Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sekte Api dan Angin II


__ADS_3

Krisna mengajak kedua muridnya kesebuah air terjun yang berada tak jauh dari sektenya. Sepanjang perjalanan menuju Air terjun Pelangi mereka menemukan beberapa pendekar pilih tanding yang berjaga di setiap sudut tempat itu.


Ketatnya penjagaan disekitat air terjun pelangi bukan tanpa alasan. Di dekat air terjun itu terdapat sebuah gua yang hanya boleh dimasuki oleh ketua Sekte.


"Guru, bukankah ini terlarang bagi kami". Ucap Candrakurama gelisah. Ada aturan di sektenya bahwa siapa saja yang berani masuk gua pelangi akan dihukum mati.


"Aku yang mengajak kalian, bukankah ketua sekte boleh mengajak siapa saja masuk gua ini?".


"Ketua". Salah satu penjaga gua itu sedikit ragu mengijinkan Chandrakurama dan Mahawira masuk kegua itu.


"Tidak apa apa, mereka bersamaku". Ucap Krisna pelan.


Setelah itu mereka melangkah memasuki gua pelangi. Baru masuk beberapa langkah mereka sudah disambut oleh tekanan aura yang sangat besar, bahkan Candrakurama harus mengalirkan tenaga dalamnya keseleuruh tubuhnya untuk melepaskan dari tekanan aura itu.


Mereka berhenti disebuah ruangan yang penuh dengan gambar gambar aneh di dinding gua.


"Duduklah". Krisna meminta kedua muridnya untuk duduk disebuah batu yang ada ditengah ruangan.


"Saat suku Iblis petarung membangkitkan Banaspati, dunia persilatan begitu kacau. mereka membantai suku lainnya tanpa ampun, banyak sekte sekte atau suku hancur saat itu termasuk sekte Api dan Angin. Sisa sisa anggota sekte api dan angin yang selamat melarikan diri ke hutan Meratus ini. Hutan yang belum pernah terjamah oleh siapapun karena aura aneh yang seolah melindungi tempat ini. Setelah cukup lama tinggal dihutan ini, leluhur kita akhirnya menemukan tempat rahasia nan indah dibawah danau warna warni. Itulah kenapa keberadaan sekte kita berada di tempat terpencil ini". Ucap Krisna pelan.


Candrakurama sedikit terkejut mendengar ucapan gurunya. "Jadi kita semua dulunya berasal dari tanah Jawata guru?".


Krisna mengangguk pelan "Saat terjadi kekacauan di tanah Jawata itulah leluhur kita melarikan diri ketempat ini. Saat leluhur kita menemukan tempat ini semua sudah seperti ini, termasuk gua pelangi ini. Entah siapa yang membangun tempat semegah ini namun aku yakin tempat ini dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan yang berasal dari kitab Paraton atau bahkan mungkin yang membangun tempat inilah yang menulis Kitab paraton".


"Maksud guru kitab Paraton ditulis ditempat ini?". tanya Mahawira.


"Kemungkinan besar seperti itu". Krisna kemudian menunjukkan tulisan dan gambar yang ada disudut dinding gua. "Sampai saat ini kita tidak bisa membaca tulisan dan simbol aneh ini, kita tidak tau aksara apa yang mereka gunakan ini namun gambar kitab ini bentuknya hampir sama dengan kitab paraton". Krisna menunjuk gambar Kitab didinding gua. "Itulah kenapa gua ini hanya boleh dimasuki Ketua sekte. Sepertinya rahasia besar Paraton ada digua ini".


"Jadi itulah kenapa guru meminta kami membawa kitab paraton kesini?". Tanya Chandrakurama.


"Benar, kitab itu berisi semua Ilmu pengetahuan yang sangat maju selain berisi rahasia tentang Rahasia terbesar dunia dan Telaga khayangan api. Kitab ini lebih berbahaya dari kitab ilmu kanuragan apapun".


"Lalu yang satu itu kitab apa guru?". Mahawira menunjuk gambar satu kitab lagi yang berada tepat disebelah gambar kitab Paraton.


"Ini yang mau kubicarakan pada kalian". Krisna menarik nafas panjang sesaat sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Seperti yang guru katakan diawal tadi, kita belum bisa membaca tulisan ini namun jika dilihat dari gambar es yang menyelimuti kitab ini aku yakin saat ini kitab kedua itu tersembunyi di Sekte Tapak es utara".


"Sekte Tapak es utara?". Mahawira mengernyitkan dahinya.


"Sekte pimpinan Mantili, hanya mereka yang mempunyai ilmu elemen es. Tugas kalian kali ini akan sangat berat, selain karena Mantili merupakan salah satu pendekar terkuat dunia persilatan, hubungannya dengan pengguna Naga api akan membuat semuanya semakin rumit". Krisna menghela nafas panjang.


"Hubungan antara mereka?".


"Sejak tanda tanda kemunculan Para pendekar Langit merah kedunia persilatan semakin menguat puluhan tahun lalu, guru sudah menyelidiki dunia persilatan secara diam diam untuk menyelamatkan kitab Paraton. Salah satu yang guru temukan adalah Mantili masih memiliki hubungan darah dengan pengguna Naga api. Adiknya Mantili adalah ibu dari pengguna Naga api. Jika kalian membuat kekacauan di Sekte tapak es utara seperti yang kalian lakukan di Sekte kelelawar hijau aku yakin Pengguna Naga api tidak akan tinggal diam. Melawan pengguna energi Banaspati tidak akan mudah walaupun kau menggunakan pedang petir hitam sekalipun".


"Jadi apa yang harus kami lakukan guru?". Tanya Mahawira pelan.


"Aku ingin kalian menyelidiki keberadaan kitab itu di sekte Tapak es utara dan mengambilnya secara diam diam tanpa meninggalkan keributan.

__ADS_1


Satu purnama lagi aku dengar aliran putih akan mengadakan pertemuan besar di Tapak es utara utuk menyikapi hancurnya Sekte kekelawar hijau. Tempat itu akan penuh dengan tamu dari aliran putih, menyusuplah diantara para tamu itu untuk menyelidiki keberadaan kitab itu".


"Baik ketua". Jawab Mahawira.


Krisna mengernyitkan dahinya saat melihat Candrakurama hanya diam diam mematung.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu nak?".


"Ah tidak guru hanya saja apakah para pendekar langit merah akan benar benar muncul kembali kedunia persilatan?".


"Aku tidak tau namun peringatan peringatan di batu tulis yang ada digerbang masuk sekte sangat jelas mengatakan tentang tanda tanda akan munculnya kembali pendekar Langit merah untuk menuntut balas. Benar atau tidaknya peringatan itu kita harus mengantisipasinya".


***


"Hamba mohon menghadap Yang mulia". Suara Wardhana terdengar dari luar kamar Sabrang.


"Masuklah paman". Balas Sabrang dari dalam kamar.


Wardhana membuka pintu kamar dengan hati-hati, kemudian berlutut dihadapan Sabrang untuk memberi hormat.


"Bangunlah paman, apa ada hal penting sampai paman sendiri datang kekamarku?". Tanya Sabrang bingung.


"Mohon ampun Yang mulia, ada beberapa hal yang ingin hamba sampaikan". Jawab Wardhana pelan.


"Katakanlah paman".


"Beberapa hari lalu utusan dari Sekte Tapak Es utara datang untuk menyampaikan pesan pada anda Yang mulia. Tetua Mantili mengundang anda kepertemuan sekte aliran putih beberapa minggu lagi".


"Benar Yang mulia, sepertinya akan membahas hancurnya sekte Kelelawar hijau". Jawab Wardhana pelan.


Sabrang terlihat mengangguk sambil memejamkan matanya. Sabrang merasa dunia persilatan tak pernah damai walaupun Dieng dan Suku Iblis petarung telah dihancurkan.


"Apa paman punya perkiraan siapa yang menghancurkan sekte Kelelawar hijau?".


Wardhana menggeleng pelan "Hamba tidak tau Yang mulia namun hamba yakin ini ada hubungannya dengan Dieng".


"Hubungan dengan Dieng?".


"Maaf Yang mulia, Sekte kelelawar hijau adalah sekte kecil yang jarang mempunyai musuh. Hamba dengar kabar dari para teliksandi kita, Pendekar yang menghancurkan Kelelawar hijau membawa sebuah kitab dari sekte itu. Jika mereka mengincar kitab ilmu kanuragan, hamba rasa tidak mungkin jika pendekar sehebat mereka ingin memiliki ilmu rendah milik kelelawar hijau. Aku yakin ini ada hubungan dengan kedatangan tetua Bahadur ke Dieng tempo hari".


"Apa pelakunya suku Iblis petarung?".


"Hamba rasa kecil kemungkinannya Yang mulia, kami menjaga gerbang kedua Dieng saat itu dan tak ada yang berhasil melewati sampai Yang mulia datang".


"Apa ini ada hubungannya dengan Pusaka Megantara dan Telaga khayangan api ya?". Gumam Sabrang dalam hati.


"Jika tidak ada yang ingin anda Sampaikan lagi, hamba mohon undur diri Yang mulia". Wardhana menundukan kepalanya sebelum berjalan mundur dan melangkah keluar.

__ADS_1


"Tunggu paman". Cegah Sabrang pelan.


"Hamba Yang mulia". Wardhana menghentikan langkahnya.


"Bagaimana pendapat paman mengenai kehadiran Pancaka?".


Raut Wajah Wardhana sedikit berubah setelah mendengar pertanyaan Sabrang.


"Maaf Yang mulia, hamba tidak berani". Wardhana menundukan kepalanya.


"Paman tidak bisa berbohong padaku, aku sudah lama mengenal paman. Katakan saja paman, kau adalah orang kepercayaanku".


"Yang mulia.....". Wardhana terlihat ragu.


"Apa paman masih tidak ingin mengatakannya saat aku bertanya?".


"Yang mulia........". Ucap Wardhana dengan suara bergetar.


"Kalau begitu katakanlah paman, aku ingin mendengar pendapat paman". Sabrang tersenyum sambil menumpangkan wajahnya ditangan kanannya.


"Hamba merasa Pangeran Pancaka mempunyai maksud tersembunyi saat ini".


"Hmm Paman juga berfikir demikian ya?". Jawab Sabrang pelan.


"Benar Yang mulia, hamba sempat hampir terpancing saat keributan kemarin".


"Lalu menurut paman apa yang harus aku lakukan?".


"Maaf Yang mulia, hamba tidak berani memberi pendapat".


"Paman, aku akan pergi menghadiri undangan Bibi Mantili. Saat aku pergi selama beberapa lama aku ingin paman yang pegang kendali disini termasuk mengatur Pancaka. Jadi aku ingin mendengar rencana paman untuk mengendalikannya".


Wardhana terdiam mendengar tihah Rajanya itu, yang mau tidak mau harus dia ikuti.


"Jika Yang mulia mengijinkan hamba ingin menempatkan Pangeran Pancaka di resimen Angin selatan dibawah pengawasan Sora".


"Baik, lakukan paman. Selama aku pergi, aku serahkan tanggung jawab ini pada paman".


"Hamba menerima perintah Yang mulia".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Kaki


Dalam buku Babat Tanah Jawi Karangan Soedjipto Abimanyu disebutkan jika dulunya pulau Jawa bernama Sweta Dwipa atau Jawata. Jadi di Novel PNA saya beri Nama Jawata.


Sedangkan untuk Hutan Meratus adalah salah satu di Kalimatan yang masih banyak yang belum terjamah (Menurut salah satu Reader PNA dari Kalimantan bernama Chocholate Andry). Kalau teman teman ingin membayangkan letak Sekte Angin dan api bisa cari di Mbah google (Hutan Maratus).

__ADS_1


Terakhir terima kasih atas semua dukungannya selama ini.


Hari ini PNA akan Up 2 kali karena hari minggu....


__ADS_2