
"Mana mungkin apa nya, kalian kan sangat jahil pada ku," ucap Vano.
"Tidak Vano, percayalah dengan kami," kata Alvaro.
Rakha di bantu yang lainnya menyiapkan alat-alat untuk konser nya malam ini. Ia ingin memamerkan kemampuan nya yang sangat luar biasa ini.
"Sudah Rakha," ucap Kenzo.
"Iya Terima kasih."
"Kau tidak ingin duet dengan ku," tanya Vero.
"Maaf paman duet dengan calon istri ku lebih baik untuk saat ini," jawab Rakha.
Rakha dan Vivi mengambil posisi mereka untuk bernyanyi.
"Selamat malam semua, malam ini aku akan membawa kan lagi cinta surga. Selamat menyaksikan," ucap Rakha.
Musik mulai berbunyi Rakha dan Vivi pun mulai bernyanyi. Suara pas pasan nya Vivi tertutup dengan suara Rakha yang memang luar biasa bagus nya.
"Ciee ahhhh kalian sangat cocok," teriak Axel.
"Hahaha iya kalian berdua sangat cocok," ujar Kenzo.
"Ahhh padahal suara nya lebih bagus dari ku, tapi kenapa Rakha selalu di puji," kata Vero.
"Sayang kamu jangan begitu, kamu harus mengakui kalau suara Rakha memang sangat luar biasa," ucap Sakura.
"Hmmm iya iya, suara memang sangat luar biasa.
Setelah selesai bernyanyi mereka berdua turun dari atas panggung. Rakha sangat senang menjadi jika suara nya di nikmati banyak orang. Tapi ia tidak suka terlalu menjadi pusat perhatian orang lain.
"Sayang kamu mau jadi penyanyi ya," kata Vivi.
"Aku mah menjadi penyanyi tapi bernyanyi di belakang panggung, aku suka suara ku dapat menghibur banyak orang," ucap Rakha.
"Hahaha kau sangat bodoh, kalau aku jadi diri aku akan menjadi seperti penyanyi, dasar bodoh," ujar Axel.
"Itu kan kau bukan aku. Hey bagaimana para keponakan nya," tanya Rakha.
"Kau bertanya pada siapa, kami semua sudah memeriksa kan kandungan kami?"
"Kenzo apa jenis kelamin ke lima keponakan ku," tanya Rakha.
__ADS_1
"Satu wanita empat pria. Kau sebagai paman yang baik harus membantu ku untuk merawat nya. Jangan pelit pada ke lima keponakan mu," jawab Kenzo.
"Dan kau bagaimana dengan keponakan ku, apa jenis kelamin nya," tanya Rakha.
"Wanita cantik, kau suka dengan wanita kan," jawab Kenzi.
"Hahahaha iya aku sangat suka dengan wanita, nanti di akan menjadi keponakan kesayangan ku," jawab Rakha.
"Paman?"
"Balum terlihat," kata Vero.
"Kau jangan tanya pada ku, istri ku baru beberapa bulan jadi belum tau," ujar Axel.
Malam semakin larut saja Rakha memutuskan mengantarkan Vivi pulang ke apartemen. Ia ingin Vivi menginap dengan nya tetapi semua orang melarang itu karena takut Rakha khilaf.
"Terima kasih untuk hari yang sangat indah ini," kata Vivi.
"Vivi boleh aku cium kamu," tanya Rakha.
"Cium seperti apa," tanya Vivi.
"Seperti pasangan pada umumnya," jawab Rakha.
"Apa pasangan pada umumnya boleh berciuman," tanya Vivi.
"Kalau begitu boleh," kata Vivi.
Wajah mereka berdua saling berdekatan. Pertama-tama Rakha mengecup bibir Vivi. Ia ingin mengenal kan bibir dengan bibir milik Vivi. Setelah itu Rakha baru mulai mencium bibir Vivi dengan lembut, Rakha hanya berani mencium bagian luar saja, ia masih menjaga bagian dalam nya.
"Rakha ciuman hanya begini," tanya Vivi.
"Kamu ingin merasakan yang sesungguhnya," tanya Rakha.
"Kalau aku sudah mengizinkan mu berarti aku ingin ciuman yang sesungguhnya," jawab Vivi.
Dengan cepat Rakha kembali mencium bibir Vivi kali ini ciuman nya terasa sangat dalam, hal itu membuat Vivi terkejut tapi ia tidak bisa di pungkiri kalau ia suka ciuman itu.
"Vivi suka tidak," tanya Rakha.
"Tidak suka tapi suka," jawab Vivi.
"Bagaimana si suka tapi tidak suka, sangat membingungkan," kata Rakha.
__ADS_1
"Hehehe sudah ya aku masuk dulu," kata Vivi.
"Iya sayang, aku sangat suka." Rakha tersenyum saat Vivi pergi meninggalkan nya.
Di dalam kamar Vano dan Anita masih memakai pakaian pernikahan tadi. Mereka berdua masih ingat istirahat sebelum membersihkan diri. Adik Vano sudah bangun saja saat melihat Anita yang sedang berbaring di samping nya, ia tidak sabar untuk bergadang malam ini.
"Kamu mandi dulu sana," kata Vano.
"Bantu aku membuka gaun belakang ini, aku tidak bisa," ucap Anita.
"Berdiri lah," kata Vano.
Anita berdiri membelakangi Vano. Secara perlahan Vano membuka seleting belakang gaun tersebut. Mata Vano terbelalak melihat tubuh mulus dan indah milik istri nya.
"Sangat menggoda ku," ucap Vano.
"Ahkkkk." Dengan cepat Anita berlari masuk ke dalam kamar mandi, hal itu membuat Vano tertawa terbahak-bahak istri nya memang sangat lucu dan juga polos sekali.
"Ahkk dia sudah mau memakan ku, aku sangat takut," ucap Anita dan langsung mengguyur tubuh nya dengan air mengalir.
"Setelah selesai mandi Anita keluar dengan hanya menggunakan kimono. Ia masih trauma dengan perkataan Vano tadi. Mata Vano terus menatap tubuh istri nya. Ia seperti singa yang sudah sangat kelaparan. Sebelum otak nya konslet Vano memutuskan untuk mandi.
Setelah selesai memakai pakaian nya. Anita menyiapkan pakaian untuk Vano, ia mengambil pakaian tidur yang biasa Vano pakai. Anita menahan tawa nya saat melihat ****** Vano yang sangat besar. Ia tidak tau jika ukuran ****** pria memiliki ukuran dua kali lipat dari ****** nya.
"Hahaha ****** nya saja besar apalagi isi nya," ucap Anita.
"Anita kau bodoh semakin besar semakin sakit. Kau tidak bisa menganggap nya remeh. Tadi saat olahraga tubuh nya saja benar-benar luar biasa," ucap Anita.
"Apa nya yang sakit. Kamu membicarakan apa si sayang," tanya Vano yang datang dari arah belakang nya.
"Eh mas Vano sudah selesai mandi. Ini pakaian nya, aku benar kan mengambil pakaian yang ini," tanya Anita.
"Iya kamu benar, bantu aku memakainya," jawab Vano.
"Mas aku sangat malu, nanti saja ya kalau aku sudah terbiasa," ucap Anita.
Mata Anita tertuju pada dada bidang Vano, benar-benar sangat bidang dan kokoh. Di dada tersebut ada benda berwarna cokelat muda yang ingin sekian ia sentuh.
"Mata kamu nakal sekali sayang," ucap Vano.
"Hehehe maaf sayang, aku keluar dulu bye bye." Sebelum ia di makan oleh Vano. Anita memutuskan untuk langsung keluar dari ruang ganti. Ia sangat takut jika Vano memakan nya di ruang ganti.
Vano dan Anita duduk di atas ranjang, mereka ingin membuka hadiah yang di berikan tadi. Kurang lebih ada 6 paperback yang kelihatan nya berisi barang mahal.
__ADS_1
Mata Vano terbelalak saat melihat istri barang pertama, alat penunda kehamilan dari Alvaro. Vano juga membaca surat yang ada di dalam sana.
"Jangan punya anak lagi, nanti anak mu akan sama dengan anak ku Vero. Dia akan selalu marah kenapa lahir terakhir seperti barang sisah.