
Kebahagiaan sedang menghampiri Vero dan Sakura, akhirnya apa yang mereka tunggu selama ini datang juga, Vero kecil sedang bersarang di dalam perut Sakura.
"Dua garis merah sayang," ucap Sakura.
"Aku sangat senang hiks hiks hiks, kamu hamil aku jadi daddy," kata Vero.
"Jika kamu senang kenapa sadari tadi kamu menangis saja, berhenti menangis sayang," ucap Sakura.
"Aku menangis karena senang sayang, aku sangat terharu. Aku harus mempersiapkan nama untuk nya," ucap Vero.
"Nama untuk nya ya, masih lama sayang, kita saja tidak tau jenis kelamin anak kita," kata Sakura
"Oh iya yah, ya sudah kapan kita melakukan pemeriksaan," tanya Vero.
"Hmmm aku juga tidak tau, tapi aku rasa sebaik nya setelah kandungan ku agak sedikit membesar lagi, sekalian aku ingin tau jenis kelamin nya," jawab Sakura.
"Oh baiklah kalau begitu."
Wilda membuka matanya saat merasakan handphone suami nya bergetar di atas dada nya, ntah apa maksud dari Axel yang meletakan handphone di atas dada nya.
"Sayang handphone mu," ucap Wilda.
"Hmmm siapa," tanya Axel.
__ADS_1
"Kenzo," jawab Wilda.
"Angkat saja aku sedang malas ke kantor," ucap Kenzo.
Baru ingin mengangkatnya panggilan itu sudah terputus. Karena penasaran dengan isi Chat suami nya Wilda membuka aplikasi chatting.
"Banyak sekali wanita yang merayu nya, apa-apaan ini ada wanita yang mengirimkan foto seksi. Untung saja tidak di baca, di lihat pun tidak," batin Wilda.
Wilda memicingkan mata saat ada satu pesan yang di sembunyikan oleh Axel, pertama-tama Wilda melihat foto profil pesan itu.
"Laura," batin Wilda.
Perasaan Wilda semakin tidak enak, ia benar-benar sangat takut melihat isi pesan itu. Dengan perlahan Wilda membuka pesan itu dan menarik nya ke atas, ia ingin melihat dari mana mereka berdua berbalas pesan.
"Tiga hari setelah pernikahan ku," batin Wilda dengan mata yang memerah menahan tangis nya, hati nya terasa sangat sakit membaca pesan itu yang semua nya, Kata-kata mesra. Apalagi saat Laura mengirimkan foto seksi dengan balasnya Axel yang tak kalah membuat air mata Wilda menetes deras.
"Sayang kamu kenapa," tanya Axel yang bingung melihat istri nya menangis.
"Sayang hey kamu kenapa, apa masih sakit," tanya Axel.
"Jangan kau sentuh aku, aku sangat membenci mu," ucap Wilda sambil bangkit dari atas kasur. Perlahan ia memakai pakaian nya kembali.
"Apa maksud mu, kenapa kamu membenci ku, karena aku memaksa mu tadi."
__ADS_1
"Axel jangan pura-pura bodoh, kau lupa apa yang aku katakan pada mu, aku sangat membenci perselingkuhan, sekecil apapun itu. Aku benar-benar membenci nya, AKU MEMBENCI NYA AXEL," teriak Wilda.
"Ka...kamu membaca pesan ku," ucap Axel.
"Kenapa kau marah, aku membaca pesan dari mu, kau marah aku mengetahui perselingkuhan mu. Aku menyesal telah memberikan hak mu, sampai jumpa di pengadilan agama." Wilda mengambil tas nya dan langsung pergi begitu saja.
Axel tidak tinggal diam, ia berlari mengejar Wilda untuk menahan Wilda agar tidak pergi meninggalkan nya.
"Sayang, tunggu aku kamu mau kemana, maafkan aku," ucap Axel sambil menarik tangan Wilda.
"Lepas bajingan, jangan kau sentuh aku, aku sangat jijik dengan mu."
"Sayang ini bukan salah ku, maafkan aku sayang." ucap Axel.
"Jika ini bukan salah mu, jadi ini salah ku, ini salah ku telah membongkar perselingkuhan mu," kata Wilda.
"Bruk." Rizky memukul wajah Axel dengan cepat, ia sudah mendengar semua nya.
"Anak kurang ngajar, kau membuat ku marah Axel."
"Pah Maafkan aku, aku menyesal, jangan biarkan istri ku pergi pah," kata Axel.
"Wilda papah serahkan semua nya pada mu," ucap Rizky.
__ADS_1
Wilda berjalan mendekati Axel bukan untuk membantu Axel, tetapi memberikan tamparan kuat di wajah Axel.
"Aku tidak bisa bersama laki-laki seperti mu, selamat bertemu di pengadilan agama Axel," ucap Wilda, air mata nya sudah tidak menetes lagi, ia ingin membuktikan pada Axel, pria seperti Axel tidak pantas di tangisin.