Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pasukan Tangan Besi


__ADS_3

"Beraninya kau melawan Majasari, Kau harus diberi pelajaran" Salah satu Prajurit menyabut pedangnya.


Pria setengah baya yang menghunuskan pedang tadi pun sudah siap merapal sebuah jurus.


"Hentikan! Sarungkan kembali pedangmu!". Seseorang memerintahkan prajurit tersebut mundur. Dia berjalan mendekati pria tersebut


" Maaf senior namaku Wikarta, aku adalah pemimpin Pasukan Tangan besi dari Majasari. Sepertinya terjadi salah paham sehingga senior begitu murka dengan kami". Wikarta mencoba meredam suasana, dia tidak ingin terlibat masalah selama menjalankan misinya.


"Kau tak usah banyak basa basi, hari ini aku akan menuntut balas atas apa yang kalian lakukan di desaku". Pria setenga baya tersebut masih menghunuskan pedangnya. Matanya memancarkan dendam yang sangat besar pada Majasari.


Sabrang masih mengamati situasi, diapun tidak ingin terlibat terlalu cepat dengan Majasari. Dia khawatir jika jati dirinya diketahui maka akan mempersulit gerak Wijaya menghimpun kekuatan.


"Sekali lagi aku atas nama pasukan tangan besi meminta maaf pada senior jika kami berbuat salah. Kami tidak ingin mencari keributan, kami hanya singgah sesaat untuk beristirahat". Wikarta masih mencoba meredam amarah pria tersebut.


"Aku tak butuh permintaan maafmu, darah harus dibalas darah!" Dia tiba tiba menyerang Wikarta tiba tiba.


Mendapat serangan mendadak Wikarta bergerak mundur menagkis serangan.


"Senior memaksaku bertindak tegas" Wikarta menggeleng pelan. Dia melesat maju menyerang pria tersebut. Serangan pedangnya dapat memaksa pria tersebut mundur beberapa langkah.


Kemampuan Wikarta yang setara pendekar menengah tingkat akhir dapat dengan mudah melumpuhkan pria tersebut.


Kini pedang Wikarta telah berada di leher pria tersebut. Pasukannya secara spontan mengepung pria tersebut.


"Aku sudah katakan pada anda untuk tidak bertindak terlalu jauh. Melawan prajurit Majasari sama saja melawan Yang mulia raja. Aku harus menghabisimu".


"Kau pikir aku takut? Bunuhlah aku, akan banyak muncul Segara bayu yang baru untuk melawan penindasan Majasari".


Wikarta menggeleng pelan, dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Tiba tiba sebuah Kendi melesat cepat ke arah pedangnya. Kekuatan lemparan kendi tersebut membuat Wikarta harus mundur beberapa langkah.


Wikarta menoleh ke arah kendi tersebut berasal. Sabrang terlihat tersenyum lembut menatap Wikarta.


"Apakah tuan pendekar ingin ikut campur urusan kami?" Wikarta memandang Sabrang dengan tatapan tajam.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian, aku hanya merasa mual jika harus makan dengan darah disekelilingku".


Sabrang mendengus kesal dalam hati, dia sebenarnya tidak ingin terlibat masalah ini namun dia tidak bisa diam saja kakek itu dibunuh dihadapannya.


Wikarta berjalan medekati Sabrang dan Mentari. Mentari menatap Sabrang yang tetap tenang menghadapi situasi yang mereka hadapi.

__ADS_1


"Apakah Pendekar berasal dari sini?" Wikarta mengamati Sabrang agak lama.


"Kami hanya pengembara biasa yang kebetulan lewat tuan" Sabrang menjawab tenang.


"Bukankah lebih baik jika tuan pendekar pura pura tidak melihat kejadian ini dan pergi ke kamar untuk beristirahat". Wikarta berbicara sedikit mengancam.


"Saya hanya ingin makan dengan tenang tuan. Namun jika tuan memaksa aku tidak punya pilihan lain".


Tangan Sabrang memegang pedangnya. Suhu udara disekitarnya mulai naik perlahan.


"Lepaskan dia" Wikarta memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan pria yang menyerangnya tadi.


"Tapi panglima".


Wikarta menoleh dan menatap tajam anak buahnya.


"Apa kalian tidak mendengar perintahku? Ini hanya salah paham saja lagipula kita harus melanjutkan perjalanan kita".


"Baik Panglima" Salah satu prajurit melepaskan pria tersebut.


"Maaf mengganggu pendekar" Wikarta menunduk memberi hormat. Matanya tertuju pada pedang yang ada digenggaman Sabrang.


"Ilmu apa yang digunakannya tadi".


..........................


Terima kasih pendekar atas bantuanmu". Segara bayu memberi hormat pada Sabrang. Sabrang hanya mengangguk kemudian mempersilahkan Segara bayu duduk.


"Nona tolong pesankan makanan untuk tetua Segara Bayu" Mentari mengangguk kemudian memesan makanan pada pelayan.


"Sepertinya tuan bukan orang sini, ada keperluan apa tuan di sini?" Segara membuka percakapan.


"Kami hanya singgah untuk beristirahat sebentar tetua" Sabrang menuangkan minuman untuk Segara bayu.


"Apakah mereka adalah prajurit Majasari?".


Segara bayu mengangguk "Aku sudah muak dengan mereka. Mereka selalu menindas siapapun yang mencoba melawan".


Sabrang dapat mengerti kemarahan Segara bayu karena akhir akhir ini Majasari lebih agresif terutama setelah riak riak perlawanan mulai muncul dari partai aliran putih.


"Dahulu saat Malwageni belum runtuh hidup kami aman tanpa penindasan. Yang mulia Raja tak pernah memaksakan kehendaknya". Segara bayu mulai mengingat kehidupannya saat Malwageni belum runtuh.

__ADS_1


Sabrang tertegun sesaat, ada rasa haru dalam dirinya mendengar masih banyak yang setia pada ayahnya. Ingin dia berterima kasih pada Segara namun dia memutuskan untuk tetap merahasiakan identitasnya.


"Tuan sebagai rasa terima kasihku ijinkan aku mengajak tuan pendekar singgah digubuk ku. Mungkin tidak sebesar penginapan ini namun aku yakin tuan akan merasa nyaman".


Sabrang terlihat berfikir sejenak, dia sebenarnya ingin beristirahat dipenginapan ini namun tidak tak kuasa menolak permintaan Segara bayu.


Dia menoleh ke arah Mentari meminta persetujuan, dan dibalas anggukan tanda setuju oleh Mentari.


Sabrang mengangguk setuju, terlihat wajah bahagia Segara bayu melihat Sabrang setuju atas permintaanya.


..............................


Wijaya terlihat mengernyitkan dahinya, dia menatap Lembu sora yang ada dihadapannya.


"Mereka mengirim Pasukan Tangan besi ke arah selatan? Apa sebenarnya yang mereka incar".


Lembu sora menggeleng pelan, dia juga tidak bisa memahami gerakan Majasari kali ini.


"Jika mereka melakukan persiapan menyerang kerajaan Saung galah bukankan pergi ke arah selatan mereka justru menjauh dari Saung Galah?"


"Pasukan tangan besi merupakan pasukan tempur elit yang dimiliki mereka, pasti ada yang mereka rencanakan" Wijaya masih belum bisa memahami pergerakan Majasari kali ini.


"Maaf tuan patih, jika terus ke arah selatan setelah melewati perbatasan aliran hitam bukankah itu adalah Kadipaten Wanajaya? Wilayah terluar Saung galah" Lembu sora memberikan analisnya.


Wajah Wijaya berubah seketika menyadari sesuatu "Sial! Aku terlalu fokus pada Keraton Saung galah. Mereka ingin menggerogoti wilayah Saung galah perlahan sampai waktunya tiba mereka menyerang".


"Taktik perang ini adalah ciri khas Tunggul umbara, dia selalu menghindari perang terbuka jika tidak terpaksa dan lebih memilih menggerogoti musuh dari dalam. Aku harus segera pergi ke Keraton Saung Galah menghadap yang Mulia. Kau segera hubungi orang terdekat kita disana untuk memperingatkan Kadipaten Wanajaya bahwa Pasukan Tangan besi bergerak kesana".


"Baik tuan Patih, tapi..... " Lembu sora berhenti sesaat membuat Wijaya penasaran.


"Lanjutkan kakang, saat ini kita butuh seluruh informasi yang dapat digunakan untuk menghadapi Majasari".


"Maaf tuan patih hamba mendapat kabar dari Wardana jika Pangeran Sabrang ada di wilayah aliran hitam dekat Kadipaten Wanajaya".


Wijaya tersentak kaget mendengar perkataan Lembu sora


"Perintahkan Wardana untuk segera menjauhkan Pangeran dari Kadipaten Wanajaya, aku tidak mau ambil resiko untuk keselamatan Pangeran."


"Baik tuan Patih akan segera hamba Laksanakan".


Wijaya memejamkan matanya kemudian mengambil nafas panjang

__ADS_1


"Taktik perangmu memang setingkat diatas ku Tunggul umbara, namun kali ini aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi". Wijaya mengepalkan tangannya.


__ADS_2