
Brian pergi ke tempat yang mereka janjian dengan Laura, ia sangat senang akhirnya bisa mendekati Laura.
"Laura hidup mu bersama ku sekarang, aku akan membalas semua penghinaan dan penolakan yang pernah kau lakukan pada ku," batin Brian.
Sesampainya di tempat itu, Brian langsung berjalan mendekati Laura yang sedang duduk menunggu nya. Laura masih tidak tau jika Rakha tidak ikut dengan nya.
"Laura kau di sini," tanya Brian.
"Kau kenapa kau di sini, pergi menjauh dari ku," ucap Laura.
"Hahaha kenapa, seperti nya kau sangat jijik padan ku, apa salah ku pada mu sayang," tanya Brian.
"Pertama kau brengsek, ke dua kau bukan level ku, kau pria miskin," jawab Laura.
"Aku pria miskin ya, aku brengsek juga, lalu bagaimana dengan mu plakor, kau masih berhubungan dengan Axel walaupun Axel sudah menikah," kata Brian.
"Diam kau Brian, jangan asal bicara kau," ucap Laura.
"Oh ya, aku asal bicarakan. Kalau begitu aku akan membicarakan hal ini pada ayah mu. Kau tau kan aku cukup dekat dengan nya," ancam Brian.
"Jangan macan-macam Brian," ucap Laura.
"Kenapa kau takut Laura, aku hanya mantan anak satpam di rumah mu. Kau takut dengan ku," tanya Brian.
"Orang seperti mu tidak mungkin aku takuti," jawab Laura.
"Oh iya, ya sudah aku ke rumah mu dulu, apa kah orang tua mu masih percaya dengan ku. Dengan kenakalan mu, aku yakin orang tua mu kembali murka dan mungkin akan mengasingkan mu, atau mengusir mu," ucap Brian dan pergi meninggalkan Laura.
"Jangan gila Brian, tunggu," teriak Laura dan langsung berlari mengejar Brian.
"Brian," ucap Laura.
"Iya ada apa, kau kenapa repot-repot mengejar ku," tanya Brian.
"Apa masalah mu pada ku, ya aku memang masih ada hubungan dengan Axel."
"Sekali lagi aku tidak dengar," ucap Brian dengan senyuman di bibir nya. Laura tidak tau jika diri nya sedang di jebak.
"Aku masih berhubungan dengan Axel, kau puas sudah jangan ganggu aku," kata Laura.
"Hahaha kau bodoh Laura, kau masuk ke dalam perangkap ku. Aku lebih mudah menjatuhkan mu, kau tau aku merekam suara mu. Siapa dulu yang aku beri tau, keluarga Axel. Hmmm atau keluarga mu," tanya Brian.
"Brian, sebenarnya apa masalah mu," ucap Laura.
"Kau tidak bodoh Laura, kau tau apa yang aku mau, aku mau kau jadi pacar ku," kata Brian.
"Cih tidak akan mungkin aku mau menjadi pacar mu," tolak Laura.
"Tidak masalah kau menolak ku, aku hanya memberikan mu kesempatan sampai malam ini, jika kau tetap tidak mau jadi pacar ku, aku akan membongkar semua nya," Brian pergi meninggalkan Laura.
__ADS_1
Sementara itu di pejalan pulang, Axel dan Wilda semakin dekat saja, mereka sudah tidak sungkan memanggil kata sayang. Cinta sedang masuk melesat ke dalam hati mereka berdua.
"Sayang ahhhh, pelan aku takut," teriak Wilda.
"Hahaha kata nya kau tomboi, tidak takutan, kenapa saat aku ngebut saja kau takut," ucap Axel.
"Tidak di jalan raya begini sayang."
"Iya iya, aku pelan-pelan, oh iya kau mau belajar naik mobil kan, sini aku pangku," ucap Axel.
"Tidak mau, aku takut," kata Wilda.
"Sayang, kenapa kau takut, sini ayo. Aku sudah memundurkan kursi nya," ucap Axel.
"Nanti saja di kompleks perumahan, aku takut di jalan raya, kau tau mobil mu hancur baru aku bawa di kompleks. Aku ke mall bersama taman ku," kata Wilda.
"Iya kau benar, jangan sampai mobil ku masuk bengkel lagi," ucap Axel.
Ketika sudah sampai di kompleks perumahan yang lebih sepi, baru lah Wilda berani pindah ke atas pangkuan Axel.
"Axel ini apa mengganjal," tanya Wilda.
"Hehehe maaf sayang, sudah jangan kau pikirkan," jawab Axel.
Dengan sabar dan penuh perhatian Axel mengajari Wilda, Wilda bukan sama sekali tidak bisa membawa mobil tetapi ia hanya ragu dan terlalu takut. Dengan ada nya Axel, Wilda dapat lebih tenang.
"Axel itu ada tukang bakso, aku takut Axel," ucap Wilda.
"Yang mana, aku bingung Axel aku takut."
"Ahhhkkk," teriak mereka berdua.
Di rumah Rizky masih sangat semangat membahas perubahan hubungan Axel dan Wilda yang semakin dekat. Dylan juga bercerita bagaimana Axel membobol Wilda dengan sangat kasar.
"Hahaha apa benar, kau mendengar nya," tanya Rizky.
"Hahaha iya Rizky, iya Dylan aku sangat terkejut mendengar teriakan Wilda," jawab Dylan.
"Tunggu dulu, ada yang menghubungi ku," kata Rizky.
"Nanti kabar dari Axel dan Wilda," ucap Dylan.
"Apa kecelakaan," teriak Rizky.
"Siapa yang kecelakaan Rizky," tanya Verrel.
"Axel dan Wilda kecelakaan di kompleks depan," jawab Rizky.
Rizky dan yang lainnya langsung Ke puskesmas tempat Wilda dan Axel berada.
__ADS_1
Di puskesmas mereka berdua sedang menjalani pengobatan. Tangan Axel sedikit terkilir dan wajah nya sedikit luka karena melindungi Wilda. Sedangkan kaki Wilda juga terkilir dan gigi nya lepas satu akibat terbentur.
"Sayang kau ampong," ucap Axel.
"Aahhkkk sakit, jangan kau ganggu aku," teriak Wilda.
"Untung saja tidak gigi bagian depan," ucap Axel.
"Tetap saja akan terlihat."
"Sabar sayang, nanti kita pasang gigi palsu ya," ucap Axel.
"Kalian berdua tidak papa," tanya Rizky.
"Tidak pah, tapi tukang Bakso itu marah-marah dan dia meminta ganti rugi," jawab Axel.
"Kalian ada-ada saja ya, Verrel sedang menyelesaikan semuanya," ucap Rizky.
"Ini semua karena Wilda pah, dia malah menginjak gas, padahal aku meminta untuk menginjak rem."
"Sudah kita selesai kan di rumah," ucap Rizky.
"Ini semua karena mu," ucap Axel.
"Tidak ini karena mu," kata Wilda.
"Dengan begini aku tidak mau menunda jatah ku, tetap besok malam," ucap Axel.
Sesampainya di rumah mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar. Wilda terus merengek karena rasa ngiluh di gigi nya.
"Sabar sayang, sudah jangan menangis," ucap Axel.
"Sakit, seperti nya obat bius nya sudah habis," kata Wilda.
"Sudah nanti juga tidak sakit lagi," ucap Axel sambil memeluk Wilda.
"Aku tidak akan mengajari mu naik mobil lagi," ucap Axel.
"Aku juga tidak akan mah belajar dengan mu," kata Wilda.
"Mobil ku masuk bengkel, kau harus membayar nya."
"Kau suami ku, kau yang membayarnya."
"Aku tidak peduli, kau harus membayar nya dengan sesuatu yang menyenangkan ku," ucap Axel.
"Apa itu, beri tau aku," tanya Wilda.
"Nanti saja, masih rahasia, sudah aku ingin pipis dulu, untung saja burung ku tidak patah," jawab Axel.
__ADS_1
"Biarkan saja patah, aku senang," kata Wilda