Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rajawali Emas


__ADS_3

Ruang pertemuan sekte Rajawali Emas terlihat ramai pagi ini, beberapa murid terlihat sedang mendekorasi ruangan. Tampak seorang wanita berumur sekitar tiga puluh tahun sibuk mengatur dekorasi.


Sesekali dia terlihat marah karena tidak sesuai dengan konsepnya. Tidak lama kemudian seorang gadis berusia sekitar sebelas tahun memanggilnya. Wajahnya yang cantik membuatnya jadi perhatian di ruangan tersebut.


“Bibi guru, aku bosan di kamar terus, izinkan aku membantumu,” ujarnya manja. Namanya adalah Tungga Dewi, cucu dari ketua sekte Rajawali emas. Tungga dewi cukup menarik perhatian karena memiliki bakat yang luar biasa dalam ilmu pedang.


Banyak ketua sekte aliran putih berlomba lomba menjodohkan muridnya dengan Tungga Dewi yang selalu berakhir dengan penolakan darinya. Kakeknya tidak dapat berbuat apa apa karena memang dari kecil dia selalu di manja.


“Dewi, apakah kau tidak mendengar pesan kakekmu? Kau harus mengurung diri untuk latihan tenaga dalam,” ujar Lasmini.


Lasmini adalah guru dari Tungga dewi, dia cukup terkenal di dunia persilatan. Lasmini adalah salah satu dari tiga pendekar wanita terhebat milik sekte Rajawali Emas. Sama seperti Tungga Dewi, dia memiliki bakat yang cukup besar, Lasmini bahkan sudah mencapai pendekar ahli di usia tigapuluh tahun.


“Aku bosan bibi, izinkan sekali ini saja aku membantumu," rengek Tungga Dewi


Lasmini mengeleng pelan, dia benar benar tidak bisa menolak jika Dewi meminta sesuatu padanya dengan wajah memelas.


“Baiklah, berhentilah merengek! tolong kau pindahkan bunga itu ke depan,” Lasmini menunjuk bunga berwarna merah didekatnya. Wajah Tungga dewi kembali ceria, dia lalu berlari membawa bunga tersebut ke depan.


***


Beberapa pendekar dan tetua dari aliran putih mulai berdatangan di sekte Rajawali Emas, beberapa murid Rajawali emas tampak menyambut dan mengarahkan ke penginapan yang telah disediakan.


"Aku harus melihat anak nakal itu latihan," ucap Lasmini setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Saat Lasmini akan menuju tempat latihan untuk melihat gadis tersebut berlatih, dia dikejutkan oleh suara seorang pria paruh baya


“Maaf nona, apakah anda dapat menunjukan dimana letak penginapan tamu?” tanya pria itu sopan.


Lasmini menoleh kearah suara tersebut, cukup lama Lasmini menatap pria dihadapannya, dia sedikit heran karena tidak dapat mengenali wajah pria tersebut padahal dia sudah malang melintang di dunia persilatan.


“Selamat datang tetua, bolehkah aku tau dari sekte mana anda?” tanya Lasmini sopan.


Ki Ageng tersenyum hangat, dia dapat memaklumi karena hampir 16 tahun tidak turun gunung.


“Aku dari sekte Pedang naga api, kau boleh memanggilku ki Ageng dan ini Sabrang cucuku,” ki Ageng menunjuk sabrang yang sejak tadi memperhatikan keadaan di sekitar. Lasmini terlihat terkejut, dia tidak menyangka bahwa sekte yang selama ini mengisolasi dari dunia luar sudi datang di acara Sektenya.

__ADS_1


“Ah maaf tetua, junior terlambat mengenali, suatu kehormatan bagi Rajawali Emas kedatangan tamu dari Pedang naga api, mari aku antar ke penginapan sekte.”


Lasmini bergegas mengantar ki Ageng ke penginapannya. Sepanjang perjalanan Lasmini tampak memperhatikan Sabrang yang berjalan tak jauh didepannya. Ada hawa yang aneh menyelimuti tubuhnya.


“Apakah ini ilmu legendaris itu? anak sekecil ini sudah menguasainya? Sekte Pedang Naga Api benar benar mengerikan,” gumam Lasmini dalam hati.


Sabrang memang belum bisa menyembunyikan hawa keberadaannya, sehingga aura Ilmu Pedang Api abadi memancar dari tubuhnya.


Tak lama, Lasmini berhenti di sebuah kamar yang berada paling depan, “Tetua ini penginapan untuk Sekte Pedang naga api, silahkan beristirahat, aku akan memberitahukan kepada ketua kami bahwa anda sudah datang,” ucap Lasmini sambil menundukkan kepalanya.


“Ah tidak perlu sungkan nona dan terima kasih,” balas ke Ageng.


***


Sore harinya, tiba tiba pintu kamar ki Ageng di ketuk oleh seseorang dari luar.


“Tetua, anda sudah di tunggu di ruang jamuan," ucap seorang pendekar Rajawali Emas dari luar.


ki Ageng membuka pintu sambil tersenyum ramah. "Baiklah, terima kasih atas udangannya, aku akan bersiap terlebih dahulu,” balas ki Ageng kemudian.


***


Ruangan perjamuan sekte Rajawali Emas telah ramai oleh para tamu undangan dari berbagai sekte aliran putih, tak lama ki Ageng muncul bersama Sabrang yang langsung disambut langsung oleh Sudarta.


“Saudaraku, selamat datang di sekte kami, maaf aku tidak menyambut saat kedatangan kalian,” ucap Sudarta sambil member hormat.


“Tak perlu sungkan tetua, terima kasih untuk undangannya,” balas ki Ageng.


Beberapa tetua sekte lainnya ikut menyambut dengan antusias, ini merupakan pertemuan mereka yang pertama setelah Sekte Pedang Naga Api menarik diri dari dunia persilatan Enam belas tahun lalu.


Ada sedikit harapan baru diantara tekanan yang begitu kuat dari sekte aliran hitam maupun kerajaan Majasari.


“Sabrang beri hormat pada tetua semuanya,” perintah ki Ageng pada Sabrang.


“Hormat pada tetua,” Sabrang menundukan kepalanya. Semua tetua menatap Sabrang dengan heran, ada aura aneh yang menyelimuti tubuh Sabrang.

__ADS_1


“Saudaraku memang beruntung memiliki murid semuda ini tetapi kemampuannya cukup tinggi,” ucap Sudarta yang berusaha memecah keheningan.


"Silahkan duduk saudaraku," Sudarta mempersilahkan ki Ageng untuk duduk didekatnya.


Setelah selesai perjamuan makan yang cukup lama, Sudarta mencoba membuka obrolan.


“Akhir akhir ini tekanan terhadap aliran putih terus meningkat terutama setelah tersiar kabar Sekte Iblis Hitam berhasil menguasai ilmu kitab kuno yang sangat hebat. Di tambah dukungan kerajaan majasari membuat mereka leluasa menyerang sekte sekte aliran putih." Sudarta membuka obrolannya.


“Jika terus dibiarkan maka keseimbangan dunia persilatan akan rusak, aku khawatir tidak lama lagi kekacauan di dunia persilatan akan pecah,“ ucap Kamandala, tetua tapak es utara mengeluarkan analisisnya.


Sudarta mengangguk pelan, belum lama ini sekte Hutan bambu dari aliran putih telah ditaklukan oleh Iblis hitam.


“Ku pikir setelah kekacauan enam belas tahun lalu, dunia persilatan akan kembali damai ternyata kita salah besar,” Sudarta tampak mendengus pelan, dia kemudian menoleh ke arah ki Ageng yang sedari tadi hanya diam.


“Saudaraku setelah enam belas tahun berlalu sejak Sekte pedang naga api menarik diri dari dunia persilatan, melihat perkembangan situasi saat ini apakah anda akan bersikap?” tanya Sudarta pelan.


Ki ageng sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Para tetua yang hadir ikut menahan nafas menunggu jawaban dari ki Ageng.


“Tetua, saat aku memutuskan menarik diri dari dunia persilatan tidak pernah terlintas dipikiranku untuk menarik kembali ucapanku. Apalagi kami hanya sekte kecil tetua, mungkin bantuan kami tidak terlalu berarti” balas Ageng pelan.


Sudarta memejamkan matanya sesaat, dia sudah menduga akan mendapat jawaban demikian. Luka yang didapat sekte Pedang Naga Api dulu sangat menyakitkan. Mereka di serang oleh semua aliran termasuk sekte Rajawali Emas dan di anggap musuh bersama.


“Apakah saudara tidak tergerak melihat sekte aliran putih dibantai oleh mereka?” Sudarta masih berharap ki Ageng dapat merubah pikirannya.


“Dengan Ilmu Pedang Naga Api, tentu akan menambah kekuatan kita secara signifikan," Sudarta masih berusaha membujuk ki Ageng.


Ki Ageng menggelengkan kepalanya, keputusannya sudah bulat untuk mundur dari dunia persilatan.


“Maaf tetua jika mengecewakanku namun Ilmu pedang naga api beserta kitab api abadi telah hilang bersama dengan tetua kami, yang aku pelajari hanya sebagian kecilnya saja”.


Ki Ageng kemudian berdiri dan menundukan kepala, “Jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi aku mohon undur diri tetua," ucap ki Ageng sambil menundukkan kepalanya.


Sudarta bersama ketua sekte lainnya ikut berdiri, “Silahkan saudaraku, selamat beristirahat,”balas Sudarta sopan.


Sudarta pun menundukan kepala, raut wajahnya beserta para tetua yang hadir tampak kecewa setelah kepergian ki Ageng.

__ADS_1


__ADS_2