
"Tidak ayah aku mohon ayo bantu aku," rengek Verrel.
"Sudah sayang pergilah, jangan membuat anak mu merengek seperti itu, kamu tidak kasihan melihat wajah tampan nya luntur karena rengekan manja itu," ujar Angel.
"Biar saja, biar aku yang lebih tampan dari nya, dia mengambil semua ketampanan ku bukan, sekarang aku ingin merebutnya kembali," ucap Alvaro.
"Sudah Verrel lain waktu saja, bunda akan membantu mu," kata Angel.
"Bunda bisa cerita kan saat bunda hamil aku, bagaimana aku bisa terbentuk sesempurna ini," tanya Verrel.
Angel mendekati Alvaro dan Verrel, mereka bertiga duduk berdekatan dengan Verrel menyender di paha Alvaro karena Verrel berada di lantai sedangkan Angel berada di atas kasur.
"Waktu cepat berlalu, dulu kamu sangat kecil, manja pada kamu dan selalu bertengkar dengan ayah mu," ucap angel.
"Kenapa ayah sangat cemburu pada ku," tanya Verrel.
"Karena kau mengambil semua perhatian bunda dan kakek nenek mu dari ayah," jawab Alvaro.
__ADS_1
"Dulu saat bunda hamil kamu, bunda tidak banyak permintaan, betul tidak sayang," tanya Angel.
"Ntah aku juga sudah lupa, seperti nya kamu meminta sesuatu yang merepotkan, apa yah," Alvaro berpikir untuk mengingat nya.
"Sudah jangan di ingat, kenapa aku bisa setampan ini, hahaha pasti ayah terlalu banyak mencetak ku kan," tanya Verrel.
"Hehehe tau saja kau, sebenarnya maaf ya Verrel kau belum ayah ingin kan," ucap Alvaro.
"Maksudnya bagaimana aku bayi yang tidak di harapkan," tanya Verrel sambil menaikan kepala nya.
"Dulu ayah selalu memakai pengaman, mungkin beberapa kali ayah tidak pakai. Eh beberapa kali itu yang jadi diri mu, ayah belum siap waktu itu karena masih ingin enak-enak dengan gaya bebas, karena ada kau jadi tidak bebas." jelas Alvaro.
"Hahaha dia marah saat tau yang sebenarnya," Ucap Alvaro.
Verrel kembali ke kamar nya untuk istirahat, masalah dekorasi kamar akan ia serahkan pada Bunda dan ayah nya besok, lagi pula masih ada waktu 3 bulan sebelum Akifa melahirkan.
Keesokan harinya pagi-pagi mereka semua mendapatkan kehebohan dari kamar Dylan dan Lia. Tiba-tiba perut Lia sangat sakit yang seperti nya akan segera melahirkan.
__ADS_1
Dylan dengan tenang membantu Lia keluar dari kamar nya. "Ayah," teriak Dylan.
Vano dan yang lainnya langsung membantu Dylan untuk membawa Lia ke rumah sakit, kecuali Verrel yang diam membeku karena langsung terpikir bagaimana nasib Akifa nanti yang melahirkan 2 bayi sekaligus.
Sesampainya di rumah sakit, Dylan ikut masuk ke dalam ruang bersalin untuk menemani istri nya. Dylan berdiri di samping Lia sambil mengecup wajah Lia untuk memberikan nya semangat.
"Sayang aku yakin kamu pasti bisa," ucap Dylan.
Lia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala nya, ia masih harus mengalami beberapa kali pembukaan lagi dan hal itu memerlukan waktu.
Keluarga yang lainnya masih bisa keluar masuk asalkan memakai baju yang di sediakan khusus dengan alasan Keseterilan, mereka sama-sama memberikan dukungan untuk Lia agar dapat melahirkan dengan lancar.
Waktu demi waktu berlalu Lia terus merasakan kontraksi yang sangat luar biasa sakit nya, tak jarang air mata nya menetes merasakan rasa sakit itu. Dylan berusaha tetap tegar walaupun sebenarnya diri nya hampir menangis melihat perjuangan Lia, ia benar menjadi sangat bersalah pada seorang mamah nya saat tau betapa besar nya perjuangan seorang ibu untuk melahirkan.
"Kamu kuat sayang."Dylan menggenggam tangan Lia sambil mengecup wajah istri nya.
Tiba saat nya dimana Lia benar-benar sudah siap untuk melahirkan, hanya Dylan dan beberapa dokter yang boleh ada di dalam sana.
__ADS_1
Beberapa kali dorongan tidak membuat bayi laki-laki itu keluar dengan mudah, sampai akhirnya terdengar suara tangisan seorang bayi laki-laki yang membuat air maya Dylan jatuh seketika, bahagia sedih semua bercampur menjadi satu.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu, terima kasih hiks.. hiks.. hiks.." Dylan memberikan hujanan ciuman di wajah Lia.