkan mu." Ucap Alvaro.
"Terimakasih." Verrel memeluk ayah nya.
"Sayang kenapa ini terjadi pada Verrel, dia orang yang sangat baik, kenapa semua tidak adil, aku tidak tau bagaimana perasaan Verrel saat ini." Ucap Rizky.
"Pasti perasaan nya sangat hancur, apalagi diri nya sangat ingin memiliki anak, Akifa juga meminta pisah dengan nya saat di kapal kemarin." Ujar Dylan.
"Kita harus berbicara dengan kak Akifa, dia tidak boleh meninggalkan kak Verrel." Ucap Alana.
"Iya iya kau benar, tadi aku melihat Akifa di dapur, ayo kita ke sana." Kata Dylan.
Mereka berempat langsung berjalan ke dapur untuk membujuk Akifa agar tidak meninggalkan Verrel.
"Akifa kami ingin berbicara dengan mu, kemari lah." Ucap Dylan.
"Iya, ada apa." Akifa bejalan mendekati Dylan dan yang lainnya.
__ADS_1