
Alvaro langsung berjalan mendekati paman Angel dengan mengepalkan tangan nya. Tanpa Pikir panjang Alvaro memukul orang yang berani menyentuh istri nya. Sekali pukulan tidak membuat Alvaro puas, Alvaro memukul paman Angel sampai ia benar-benar mendapat kan kepuasan. Alvaro tidak pernah peduli siapa pun itu jika menganggu nya dan istri nya berarti orang itu sudah berani menghadapi nya langsung.
"Kau berani nya menampar istri ku." ucap Alvaro dengan nada yang tinggi.
Paman Angel sudah tergelak di lantai dengan wajah yang penuh dengan darah akibat pukulan kuat Alvaro.
"Siapa kau berani-berani nya memukul ku." teriak paman Angel.
"Masih bertanya siapa aku, aku Zachary Alvaro Efron. Apa kau tau siapa yang kau tampar itu siapa. Dia menantu pertama dari keluarga Efron." jawab Alvaro dengan nada yang menekan.
Paman Angel seperti di hantam sesuatu yang sangat keras. Ia telah melakukan kesalahan terbesar yang dapat langsung menghancurkan hidup nya.
"Ingat jika nyawa mu masih ada dalam satu kali dua puluh empat jam berarti itu keajaiban dalam hidup mu." ucap Alvaro.
"Ayo kita pulang, kau tak perlu ke rumah ini lagi selagi masih ada orang ini. Aku akan mengambil nya untuk mu." kata Alvaro dan langsung menggendong Angel.
Di dalam perjalanan pulang Alvaro hanya diam tak berbicara, mood nya sedang rusak karena paman Angel. Jika mood nya rusak Alvaro akan diam dan tidak akan berbicara pada siapa pun. Sampai ada orang yang bisa membuat mood nya menjadi lebih baik lagi.
Sesampainya di rumah, Alvaro tidak membiarkan Angel berjalan ia langsung menggendong Angel masuk kedalam kamar nya. Alvaro meletakkan Angel di atas ranjang dengan perlahan. Ia mengusap wajah Angel yang tampak memerah akibat tamparan tadi. Emosi Alvaro semakin menaik saat Angel merasakan sakit di wajah nya. Ia benar-benar ingin membunuh orang yang melakukan ini pada Angel.
"Akan ku bunuh orang itu langsung." ucap Alvaro dan berniat bangkit dari atas ranjang.
Angel menahan Alvaro dan menarik tangan Alvaro hingga Alvaro jatuh di atas tubuhnya. Angel memeluk Alvaro dengan erat dan mengendelamkan wajah nya di dada bidang Alvaro.
"Jangan pergi aku takut sendiri." ucap Angel.
Alvaro menahan emosi nya untuk sesaat, ia membalas pelukan hangat itu.
"Jika aku tidak pergi aku akan memakan mu." ucap Alvaro.
__ADS_1
"Lagi, bukannya kemarin malam sudah." tanya Angel.
"Sayang, aku tidak bisa tidur jika tidak memakan mu." ucap Alvaro.
Untuk membuat emosi Alvaro mereda Angel memilih untuk bertindak berani dari biasanya. Ia memasukkan tangan nya kedalam pakaian Alvaro dan menyentuh titik-titik sensitif. Alvaro memejamkan mata nya membiarkan Angel bertindak lebih. Sial nya karena tubuh Alvaro malah Angel yang merasakan gerah.
"Sayang aku...
"Aku apa, apa kamu mau aku makan sekarang." tanya Alvaro.
Dengan wajah yang memerah karena malu Angel menganggukkan kepala nya, Alvaro tersenyum saat Angel mulai berani memintanya duluan. Dengan senang hati Alvaro memberikan apa yang Angel inginkan, Meskipun masih terasa sakit Angel bisa menahan nya karena rasa sakit itu hanya sebentar sebelum ia merasa terbang di atas awan.
Vano yang ingin membicarakan masalah nya dengan Alvaro berniat masuk kedalam kamar Alvaro, ia sadar jika perbuatan yang ia lakukan selama ini salah.
Mungkin memang nasib sial sedang menimpa Vano untuk kedua kali nya, ia mendengar kan sesuatu yang membuat mata nya terbelalak dan Vano langsung mengerti apa yang sedang Alvaro lakukan di dalam sana.
"Terimakasih." ucap Alvaro dan menutup tubuh Angel dengan selimut lalu memeluk nya dan memulai memejamkan mata nya untuk tidur.
Walaupun sudah sangat lelah mata Angel seperti tidak bisa tertidur, ia berusaha untuk tidak tetapi sama sekali tidak bisa.
"Mas, mas." ucap Angel sambil menggoyang wajah Alvaro.
Alvaro tidak bergerak ia sangat lelah karena telah menghabiskan tenaga nya. Untuk sekedar membuka mata nya saja Alvaro sangat malas.
"Hmmm." gumam Alvaro.
"Aku tidak bisa tidur." ucap Angel.
"Kamu mau lagi, tapi aku lelah. Nanti saja ya." kata Alvaro semakin mempererat pelukan nya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak bisa nafas jika kamu peluk seperti itu."
Alvaro tidak menjawab ucapan dari Angel, karena Alvaro sudah tertidur. Sedangkan Angel semakin merasa gabut karena tidak bisa berbuat apapun.
Ia memilih mengusap wajah Alvaro dengan tangannya. Wajah yang sangat tampan menurut nya, laki-laki yang sangat mudah merebut hati nya walaupun sifat nya dulu sangat kejam.
"Bibir ini kalau berbicara sangat pedas." ucap Angel dengan memegang bibir Alvaro.
"Sayang tidur lah, aku sedang lelah jangan menganggu ku." kata Alvaro.
Angel memilih mengenakan pakaian nya lagi dan turun dari kamar nya, ia ingin meminum sesuatu yang menyegarkan tenggorokan nya.
"Ah noda ini, tubuh ku benar-benar di penuhi tanda kepemilikan nya." ucap Angel.
Angel memilih mengenakan pakaian baru yang dapat menutupi tanda itu, setelah itu ia langsung turun ke dapur.
"Fiona lepas kan, aku ingin tidur." ucap Adit.
"Diam kak, aku ingin memeluk mu." kata Fiona.
"Fiona, lepas atau kamu akan menyesal." ucap Adit.
"Emang kakak mau berbuat apa pada ku." tanya Fiona dengan mengalungkan tangannya di leher Adit.
"Sudah berapa kali bibir ini di cium." tanya Adit.
"Baru sekali, itu pun kakak yang melakukan nya." jawab Fiona.
"Apa kau benar-benar belum pernah berciuman dengan pria lain sebelum nya." tanya Adit.
__ADS_1