
Sabrang menatap sekitarnya dengan bingung "Di mana aku berada?". Semua pandangannya terhalang kabut tebal. Hidungnya mencium bau belerang yang sangat pekat membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Tiba tiba suhu udara perlahan naik membuat tubuhnya seperti terbakar api.
"Hei bocah ingusan, bukankah seharusnya kau tidak berada disini?" Sabrang mencari arah suara yang membuat telinganya sakit namun tidak berhasil menemukannya. "Kau bahkan lebih lemah dari Suliwa, berani sekali kau menggunakan kekuatanku!". Dia kembali mencari asal suara tetapi tetap tidak menemukannya.
"Aku tidak mengerti apa yang anda katakan, tapi jika aku boleh bertanya siapa anda sebenarnya" Sabrang bertanya pelan.
"Kau bahkan tidak mengenaliku, entah apa yang direncanakan tua bangka itu" suara tersebut meninggi membuat telinga Sabrang makin sakit. Belum sempat berfikir tiba tiba tubuh Sabrang diselimuti kobaran api yang sangat besar, namun anehnya Sabrang tidak merasakan panas sama sekali.
"Kau!!! Ternyata kau memiliki tubuh langka ini. Siapa kau sebenarnya?" Perlahan Kobaran api di tubuh Sabrang menghilang.
"Jadi ini rencana si tua bangka itu, baiklah kita liat apa yang bisa kau perbuat kelak bocah". Tiba tiba Sabrang tersadar, matanya terbuka. Dia merasakan sakit di hampir seluruh tubuhnya.
Sabrang mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tak lama pintu kamarnya terbuka dan seseorang masuk menatapnya dengan mata berkaca kaca.
"Kau sudah sadar nak" Sabrang mengangguk pelan. "Sudah berapa lama aku pingsan kek?".
"Empat hari" Jawab ki Ageng singkat, dia berjalan ke arah meja dan mengambil pil pemberian Wulan sari kemudian meminumkannya pada Sabrang. Ki Ageng menatap Sabrang lega, sudah empat hari dia terbaring tak sadarkan diri.
"Kek maafkan aku telah membuatmu khawatir". Sabrang memeluk kakeknya, ada perasaan lega dihatinya kembali bertemu dengan ki Ageng.
Ki ageng mengangguk dia memandang Sabrang lembut. "yang terpenting kau sudah sadar nak".
...................................................
Wijaya membuka matanya mendengar pintu kamarnya di ketuk. "Tuan Namaku Sastra wijaya, ku dengar tuan ingin bertemu denganku" terdengar suara dari luar. Wijaya membuka pintu kamarnya dan mempersilahka Sastra wijaya masuk. Wijaya mengeluarkan kotak kayu yang diberikan ki Laksono dan menyerahkan pada Sastra wijaya.
"Aku butuh bantuan anda tuan, guruku memberikan kotak ini untuk ditunjukan pada anda". Sastra wijaya mengangguk, dia mengenali kotak yang dibawa Wijaya.
"Tak perlu sungkan tuan, Apa yang bisa ku bantu". Sastra wijaya menawarkan bantuannya.
__ADS_1
"Aku sedang mencari seseorang, namanya Lembu sora. Dia seorang pedagang yang cukup terkenal pada saat itu. Dapatkah tuan mencarinya untuk ku?".
Sastra wijaya sedikit kaget mendengarnya, tak banyak orang yang ingin berurusan dengan Lembu sora terutama untuk saat ini. Sudah menjadi rahasia umum di Malwageni jika Lembu sora masih setia pada Arya Dwipa. Semua orang yang coba berhubungan dengan Lembu wijaya akan di cap penghianat Majasari.
"Jika aku boleh bertanya, ada perlu apa tuan mencarinya?" Sastra wijaya bertanya hati hati.
Wijaya tersenyum kecil, dia menyadari perubahan pada wajah Sastra wijaya. "Aku hanya ingin berkunjung tuan, dia adalah teman lama ku. Ku harap dia tidak melupakanku".
Sastra wijaya terlihat ragu sesaat, berhubungan dengan Lembu sora bukan pilihan bijak untuknya dan penginapan Jati agung. " Aku mohon maaf sebelumnya tuan, mungkin aku tidak dapat mengantar tuan ke kediaman Lembu sora. Tapi jika tuan bersikeras ingin bertemu dengannya, akan kuusahakan pelayanku mengantar tuan".
"Terima kasih tuan atas segala bantuannya dan maaf telah merepotkan" Wijaya menundukan kepalanya memberi hormat pada Sastra wijaya.
................................................
Sabrang melangkah cepat menuju Aula pertemuan Sekte Pedang Naga Api. Pagi ini dia diberitahu bahwa kakeknya ingin membicarakan sesuatu.
Masih terbayang diingatannya tentang mimpi sesaat sebelum dia sadar. Suara yang sangat memekakan telinganya. Sampai detik ini dia belum mengetahui dari mana asal suara itu. "Suara apa gerangan? Dan apa yang dia maksud dengan tubuh langka" gumam Sabrang.
"Nenek ada di sini?" Sapa Sabrang di balas anggukan dan senyum lembut oleh Wulan sari. "Kau sudah sehat nak?" Sabrang mengangguk pelan.
Sabrang mendengarkan dengan serius semua yang dibicarakan kakeknya dengan Wulan sari. Dia hanya mengangguk dan sesekali mengernyiktkan dahinya tak percaya. Dia benar benar tak habis pikir dengan apa yang dia dengar. Bagaimana mungkin kakeknya melarangnya menggunakan Pedang Naga Api dan Ilmu Api abadi secara bersamaan sementara waktu, sedangkan Sabrang sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempelajari Jurus Pedang Api Abadi.
"Jika kau memaksakan menggunakan Pedang Naga api dan api abadi secara bersamaan kau akan terluka seperti kemarin nak" Wulan sari menasehati.
"Tapi nek jika pemilik Pedang Naga Api pertama menciptakan Jurus Api Abadi sebagai pasangan Pedang Naga Api berarti dia bisa menggunakannya? Bukan kah aneh jika dia menciptakan sesuatu yang tidak bisa dia gunakan?". Sabrang masih tidak mengerti kenapa saat ini Pedang itu tidak dapat dipasangkan dengan Api Abadi.
Wulan sari mengangguk pelan "Kau benar nak, aku tidak pernah mengatakan tidak bisa digunakan bersama aku hanya memintamu tidak menggunakannya sementara waktu sampai kami mencari solusinya".
Wulan sari menatap ki Ageng yang sedari tadi hanya diam. Tatapan Wulan sari seolah meminta ki Ageng bicara. Ki Ageng menghela nafas panjang kemudian memejamkan matanya sesaat. Mulutnya terasa berat untuk mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Sabrang ada sesuatu yang ingin kakek katakan padamu. Dunia persilatan yang kita diami ini penuh dengan misteri. Ada yang masuk akal maupun di luar nalar kita".
Ki Ageng kembali terdiam seolah tak mampu bicara. Dia masih tak percaya jika harus mengatakan sesuatu yang menurutnya belum tentu ada.
"Ada sebuah legenda di Dunia persilatan, sebuah tempat yang menjadi pusat kekuatan dunia. Di tempat itulah konon ilmu kanuragan berasal. Sebuah tempat yang selalu tertutup kabut tebal, sebuah tempat yang paling berbahaya di dunia ini". Sabrang terlihat mengernyitkan dahi.
"Di tempat itulah konon sebuah kitab tenaga dalam yang mampu menyatukan Pedang Naga Api dan Ilmu Pedang Api Abadi berada. Tapi kakek pun tak mengetahui apakah tempat itu benar benar ada atau hanya karangan karena sampai detik ini tak pernah ada orang yang menemukannya".
"Aku percaya tempat itu ada kek" Sabrang memotong ki Ageng berbicara. Ki Ageng dan Wulan sari saling memandang heran.
"Apa maksudmu nak? Kenapa kau begitu yakin tempat itu ada?" Wulan sari menjadi penasaran mendengar jawaban Sabrang.
"Sebenarnya sebelum aku sadarkan diri aku bermimpi sesuatu nek" Sabrang menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Saat itu aku merasa berada di tempat yang sangat tinggi, sepanjang mataku memandang semua tertutup kabut. Tiba tiba ada yang berbicara padaku dengan suara lantang. Saat aku mencari arah suara itu tiba tiba tubuhku terbakar api".
Ki Ageng dan Wulansari sangat terkejut mendengar penjelasan Sabrang. Mereka kembali saling menatap tak percaya.
"Tetapi anehnya api itu tidak membakarku, tidak ada rasa panas sedikitpun. Apakah mungkin tempat berkabut itu adalah tempat yang kakek ceritakan".
"Nak jika ceritamu benar adanya berarti dia mulai ingin berkomunikasi denganmu. Tetapi apa yang membuatnya tertarik padamu?" Wulan sari memperhatikan setiap jengkal tubuh Sabrang heran.
"Dia?" Ki Ageng menoleh ke arah Wulan sari.
"Pedang Naga api konon adalah pusaka yang mempunyai jiwa didalamnya. Dia tak akan dengan mudah ditaklukan bahkan oleh pendekar terkuat sekalipun. Tapi kenapa seolah dia sangat mempermudah anak ini dalam menggunakannya". Wulan sari tetap tak bisa mencari jawabannya. "Sebenarnya apa yang ada didalam dirimu nak" Wulan sari berkata dalam hati.
"Nak aku sudah bicara pada gurumu, aku ingin membawamu ke lembah sukma ilang. Kakek gurumu juga ingin bicara padamu".
Sabrang menatap ki Ageng seolah meminta persetujuan darinya. Ki Ageng tersenyum dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Pergilah nak, ada tanggung jawab yang harus kau tanggung kelak. Sudah saatnya kau meninggalkan Sekte Pedang Naga Api".
Ada rasa sedih dan bersalah dalam hati Sabrang melihat kakeknya. Dia merasa ki Ageng tak rela melepasnya. Tak terasa air mata Sabrang mengalir dari kelopak matanya. Dia bangkit dan memeluk kakeknya, satu satunya keluarga yang dia miliki.