Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Naga Api vs Rabing


__ADS_3

Sabrang tiba tiba muncul disebuah ruangan yang cukup besar, tubuhnya tampak melayang di udara dan terkurung oleh gelembung air.


"Jadi aku benar benar terkurung ditempat ini?" ucapnya lirih, wajah sedih Mentari dan orang orang terdekatnya langsung terbayang dalam pikirannya.


"Pada akhirnya tak ada yang bisa aku rubah... sangat menyedihkan..."


"Selamat datang di tempat barumu, kau akan tinggal selamanya disini," ucap Rabing sambil tertawa mengejek.


"Apa kau pikir Naga Api akan diam saja? suatu saat dia akan menemukan tuan baru yang jauh lebih kuat dariku dan mencarimu. Iblis lemah sepertimu yang menggunakan cara licik tak akan mampu menandingi kekuatannya," jawab Sabrang cepat.


"Jika kelak dia mencariku, maka yang akan dihadapinya adalah tubuhmu, apa kau pikir dia bisa melukai tubuhmu? Aku mengakui Naga Api adalah iblis terkuat yang tercipta dari batu Satam tapi sejak dia memiliki perasaan, kekuatannya sudah jauh berkurang dan aku tak akan takut pada iblis seperti itu," balas Rabing.


"Kau!" Sabrang berusaha merobek gelembung air itu dengan tangannya.


"Percuma, kau tak akan pernah bisa merusak gelembung air milikku sampai kapanpun, daripada melakukan hal sia sia seperti itu, sebaiknya kau cepat membiasakan diri dengan tempat ini," ucap Rabing terkekeh sebelum memejamkan matanya untuk keluar dari dimensinya.


Namun Rabing dibuat terkejut saat dia tidak bisa keluar dari ruang dimensinya, beberapa kali dia mencoba tapi hasilnya sama, dia tetap berada di ruangan itu.


"Tidak mungkin... apa yang sebenarnya sedang terjadi, kenapa aku tidak bisa keluar dari ruang dimensi milikku sendiri?" ucapnya panik.


Sabrang yang melihat tingkah Rabing juga tampak bingung, dia merasakan energi aneh yang sepertinya dia kenal menahan Iblis itu keluar.


"Apa yang kau lakukan padaku?" teriak Rabing sambil menatap tajam Sabrang.


"Apa yang kulakukan? kau pikir apa yang bisa dilakukan orang yang terkurung di gelembung sialan ini?" balas Sabrang cepat.


"Jika bukan kau pelakunya, lalu siapa yang..." belum selesai Rabing bicara, sesosok tubuh tiba tiba muncul di dekat Sabrang sambil tersenyum.


"Kau bukan hanya lemah tapi juga bodoh, apa kau masih belum sadar jika saat ini berada di dimensiku?" ucap pria itu pelan.


"Eyang Wesi?" ucap Sabrang terkejut.


"Kau beruntung nak, aku masih menyisakan sedikit energi milikku di tubuhmu karena aku masih berharap suatu saat kau menjadi tuanku," balas Eyang Wesi Megantara sambil menyentuh gelembung air itu.


Gelembung air itu tiba tiba bergetar karena tekanan energi Eyang Wesi sebelum hancur dan kembali menjadi air.


"Megantara? jadi energi yang kemarin menyelamatkannya..." ucap Rabing terkejut.


"Apa kau pikir aku akan diam saja melihat Iblis sepertimu merebut tubuh pendekar yang aku kagumi? Jika Naga api saja kuanggap tak pantas mengikutinya apalagi dirimu," balas Eyang Wesi sinis.


"Tidak mungkin... bagaimana bisa aku berada di dimensi milikmu? Aku yakin tadi membawanya ke dimensiku..." Rabing mulai panik, dia sadar seberapa kuat ruh pedang yang ada dihadapannya.


"Kelemahan terbesarmu dari dulu terlalu percaya dengan kekuatan mustika air, Naga api mungkin tidak bisa merasakan energi milikmu karena disamarkan oleh mustika itu tapi kau lupa jika aku adalah Megantara.


"Aku bahkan sudah merasakan kehadiranmu sejak berada di Gua cahaya surga, tapi aku memilih diam dan menyusun rencana karena aku tau kau adalah iblis yang licik. Saat kau memasukkan mustika air kedalam tubuhnya, aku diam diam memanfaatkan energi mustika itu untuk membuka ruang dimensi dan rasa percaya diri yang sangat tinggi membuatmu tidak menyadari jika ruang dimensi yang kau masuki adalah milikku," lengan Eyang Wesi tampak masuk kedalam tubuh Sabrang dan mengambil sebuah pisau air sebelum memasukkannya kedalam tubuhnya sendiri.


"Sekarang mustika air sudah berada di dalam tubuhku, bagaimana jika kau mencoba mengambil alih kesadaranku?" ejek Eyang Wesi.


"Kau!" Rabing tampak berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


"Sepertinya situasi berbalik dengan sangat cepat, akan sangat menarik melihat apa yang akan kau lakukan untuk menghadapi Eyang Wesi," ucap Sabrang pelan.


"Sayangnya kekuatanku masih tersegel walau sangat ingin menghancurkannya, aku hanya mampu membuka ruang dimensi, sisanya kuserahkan padamu Naga Api," Tubuh Mentari yang diselimuti kobaran api tiba tiba muncul di udara.


"Megantara? kau?" Naga api tampak terkejut saat melihat pusaka terkuat itu berada di dekat Sabrang.


"Saat ini kalian sedang berada di dimensi milikku, apa kau tidak ingin menyapa teman lama?" ucap Eyang Wesi sambil menunjuk Rabing yang masih mematung dihadapan mereka.


"Begitu ya... jadi lorong dimensi tadi milikmu dan saat ini dia terjebak di sini?" jawab Naga Api sinis, dia memejamkan matanya perlahan sebelum keluar dari tubuh Mentari membentuk sesosok tubuh berkepala Naga.


Mentari tampak berteriak kesakitan sebelum tubuhnya roboh, Sabrang langsung bergerak dan menyambar gadis itu.


"Kembalilah ke tubuhmu karena sepertinya Anom sedang kesulitan di luar sana, biarkan aku bermain main dengan Iblis sialan ini," sebilah pedang terbentuk di tangan Naga Api.


Sabrang mengangguk pelan sambil menggendong tubuh Mentari, "Eyang Wesi, terima kasih, sekali lagi aku berhutang padamu," ucap Sabrang sebelum sebuah lorong dimensi terbuka dan menghisap tubuhnya.


"Jika merasa berhutang padaku, suatu saat kau harus menjadi tuanku," jawab Eyang Wesi pelan.


Rabing tiba tiba bergerak saat melihat lorong dimensi Eyang Wesi terbuka, dia berusaha keluar dari tempat itu bersama Sabrang namun sebuah dinding api terbentuk dihadapannya.


"Aku pikir dinding api ini bisa menghalangi aku?" gelembung air besar terbentuk dan langsung melindungi tubuhnya. "Sudah aku katakan padamu, api tak akan mungkin bisa mengalahkan air," Rabing menerobos dinding api itu sebelum tubuhnya terlempar cukup jauh kebelakang.


"Ini?" ucapnya terkejut sambil menahan rasa panas di seluruh tubuhnya.


"Kau mungkin benar jika aku tidak akan bisa menang melawan air tapi kau lupa, air akan menguap dan menghilang jika suhu udara sangat panas. Aku hanya perlu memanaskan ruangan ini dan menunggu gelembung gelembung itu menghilang untuk melumpuhkanmu," tubuh Naga Api seolah membelah diri dan dalam sekejap ada lima Naga Api yang mengelilingi Rabing.


"Mari kita liat sampai sampai mana gelembung gelembung itu bertahan dari panasnya api abadi milikku," kelima tubuh Naga api menyerang bersamaan, kobaran api yang meluap dari tubuhnya membuat ruang dimensi milik Eyang Wesi menjadi sangat panas.


Gelembung gelembung udara terus bermunculan di udara dan menangkis setiap serangan Naga Api, wajah Rabing menjadi buruk saat melihat salah satu bayangan Naga Api yang menghilang terkena jurus airnya tiba tiba muncul kembali dengan tubuh baru.


Walau pertahanan Rabing terlihat sempurna namum perlahan gelembung gelembung air itu semakin cepat menghilang karena menguap oleh hawa panas yang meluap dari kelima tubuh Naga Api.


Ledakan ledakan besar dan gesekan dua kekuatan besar terus berputar di ruangan itu, hawa panas dan dingin terlihat saling menekan.


"Kekuatannya jauh lebih lemah dari pertempuran kami sebelumnya, apa sebenarnya yang terjadi padanya?" ucap Naga Api heran, dia masih ingat betul bagaimana kuatnya Rabing saat bertarung di puncak Suroloyo.


Saat Itu Naga Api bahkan hampir kalah andai tidak menggabungkan kekuatannya dengan Sanjaya, tapi kini Rabing terlihat jauh lebih lemah seperti ada sesuatu yang menahan kekuatannya.


Naga Api memang terlihat sedikit lebih unggul kali ini, gerakannya semakin cepat karena berhasil menarik separuh kekuatannya. Berada di dalam dimensi Eyang Wesi membuatnya leluasa menggunakan energinya tanpa takut Sabrang terluka.


"Badai Api Neraka," Naga Api menghindar di detik terakhir saat sabetan pedang Air hampir mengenai tubuhnya, dia berputar sebentar di udara dan melepaskan energi api yang sangat besar.


Di saat bersamaan, empat tubuhnya yang lain juga melepaskan jurus Badai Api Neraka dari berbagai sisi untuk mengurung Rabing.


"Sial! andai mustika air milikku tidak diambil Megantara, mungkin aku bisa sedikit mengimbanginya," umpat Rabing kesal, dia menggunakan hampir seluruh energinya untuk membentuk perisai air di sekitarnya.


"Kau melakukan hal yang sia sia, perisai airmu akan terus menguap dihadapan api Abadi," salah satu tubuh Naga Api mendekat dengan cepat memaksa Rabing memutar dan menguatkan perisai di bagian belakang tubuhnya.


Saat energinya terkonsentrasi disalah satu titik, perisai air bagian depan menguap dengan cepat dan membuat celah pertahanan terbuka.

__ADS_1


Naga Api tidak menyianyiakan kesempatan itu, dia masuk dengan cepat dan menebaskan pedangnya sekuat tenaga.


"Tanpa mustika air, kau tak akan bisa bersembunyi lagi, kau selalu mengatakan jika air adalah musuh alami untukku begitu juga sebaliknya," tebasan pedang Naga Api membuat tubuh Rabing terlempar beberapa langkah.


"Aku harusnya jauh lebih kuat darimu, bagaimana kau bisa mengalahkan aku dengan begitu mudah?" Rabing memegang kepalanya dan menjerit sekencang kencangnya.


"Saatnya menyegelnya," Eyang Wesi tiba tiba muncul didekat Rabing dan mendekap tubuhnya.


Namun saat dia sedang merapal sebuah segel, Tubuh Rabing mencair dan menghilang seketika.


"Sial, dia memanfaatkan celah lubang dimensi yang muncul karena energiku melemah," umpat Eyang Wesi kesal.


"Biarkan saja, toh dia sekarang bukan lawan yang harus ditakuti," jawab Naga Api cepat.


"Kau salah, kekuatan Rabing seharusnya hampir sama dengan kita, hal yang membuat dia melemah adalah lama terkubur dan belum memiliki tuan. Jika dia menemukan tuan yang kuat maka kau dalam masalah, tapi setidaknya untuk saat ini dia tidak akan bisa mengambil alih tubuh anak ini karena pusaka air ada padaku," jawab Eyang Wesi pelan.


***


"Tantri, menghindar!" teriak Gendis sambil bergerak kearah gadis itu dan menangkis serangan yang hampir memenggal kepala Tantri.


Serangan pisau pisau terbang milik Gendis memaksa pendekar Lembayung menghindar dan memberi waktu Tantri mengatur nafasnya.


"Terima kasih," ucap Tantri lega sambil menoleh kearah tubuh Sabrang dan Mentari.


"Kita harus cepat mencari cara membawa pergi tubuh Sabrang karena tak mudah bertarung dengan mereka sambil melindungi tubuhnya," suara Siren terdengar dalam pikiran Tantri.


"Aku sudah berusaha nona, tapi ilmu kanuragan mereka sangat tinggi," jawab Tantri sebelum menyambut kembali serangan para pendekar itu, terlihat tongkat cahaya putih kembali mengeluarkan auranya sambil berputar di atas kepala Tantri.


Tantri dan Gendis memang bertarung sambil melindungi tubuh Sabrang dan Mentari, sedangkan Elang mencoba menahan Brama bersama Anom.


"Jangan biarkan mereka menyentuh tubuh Yang mulia dan Nyonya selir," suara ledakan kembali terdengar saat Tongkat cahaya putih berbenturan dengan pedang para pendekar Lembayung. Tantri terlihat memutar tubuhnya dan berusaha keras menjauhkan mereka dari tubuh Mentari.


"Gendis!" teriak Tantri saat bergerak maju dan tanpa menunggu Lama mereka berpindah posisi, Gendis langsung mundur untuk menjaga tubuh Mentari sambil melempar pisau pisaunya kearah pendekar yang mencoba mendekatinya.


"Kami tak akan bisa bertahan jika terus seperti ini," Gendis tersentak kaget saat menoleh kearah Elang, pemuda itu terlihat terdesak sebelum Brama berhasil menebas tubuhnya, beruntung Anom muncul tepat waktu dan melindungi tubuh pemuda itu.


"Dia benar benar kuat," Elang yang berusaha menjaga jarak, tak mampu berbuat apa apa ketika Brama muncul dihadapannya, dia memutar pedangnya dengan cepat dan mengayunkan ke leher pemuda itu.


"Sial, tenagaku sudah habis," umpat Elang sambil mencoba melepaskan diri.


"Elang!" Wicaksana yang juga melihat Elang dalam bahaya mencoba membantu tapi gerakannya terhenti saat lawannya dengan cepat menghadang.


"Tamat riwayatmu," tepat sebelum pedangnya mengenai leher Elang, hembusan angin menyentuh tubuh Brama.


"Jurus pedang pemusnah raga," Brama sempat mendengar suara seseorang saat tubuhnya terlempar cukup jauh.


Elang yang ikut terlempar sempat melihat seseorang yang dikenalinya berdiri dengan pedang di tangan kanannya.


"Terima kasih sudah menjaga tubuhku," ucap Sabrang sambil menarik Anom masuk kedalam tubuhnya.

__ADS_1


"Yang mulia...Syukurlah," Tantri tampak lega saat melihat Sabrang sudah sadarkan diri.


"Kemampuan kalian cukup menarik, ayo kita hancurkan mereka," ucap Mentari pelan sebelum membentuk pedang es ditangannya dan bergerak menyerang.


__ADS_2