
"Kenapa kepala ku sejak tadi terasa pusing, perasaan ku juga tidak enak." Batin Candra.
"Sayang, kamu sudah bangun." Ucap Anggi.
"Mah, dimana suami ku, apa dia baik-baik saja." Tanya Lia.
"Sudah kamu jangan khawatir, dia baik-baik saja. Dia berada di samping mu." Jawab Anggi.
Lia langsung menoleh ke Dylan yang tepat berada di samping nya. Dylan dalam posisi tengkurap karena luka di punggung nya.
"Dia menyelamatkan nyawa ku." Ucap Lia.
"Sudah menjadi tangung jawab nya Lia, seorang suami harus melindungi istri nya." Kata Anggi.
"Sayang." Ucap Alana saat melihat Rizky tersadar.
"Kepala ku pusing sekali." Kata Rizky.
"Luka di kepala mu cukup dalam, dan ada beberapa luka lagi di lengan mu."
"Bagaimana dengan yang lainnya, Dylan bagaimana dengan keadaan nya." Tanya Rizky.
"Kalian berada di ruangan yang sama, hanya terpisah kan oleh gorden itu, Dylan belum sadarkan diri, luka di punggung nya cukup banyak belum lagi diri nya banyak kehabisan darah." Jawab Alana.
"Kau sudah sadar." Tanya Verrel.
"Kau lihat aku sudah sadarkan kenapa bertanya." Jawab Rizky.
__ADS_1
"Terimakasih telah menyelamatkan ku, jika tidak pasti benda tajam itu sudah menancap di mata ku." Ucap Verrel.
"Sudah tidak perlu di bahas, yang terpenting semua nya selamat."
"Aku tidak akan mengampuni orang yang berbuat ini pada kita, aku yang akan menghabisi nyawa nya." Ucap Verrel.
"Kau cukup menyeramkan Verrel, jangan seperti itu, aku jadi takut pada mu." Kata Rizky.
"Mereka sudah mengusik ketenangan kita Rizky, seharusnya malam ini kita bersenang-senang, bukan berada di dalam rumah sakit." Ucap Verrel.
"Kenapa kalian berisik sekali." Saut Dylan.
Sontak Verrel langsung menggeser gorden di samping nya untuk melihat keadaan Dylan yang sudah bersuara.
"Kau sudah sadar, apa kau baik-baik saja." Tanya Verrel.
"Kau sakit tapi masih menyebabkan." Ujar Rizky.
"Ahh badan ku sakit sekali, posisi ku saat ini benar-benar tidak nyaman." Ucap Dylan.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan." Tanya Lia.
"Kamu tenang saja sayang, maaf aku tidak bisa menatap ke arah mu dulu. Kepala ku sulit aku gerakan." Jawab Dylan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja." Ucap Lia.
"Maaf sayang, kita harus menunda momongan kita, kondisi ku sangat tidak memungkinkan untuk mencetak anak." Kata Dylan.
__ADS_1
"Anak kurang ngajar, kau membuat ku khawatir tapi bisa-bisa nya kau mesum seperti itu." Ujar Vano yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Papah, bagaimana dengan mu, tangan mu terluka bukan." Tanya Dylan.
"Jangan pedulikan aku, urus saja diri mu sendiri dulu. Bagaimana dengan mu, otak mu tidak berubah kan. Tetap Dylan yang bobrok."
"Aku tetap sama pah, tidak ada yang berubah. Hanya saja tubuh ku terasa sangat sakit." Ucap Dylan.
"Jangan lemah, baru begitu saja." Ujar Verrel.
"Diam kau Verrel, aku bingung apa salah ku, sampai mereka ingin mengincar nyawa ku, padahal aku tidak memiliki musuh." Kata Dylan.
"Itu menurut mu, pasti ada saja musuh atau orang yang tidak suka dengan mu, pasti kau pernah berbuat sesuatu yang menyebabkan orang itu sangat marah pada mu." Ucap Rizky.
"Rizky benar, pasti ini berasal dari masa lalu mu." Saut Dylan.
"Apa mah, bagaimana bisa. Apa kalian sudah melihat nya." Tanya Candra.
"Maaf Cand, papah dan mamah tidak bisa pulang sekarang, kau lihat saja saudara kembar mu itu."
"Baik mah." Candra langsung menutup sambungan telepon itu.
"Ledakan, kenapa bisa. Pantas saja perasaan ku tidak enak sedari tadi." Ucap Candra sambil melajukan mobil nya menuju alamat yang orang tau nya kirim.
Sebelum sampai di rumah sakit, Candra terlebih dahulu mampir ke toko Buah-buahan untuk Rizky, ia masih sangat ingat buah apa yang Rizky sukai.
"Kita akan bertemu setelah aku mendapatkan pasangan baru, tapi kenapa kita bertemu dengan keadaan mu seperti ini." Batin Candra.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Candra langsung menuju ruangan Rizky, ia sangat terkejut saat melihat keluarga Efron di ruangan Rizky.