
Lia berjalan masuk ke dalam dapur untuk memasakkan Dylan makanan. Sedangkan Dylan sedang bermain dengan HP nya di ruang tamu.
"Cih, tidak ada jaringan." Ucap Dylan.
Dylan yang merasa bosan dan gabut, ia memutuskan ikut masuk ke dalam dapur untuk melihat apa makanan nya sudah matang atau belum.
"Ternyata jika wanita memasak di dapur terlihat begitu seksi." Batin Dylan.
"Lia, mana kamar mandi mu, aku ingin buang air kecil." Tanya Dylan
"Sebelah sana, jangan lupa di siram." Jawab Lia sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Dylan masuk ke dalam kamar mandi, dan Lia sudah selesai dengan masakan sederhana nya, ia mengambil dua piring lalu menyajikan nya di meja makan.
"Apa sudah matang." Tanya Dylan.
"Sudah, ahhhh...." Teriak Lia saat melihat seleting celana Dylan yang belum tertutup.
"Kenapa kau teriak." Tanya Dylan.
"Bagian bawa mu terlihat." Jawab Lia.
Dylan yang tau apa maksud dari Lia langsung memasukkan pusaka nya ke dalam dan menutup nya.
"Anggap saja kau tidak pernah melihat nya." Ucap Dylan yang sangat malu.
"Ini pertama kali nya mata ku ternoda, tapi ukuran nya membuat ku bergidik ngeri." Batin Lia.
"Lia, kenapa kau malah melamun, kau memikirkan milik ku, mau mau mencoba nya." Tanya Dylan m
"Tidak tidak tidak, aku tidak memikirkan apapun, ayo makan nanti keburu dingin." Jawab Lia.
Saat mereka berdua sedang makan, Tiba-tiba pintu rumah Lia ada yang menendang nya dengan kasar. Dylan dan Lia sangat terkejut dan langsung berlari melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Amelia." Ucap Rico.
"Pak Rico." Lia bersembunyi di belakang Dylan, Lia bisa menghabisi beberapa orang laki-laki dalam bertarung, tapi ia saat melihat Rico Lia memiliki sebuah trauma besar yang membuat nya gemetaran.
"Kau takut dengan nya, ayo lah, kau menendang ku dengan kuat, lakukan itu pada nya." Ucap Dylan.
"Aaaku tidak bisa." Tubuh Lia semakin gemetaran.
"Lia kemarin lah, apa kau mau membuat ku marah." Ucap Rico.
"Siapa kau, apa kau tidak memiliki sopan santun." Tanya Dylan.
"Jangan ikut campur dengan urusan ku dengan wanita yang ada di belakang mu, dia milik ku." Kata Rico.
"Dylan tolong aku, aku takut dengan nya." Bisik Lia.
"Kau bilang dia milik mu, itu mimpi mu, dia pacar ku." Ucap Dylan.
"Kalian dengan laki-laki ini mengatakan wanita ku milik nya." Ucap Rico sambil tertawa di ikuti oleh anak buah nya.
"Efron, laki-laki ini berbahaya." Batin Rico.
"Amelia dengar, kali ini kau selamat, aku akan kembali untuk menjemput mu." Rico pergi meninggalkan rumah Lia di ikuti oleh pasukan nya.
"Te..terimakasih." Ucap Lia.
Mereka berdua kembali berjalan ke dapur untuk melanjutkan makan yang terpotong akibat kedatangan Rico.
"Minum lah, kau sangat ketakutan." Dylan memberikan segelas air untuk Lia.
Lia langsung mengambil gelas itu kemudian menengguk nya sampai gelas itu kosong kembali.
"Jadi kau menghindari pria itu." Tanya Dylan.
__ADS_1
"Iya, aku sangat takut dengan nya, terimakasih telah menyelamatkan ku." Jawab Lia.
"Jika aku pergi dari sini, kau akan di ganggu lagi oleh nya, kenapa kau tidak pindah saja dari sini."
"Pindah membutuhkan uang nya cukup banyak, aku tidak memiliki uang untuk pindah, uang ku saja habis untuk membayar ongkos taksi mu kemarin malam." Kata Lia.
"Kau bekerja." Tanya Dylan.
"Aku berjualan minuman di taman, tempat kita bertemu." Jawab Lia.
"Oke begitu saja, aku baru membuka restoran di dekat rumah ku, dari pada kau berjalan minuman bagaimana jika kau bekerja di sana." Ucap Dylan.
"Kamu memberikan ku pekerjaan." Tanya Lia.
"Iya aku memberikan mu pekerjaan, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih ku karena kau telah menyelamatkan ku dari orang gila malam itu, dan telah memberikan ku makan." Jawab Dylan.
"Iya aku mau, dengan begitu aku bisa menghindar dari nya." Ucap Lia.
"Kemas barang-barang mu seperlunya saja, kita akan ke sana sekarang." Kata Dylan.
"Baik lah, tunggu sebentar." Dengan semangat Lia mengemasi pakaian dan barang-barang yang ia perlu kan.
Sementara itu Verrel sedang dalam pemeriksaan dokter, bekas jahitan operasi di dada nya benar-benar sudah mengering. Tapi Verrel masih belum boleh terlalu banyak bergerak.
Verrel merasa lemas seketika karena ia pikir ia bisa bermain dengan Akifa ternyata tidak, ia harus berpuasa minimal beberapa minggu ke depan.
"Sayang mau susu." Ucap Verrel.
"Sebenar ya aku ambil kan." Akifa hendak bangkit dari kasur.
"Bukan susu itu, tapi milik mu." Ucap Verrel.
"Sayang, kamu belum boleh banyak bergerak." Kata Akifa.
__ADS_1
"Tidak banyak." Verrel menarik tangan Akifa sampai dada Akifa berada di depan wajah Verrel.
Tangan Verrel membuka kancing baju Akifa, karena terlalu sulit Verrel meminta bantuan pada istri nya.